KIAMAT MASIH LAMA
Beberapa hari setelah Dimas pulang namun ditolak sang istri saat minta rujuk, Yuni sudah kembali bersiap bekerja. Namun langkahnya terhenti saat mendapati sebuah kertas di tangga bawah paling terakhir. Yuni mengambilnya, dan tangannya pun sama seperti tangan Umar yang gemetar hebat di kamar bawah. Umar mendapati surat itu di atas sajadah saat ia hendak salat subuh.
“Semula, setelah kaki Arni pincang, Arni kira mampu menghadang badai kiamat di rumah tangga Ayah dan Ibu. Arni menyangka kalian akan kasihan sama Arni. Tapi ternyata Arni salah. Jika memang perceraian bisa membuat Ayah dan Ibu bahagia, Arni juga turut bahagia.
Oh ya. Arni sudah lebih dari dewasa kok. Usia Arni hampir 40 tahun. Mulai hari ini, kita hidup masing-masing saja. Arni tak mau ikut siapa-siapa karena itu akan menyakiti salah satu dari kalian. Arni pamit pergi lebih dulu. Tidak usah dicari. Salam, dari putri kalian ; Arni Nurhalida.”
Dengan wajah yang paling cemas, Umar melempar kertas itu, membetot gagang pintu, dan segera keluar kamar. Namun di luar dia berpapasan dengan Yuni yang kembali terhenti saat beradu pandang dengan suaminya. Umar mendapati Yuni masih memegang surat yang ia yakini juga dari Arni. Sejenak mereka tak bersuara, tapi langkah dan rasa cemas mereka menuju ke satu arah; kamar Arni.
Yuni lebih dulu membuka kamar Arni yang senyap, tapi Umar yang segera menerobos masuk. Tak ada siapa-siapa, Arni benar-benar telah pergi. Pandangan Umar dan Yuni terhenti pada sebuah meja rias, di sana terkumpul sejumlah uang, ATM, juga perhiasan-perhiasan berharga yang pernah dibelikan Umar dan Yuni. Juga ponsel Arni.
“Arniii!” Umar sangat panik.
Dia segera keluar lagi, nyaris menyenggol Yuni yang masih mengenakan pakaian kerjanya. Yuni mendengar Umar membuka pintu depan, Yuni mengikuti. Umar menoleh sejenak ke garasi, motor Arni masih ada. Lalu kemana dia?
“Arniiii!”
Umar menduga Arni sembunyi di rumah Farhan. Dia segera ke gerbang sambil berteriak-teriak, tak lama kemudian Farhan dan Nisa keluar, juga Zulfan. Yuni yang menyusul lantaran penasaran, mendadak berhenti, lalu perlahan mundur kembali saat melihat Umar sudah dilingkung keluarga Farhan. Yuni segera masuk rumah, dan saat dia kembali keluar, Umar menoleh dengan tatapan agak lama. Tak hanya Umar, Nisa, Farhan, dan Zulfan juga memandanginya dengan senyum singkat meski ikut panik. Pasalnya saat Farhan hendak masjid subuh tadi, dia dikagetkan dengan keberadaan kursi roda yang pernah ia belikan untuk Arni, teronggok di depan gerbang rumah. Umar semakin sedih, karena dia merasa Arni sedang mengembalikan semua pemberian dan itu membuatnya kian khawatir, Arni ingin akan pergi ke tempat yang sangat jauh.
Sementara itu, sembari mengelap air mata dengan hijab panjang yang melapisi daster lengan panjang yang baru ia pakai menggantikan baju kerjanya, Yuni langsung menangis di pelukan Nisa. Dia mencari Rehan berharap ada komunikasi antara ia dan Arni, tapi Rehan sedang menginap di rumah sepupunya di perumahan sebelah. Umar memohon bantuan, karena dia takut Arni melakukan hal-hal nekat dan bernasib sama seperti almarhumah kakak perempuannya.
Keluarga Farhan sempat kaget mendengar nama Agni disebut, karena mereka sama sekali tak pernah mendengarnya. Farhan memberi isyarat mata agar Nisa tak banyak bertanya soal selain Arni. Farhan hendak meminta Zulfan memeriksa CCTV, saat mendadak Umar sempoyongan dan mulai berkeringat dingin. Umar nyaris jatuh jika saja Yuni tidak segera meraih tangan dan memeluknya. Farhan segera membantu Umar berdiri.
“Pak Umar, istirahat dulu ya di rumah saya.”
“Nggak, Pak. Makasih. Saya harus cari Arni.”