Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Sultan Hadiwijoyo tampil dengan keagungan yang menggetarkan. Beliau mengenakan kuluk (topi kebesaran) berwarna hitam dengan hiasan emas murni di pucuknya. Jubah sutranya berwarna ungu tua dengan sulaman benang emas motif parang rusak, melambangkan kekuasaan yang tak terhentikan. Suaranya bariton, tenang namun setiap patah katanya mengandung wibawa yang membuat para adipati tertunduk khidmat.
Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan–kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman—seekor gajah raksasa dengan gading yang dibalut selongsong perak runcing. Tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret, sebuah mata tombak legendaris yang nampak haus darah, dengan luk mengkilap dan pamor yang nampak seperti urat-urat nadi yang berdenyut.
Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti:
Ki Ageng Pemanahan: Mengenakan pakaian beskap hitam sederhana namun berbahan kain halus, ikat kepalanya bermotif kawung. Beliau jarang bicara, namun tatapannya tajam menembus jantung lawan. Senjatanya adalah sebuah keris luk sebelas dengan hulu dari kayu cendana.
Ki Juru Mertani: Sang otak strategi. Mengenakan jubah putih layaknya seorang ulama sekaligus resi, dengan sorban yang tertata rapi. Ia tidak membawa senjata tajam yang terlihat, namun di pinggangnya terselip sebuah tongkat pendek dari kayu stigi yang konon sanggup memukul mundur jin dan setan.
Tumenggung Cokroyudo & Gagak Seta: Mengenakan zirah kulit kerbau yang diperkeras, dengan pelindung lengan dari tembaga. Gagak Seta membawa pedang panjang yang berat, sementara Cokroyudo ahli dalam memainkan gada besi.
Prajurit Pajang melangkah dengan semangat yang tinggi. Mereka berjalan ke arah utara. Rombongan besar itu laksana ular naga yang meliuk–liukan tubuhnya. Sementara umbul–umbul dan rontek yang dipegang oleh prajurit Pajang sebagai tanda kebesaran berkibar dengan gagah tertiup angin. Suara langkah kaki empat puluh ribu prajurit itu menciptakan getaran konsisten di permukaan tanah, seolah-olah bumi Jawa sedang berdetak mengikuti kemauan Pajang.
Sultan memerintahkan untuk beristirahat di daerah Sumber Lawang akhirnya diambil keputusan Sedayu akan jadi sasaran penyerbuan pertama, setelah melewati Purwodadi bala tentara Pajang menyerbu kadipaten Sedayu. Sedayu dikepung jadi empat jurusan, para panglima Pajang tidak kesulitan menundukkan musuh–musuhnya. Sedayu dengan mudah dapat ditakhlukan. Pajang kehilangan empat ratus prajurit. Dan nampaknya semangat tempur mereka semakin berkobar–kobar.
Malam itu juga Sultan memerintahkan bala tentaranya menuju Gresik. Pajurit-prajurit Pajang menyerbu Gresik. Prajurit-prajurit Pajang menyergap Gresik saat tidur lelap. Suasana malam yang sunyi pecah oleh teriakan "Allahu Akbar!" dan "Pajang Jaya!".
Pedang-pedang melengkung prajurit Pajang berkilauan di bawah cahaya bulan, menebas leher-leher penjaga benteng yang masih mengantuk. Prajurit Gresik kocar-kacir, benteng pertahanannya dibakar—api membubung tinggi menciptakan siluet hitam di langit malam yang kelam.
Dan setelah Gresik bertekuk lutut, menyusul Pasuruan kemudian Kadipaten Tuban. Tuban ternyata mengadakan perlawanan yang sengit, Pajang mendapatkan lawan yang berat. Tembok Tuban kokoh, dan para pemanahnya sangat jitu. Tetapi, setelah adipati Tuban dapat dibunuh oleh tumenggung Cokroyudo—lewat sebuah duel maut di mana gada Cokroyudo menghancurkan tameng sang Adipati hingga berkeping-keping—akhirnya Tuban menyerah. Pajang terpaksa kehilangan tujuh ratus prajuritnya sebagai banten kemenangan melawan kota pesisir itu.
Pagi hari yang cerah tentara Pajang kembali berjalan menuju Wirosobo. Ternyata Wirosobo sudah berteriak menyerah sebelum pasukan Pajang menggempur. Rupanya mereka mendengar bala tentara Pajang yang gagah berani dan menyerbu bagaikan air bah. Setelah Wirosobo giliran Kediri. Kali ini pun Sultan tidak mengalami kesulitan. Kediri dapat ditakhlukan. Pada saat melawan Kediri bala tentara Pajang sudah berkurang dua ribu orang. Mereka yang gugur dikubur di perjalanan. Adapun para prajurit yang terluka diangkut menggunakan tandu. Giliran selanjutnya kabupaten Ponorogo.
Di Ponorogo Sultan kehilangan salah satu panglima perangnya. Tumenggung Gagak Seta gugur tubuhnya penuh luka arang kranjang. Adegan ini memilukan; Gagak Seta terkepung di tengah alun-alun, ia mengayunkan pedang besarnya dengan sisa tenaga terakhir, membelah dada lawan-lawannya, namun hujanan tombak dari pendekar-pendekar Ponorogo akhirnya merobek zirah dan dagingnya. Panglima yang gagah berani itu tidak mampu bertahan dari keroyokan para pendekar Ponorogo. Sultan terpukul, sedih dan murka. Matanya memerah, kilatan amarah terpancar dari balik tatapannya yang biasanya tenang. Malam itu juga Sultan Hadiwijoyo memerintahkan pasukannya menggempur Madiun dari sebelah barat bengawan.
Sebelum matahari terbit telah terdengar suara bende (gong kecil) yang melengking bersahutan dengan suara sangkakala, mengumandang di seluruh kota Madiun. Suara itu kering dan mencekam, memicu adrenalin setiap orang yang mendengarnya. Dengan demikian, maka semua prajurit yang ada di dalam kota pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Pasukan yang kuat telah bergerak menuju ke pintu gerbang utama. Sebagian dari mereka telah bersiap-siap di atas dinding benteng. Mereka telah menyediakan anak panah dengan ujung yang dibalut kain berapi dan tombak yang tidak terhitung jumlahnya.
Sementara itu di setiap pintu gerbang yang lain pun telah bersiap pula prajurit Madiun yang akan mempertahankan setiap jengkal tanah yang mungkin akan direbut oleh orang-orang Pajang. Ketika langit menjadi terang, maka pasukan Pajang pun mulai bergerak pula. Sebagaimana dilakukan di hari sebelumnya, pasukan Pajang telah memasang semua tanda kebesarannya. Dengan pertanda dan kelengkapan semua pasukan yang ikut dalam persiapan perebutan kota itu, pasukan Pajang maju mendekati pintu gerbang.
Bukan saja pintu gerbang utama, tetapi semua pintu gerbang. Kepungan pasukan Pajang pun menyempit, dan pasukan itu telah berusaha untuk mengamati setiap jengkal, agar tidak seorang pun dari para prajurit Madiun yang akan dapat melarikan diri keluar dari kepungan. Demikianlah, ketika matahari kemudian terbit di ujung timur, membiaskan cahaya jingga pada permukaan sungai dan senjata-senjata baja, maka isyarat untuk bertempur dari kedua belah pihak pun mulai terdengar. Pasukan di kedua belah pihak pada isyarat yang pertama telah menempatkan diri di tempat yang telah ditentukan.
Para pemimpin kelompok meneliti setiap orang di dalam pasukannya serta semua kelengkapan yang akan dipergunakan. Pada isyarat yang kedua, semua pasukan telah siap untuk bertempur. Senjata mereka telah teracu. Setiap busur telah menyandang anak panah pertama yang akan dilepaskan segera, jika pasukan kedua belah pihak sudah berbenturan.
Dan pada isyarat yang ketiga, maka pasukan Pajang yang telah mempersempit kepungannya itu pun mulai melancarkan serangannya. Beberapa orang di antara mereka membawa tangga yang akan mereka pergunakan untuk memanjat dinding. Sementara itu, beberapa puluh orang telah mengusung sebatang balok yang besar dan panjang dari kayu jati utuh yang ujungnya dilapisi besi tumpul. Sedangkan beberapa orang kawannya berusaha melindungi mereka dari hujan anak panah yang kemudian meluncur dari setiap busur prajurit Madiun yang ada di atas pintu gerbang.
Tombak pun kemudian dilontarkan pula dengan sepenuh tenaga. Namun beberapa puluh perisai kayu yang dilapisi kulit kerbau menjadi payung yang rapat di atas kepala prajurit Pajang. Bunyi “trak.. trak.. jlar!” terdengar saat ujung tombak membentur perisai. Pertempuran di gerbang utama pun segera menjadi sengit. Anak panah meluncur dari dua arah. Dari bawah yang dilontarkan oleh selapis prajurit Pajang, dan dari atas dinding yang diluncurkan oleh para prajurit Madiun, disertai dengan tombak dan bahkan batu sebesar kepalan tangan yang dilontarkan dengan sekuat tenaga, menghantam siapa saja yang kurang waspada hingga tersungkur dengan kepala pecah.
Di tempat-tempat lain pertempuran telah terjadi. Tetapi tidak seganas dan sesengit pertempuran yang terjadi di gerbang utama. Di satu sisi, pasukan Pajang telah menyerang sebuah pintu gerbang samping. Para prajurit Pajang telah mengerahkan segenap kemampuannya dipimpin oleh Ngabehi Wilomerto. Bala tentara Madiun mencoba melawan gempuran tentara Pajang.
Ada seorang wiratamtama Pajang bernama Sukma Aji. Disamping berani ia juga merupakan pendekar yang bilih tanding. Sukma Aji memiliki perawakan raksasa, dadanya bidang dengan urat-urat lengan yang menonjol seperti akar pohon tua. Ia mengenakan celana komprong hitam dengan sabuk kulit lebar yang menampakkan kekuatan otot perutnya. Ki Juru Mertani melambaikan tangan ke arah lelaki berbadan tegap dan kekar itu.
“Sukmo Aji….! “ Suara Ki Juru tetap tenang meski di tengah bisingnya perang.
“ Iya Ki Juru… “ Jawab Sukmo Aji dengan suara yang dalam.