Kidung Di Atas Tanah Jawa

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #3

Kedungtuban

RIUHNYA suara para remaja di tanah lapang sebuah banjar desa ramai bukan kepalang. Tanah lapang itu berdebu, dikelilingi pohon-pohon jati meranggas yang menjadi saksi bisu keriuhan sore itu. Pada saat matahari mulai memanjat langit, membiaskan panas yang menyengat kulit, maka seorang pemuda tanggung segera membuka permaianan itu. Dengan sebuah kapak diputusnya tali yang mengikat pemukul bende disudut lapangan. Kemudian seseorang yang telah ditentukan memungut pemukul bende itu, dan dengan bunyi yang berdengung-dengung bende itu bergema. Sekali, dua kali dan kemudian tiga kali. Dengan diiringi oleh tepuk tangan yang seakan-akan memecahkan selaput telinga, maka permainan segera dimulai. Beberapa orang remaja berjalan ke tengah lapangan sembari menjinjing busur—gandewa dari kayu cendana yang melengkung indah—dan sebuah endong anak panah yang menempel di punggung. Dihadapan mereka beberapa tombak tergantung sasaran yang harus mereka kenai. Sasaran itu dibuat dari jerami yang dibalut dengan kain. Menyerupai wujud manusia. Terdiri dari tiga bagian. Kepala, leher, dan badan. Para peserta akan mendapatkan nilai terbesar jika dapat mengenai sasaran kepala. Ketika bende berbunyi, maka perlombaan itupun dimula. Setiap peserta memiliki lima buah anak panah dengan bulu unggas di pangkalnya. Dan oleh kelima buah anak panah itu maka akan diambil nilai tertinggi diantara mereka. Apabila anak panah mereka mengenai kepala, maka berarti mereka akan mendapat nilai lima. Leher tiga nilai dan badan dua nilai.

Sesaat kemudian meluncurlah anak panah yang pertama diikuti oleh sorak para penonton. Namun sayang, panah itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Disusul dengan anak panah yang kedua, ketiga. Namun ketiga anak panah itu menyentuh sasaranpun tidak. Penonton bersorak-sorak kembali ketiga anak panah yang keempat kemudian tepat mengeni leher sasaran. Maka penontonpun berteriak-teriak lebih keras. Penonton menjadi tegang ketika meluncur anak panah yang kelima. Dan meledaklah sorak para penonton. Bukan karena mereka menjadi kagum anak panah itu, melainkan mereka mentertawakan karena anak panah itu lagi –lagi meleset dari sasaran. Namun tak seorangpun yang dapat menggemparkan penonton karena bidikan-bidikannya yang tepat. Sekali dua kali ada juga diantara mereka yang mengenai sasaran. Namun diantara lima anak panah itu, maka paling banyak dua diantaranya yang dapat mengenai sasarannya. Ketika kemudian sampai pada giliran seorang pemuda tanggung maju dengan anak panahnya, maka penonton menjadi gempar. Pemuda ini memiliki tubuh yang tegap dan lebih besar dari kawan sebayanya. Baju yang dikenakan pun terlihat lebih mewah; sebuah lurik halus berwarna biru tua dengan ikat pinggang kulit yang lebar. Pemuda ini benama Suradal. Anak seorang bekel di kademangan Kedungtuban. Pandangannya tajam menyapu ke seluruh lapangan, ke penonton arah luar arena yang dibatasi menggunakan gawar dari tali rawe. Sejurus kemudian gandewa mulai diangkat, tali busur mulai direntangkan hingga menimbulkan bunyi kaku dari kayu jati. Maka, anak panah yang pertama yang dilepaskan oleh Suradal benar-benar telah menggemparkan penonton. Meskipun tidak mengenai kepala, namun sekali bidik Suradal telah mengguncangkan sasaran dengan mengenai bagian badannya.

Jlar!

Anak panah itu menancap dalam hingga jerami sasaran bergoyang. Kegemparan penonton menjadi semakin riuh, ketika panah Suradal yang kedua dapat mengenai leher. Ketika Suradal menarik tali busurnya yang ketiga kalinya, dengan otot lengan yang menonjol dan napas yang teratur, maka terdengarlah suara riuh disekitar arena.

“Naik sedikit Suradal, naik sedikit”

Dan meledaklah sorak para penonton seakan-akan memecahkan selaput telinga ketika anak panah Suradal itu benar-benar mengenai kepala. Suradal itupun kemudian berhenti sesaat. Setelah menarik nafas dalam-dalam, maka sekali lagi lapangan itu diguncangkan oleh tepuk sorak yang gemuruh. Sekali lagi anak panah Suradal mengenai kepala. Namun para penonton itu menjadi kecewa ketika anak panah Suradal yang kelima yang terbang dari busurnya dengan kecepatan penuh, hanya menyerempet kepala sasaran, namun tidak hinggap padanya, sehingga dengan demikian, anak panah itu dianggap tidak mengenai sasaran. Suradal memandangi anak panah yang kelima dengan penuh kejengkelan.

Katanya sambil bertolak pinggang. “He, kenapa kau tidak mau berpaling sejari saja. Kalau kau berpaling sedikit saja, maka anak panah itu akan hinggap di kepalamu”

Namun kemudian telah terdengar bende untuk peserta berikutnya. Kini mulailah beberapa pemuda tanggung barganti –gantian tampil. Dan peserta terakhir adalah seorang pemuda tanggung dengan badan tegap namun tidak terlalu kekar. Pemuda ini mengenakan pakaian sederhana, kain putih kusam yang bersih, dengan sorot mata yang teduh namun dalam. Pemuda itu tersenyum ke arah penonton. Sempat melirik ke arah seorang gadis yang tampaknya sangat menunggu penampilan pemuda itu untuk tampil. Tetapi ternyata pemuda peserta terakhir adalah pemanah yang baik. Sejak ia melepaskan anak panahnya yang pertama, maka ia telah menggemparkan lapangan itu. Anak panahnya yang pertama ternyata langsung mengenai kepala. Demikianlah anak panahnya yang kedua. Ketika ia menarik tali busurnya untuk yang ketiga kalinya dengan berdebar-debar penonton menanti. Dan sekali lagi meledaklah sorak yang gemuruh. Panah ketiga itupun mengenai kepala sasaran pula. Demikianlah para penonton menjadi semakin tegang.

Sekali lagi para penonton berteriak-teriak sekuat-kuatnya ketika anak panah yang keempatnya hinggap dikepala. Dengan demikian ketegangan diarena itu menjadi semakin memuncak. Keempat anak panah yang telah memenuhi kepala orang-orangan itupun dicabutlah untuk memberi tempat seandainya anak panah yang kelima inipun akan mengenainya pula. Dan lapangan itu seakan-akan menjadi benar-benar runtuh ketika penonton menyaksikan anak panah kelima yang lepas dari busur si pemuda.

Anak panah itupun tepat pula mengenai kepala orang-orangan itu. Sehingga dengan demikian pemanah itupun telah menunjukkan kesempurnaan bidikannya. Bukanlah karena kebetulan ia dapat mengenai kepala sasaran. Namun sebenarnyalah memang pemuda tanggung itu adalah pembidik yang baik. Ketika kemudian terdengar bende berbunyi, masuklah seorang pemuda berperawakan tinggi kurus masuk ketengah-tengah arena.

Dengan tersenyum-senyum ia memberi ucapan selamat kepada peserta terakhir, katanya “Gading, ternyata kau menyembunyikan kemampuan bidik mu dari kita semua orang –orang Kedungtuban. Apa yang dapat kau kerjakan? Tak ada yang dapat berbuat lebih baik seperti yang kau lakukan”

Pemuda peserta terakhir yang bernama Gading itupun tersenyum. Namun ia tidak menjawab. Ketika ia bergeser dari tempatnya, ia terkejut manakala terdengar suara bentakan di belakangnya. Suara itu berat dan bergetar karena emosi.

“ Dia belum dapat dikatakan menang mutlak dan mengalahkan aku “

Gading membalikkan badan, ia melihat mata Suradal menyala-nyala seperti bara api yang ditiup angin. Dan Suradal itu langsung berjalan kearah Gading. Dengan langkah yang tetap namun tergesa-gesa, seakan - akan ia takut terlambat, meskipun hanya sekejap. Suradal kemudian berhenti hanya beberapa langkah saja dimuka Gading. Dengan wajah tegang dipandanginya wajah Gading. Gading masih saja berdiri ditempatnya. Betapapun dadanya berguncang, namun dicobanya juga menguasai dirinya. Bahkan kemudian dilihat juga gadis yang dilirik tadi—Sulastri—yang memandangnya dengan penuh ketegangan. Suasana yang tadinya hingar bingar sontak menjadi sunyi penuh ketegangan, seolah angin pun enggan berhembus.

Seperti guruh menggelegar dilangit, Gading itu mendengar Suradal berkata parau. “Mari kita berperang tanding, biarlah orang –orang di Kedungtuban tahu. Aku Suradal anak bekel Suto Lumpang yang menang atau kau Arya Gading !”

Gading menggigit bibirnya, tangannya yang masih memegang busur kayu nampak sedikit gemetar. Namun kemudian Arya Gading menjawab “Aku tidak akan berperang tanding melawan mu kakang Suradal”

Suradal mengerutkan keningnya. Kemudian anak muda itu tersenyum masam, “Jangan menjadi pengecut kau Gading. Apa kata orang –orang jika mendengar hal ini. Adik seorang senopati terkenal di Pajang tinggal gelanggang colong playu ”

Arya Gading menarik nafas panjang. Kalimat Suradal barusan menghunjam tepat di ulu hatinya.

Lihat selengkapnya