Kidung Di Atas Tanah Jawa

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #2

Pasewakan Agung di Istana Pajang

Setelah beberapa hari pulang dari medan perang dan beristirahat. Pagi itu Sultan Hadiwijoyo mengumpulkan para punggawanya di balairung istana Pajang. Mereka sudah nampak segar kembali, mengenakan pakaian kebesaran keraton—beskap beludru dengan bordir emas dan kain batik motif parang. Duduk bersila dengan tertib di atas lantai pualam sesuai dengan pangkat dan jabatannya masing–masing. Sementara Sultan Hadiwijoyo duduk di atas dampar kencana (kursi tahta emas), memancarkan aura seorang raja diraja.

“ Sekali lagi kita bersyukur dihadapan yang maha kuasa karena kita sudah diberi keberhasilan meraih kemenangan demi kemenangan dalam perang yang panjang dan begitu melelahkan. Memang korban cukup banyak tapi seperti kata pepatah jer basuki mawa bea. Tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Bagi mereka yang berjasa aku berkenan memberikan anugerah yang sepadan. Dan bagi mereka yang berlaku dusta di dalam perang, bagi mereka yang tidak setia dan berkhianat. aku juga sudah siap memberikan hukuman yang setimpal"

Sultan berhenti sejenak, pandangan matanya menyapu seluruh ruangan dengan tajam dan berwibawa. Memandangi wajah–wajah para punggawa kerajaan kepercayaannya. Suasana hening sejenak, hanya suara desis angin yang masuk melalui jendela keraton. Kemudian Sultan Hadiwijoyo berpaling ke arah Ki Ageng Pemanahan.

“ Kakang Pemanahan….” Suara Sultan lembut namun bertenaga.

“ Hamba Kanjeng Sultan,” jawab Ki Ageng Pemanahan sambil merangkapkan tangan di depan hidung (menyembah khidmat).

“ Apakah sudah dibuat catatan–catatan siapa saja yang berjasa dengan sepenuh hati dan tenaga membantu perjuangan Pajang menguasai daerah Bang Wetan “

“ Ampun Kanjeng Sultan. Hamba sudah membuat catatan - catatan kecil. Namun, barangkali ada yang tercecer hamba akan menelitinya sekali lagi “

“ Jangan sampai ada yang kelewatan. Aku tidak ingin mengecewakan punggawa–punggawa setia dan berbakat. Orang yang berjasa sudah sepantasnya diberikan imbalan yang layak “

Lantas Sultan Hadiwijoyo mengalihkan pandangannya kepada Ki Penjawi.

“ Kakang Penjawi dan kau Ki Juru Mertani bantulah Kakang Pemanahan untuk membuat catatan–catatan itu “

“ Inggih Kanjeng Sultan”, keduanya serentak menjawab bersamaan dengan suara yang mantap.

Pertemuan bubaran menjelang tengah hari balai paseban agung menjadi sepi dan sunyi seperti sebelumnya.

SAMPAI menjelang tengah malam acara syukuran kecil–kecilan yang dilakukan oleh Sukmo Aji masih kelihatan meriah. Syukuran itu dalam rangka naiknya jabatan dari wiratamtama menjadi seorang tumenggung anom. Sukmo Aji nampak gagah mengenakan beskap lurik halus berwarna cokelat tua dengan keris yang terselip di punggungnya, gagangnya dari gading yang mengkilap. Tamu-tamu duduk di kursi masing-masing sambil menikmati hidangan berupa nasi tumpeng, daging rusa bakar, dan wedang sereh yang diantar para pelayan serta sambil menikmati permainan gamelan yang ngerangin (nyaring dan merdu) dan suara pesinden terkenal dari kotaraja Pajang yang lembut mengalun membawakan tembang asmaradana. Terlihat Ki Juru Mertani yang mengenakan jubah putih, Pranata, Simo yang masih mengenakan seragam prajurit namun nampak bersih, para prajurit–prajurit lain, ada beberapa tumenggung, tetangga dekat dan punggawa–punggawa Pajang yang lain. Ki Juru Mertani berdiri mewakili pemerintah Pajang. Sementara Sukmo Aji duduk di pendapa diapit oleh Pranata dan Simo. Sedangkan para tamu dan undangan duduk di halaman. Di bawah tenda yang penuh hiasan janur kuning berwarna - warni.

“ Malam ini merupakan malam gembira dan bahagia bagi Sukmo Aji. Siapa yang tidak kenal wiratamtama yang gagah berani yang setia dan tanpa ragu–ragu membela kehormatan Pajang “ ujar Ki Juru Mertani dengan nada bangga.

Lihat selengkapnya