Melihat Sulastri kesakitan Gading yang sejak tadi bersikap sabar dan merelakan dirinya dihina terus-terusan kini menjadi marah. Amarahnya meledak seperti bendungan yang jebol. Tanpa berpikir panjang lagi dia melompat kesamping dan mendorong dada Suradal kuat-kuat dengan kedua telapak tangannya hingga anak ini tidak mampu menguasai keseimbangan tubuhnya. Tak ayal lagi, Suradal jatuh terjengkang di tanah yang berdebu.
"Anak pengkhianat! Berani kau mendorong dan menjatuhkanku!" teriak Suradal, wajahnya merah padam menahan malu di depan kawan-kawannya.
Suradal lantas berdiri dan menerjang dengan tendangan keras yang mengarah ke lambung, dan diikuti oleh lima kawan-kawannya yang juga ikut melayangkan pukulan serta tendangan secara serampangan. Anak-anak itu tidak memperdulikan teriakan-teriakan Sulastri. Gading mencoba untuk melawan dengan segenap kemampuannya; ia menangkis satu pukulan, namun dua tendangan mendarat di punggung dan kakinya. Akan tetapi, anak–anak itu menyerangnya dengan kasar dan membabi buta, mengeroyoknya bagaikan kawanan serigala yang kelaparan.
Dalam keadaan babak belur hampir pingsan, dengan kesadaran yang timbul tenggelam, Gading merasa tubuhnya diangkat beramai–ramai dan di bawa ke ujung kademangan. Disini terdapat kedung yang tidak terlalu besar. Air nya terlihat jernih dan tenang, namun menyimpan kesan mistis yang pekat di bawah naungan pohon-pohon besar yang akarnya menjuntai ke permukaan air. Konon katanya di kedung ini dihuni baurekso yang berwujud seekor buaya putih yang sangat besar.
BYUR!
Tubuh Gading mereka lemparkan ke dalam kedung itu. Masih untung tubuhnya terlempar tidak terlalu ke tengah di bagian yang dalam. Walaupun keadaannya benar-benar memelas tapi Gading tak sempat tenggelam. Sehabis melemparkan Gading ke dalam kedung Suradal dan teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu dengan tawa kemenangan yang hambar.
"Gading! Gading...!" terdengar suara Sulastri memanggil berulang kali, suaranya parau karena cemas.
Di tepi kedung dia berhenti. Memandang kian kemari ke arah permukaan air yang tenang. Lalu pandangannya terhenti manakala ia melihat sesosok tubuh dengan terseok–seok berusaha merangkak ke tepian. Akhirnya dengan susah payah Gading berhasil sampai di tepian, jemarinya mencengkeram rumput-rumput basah. Sekujur tubuhnya memar, mata kirinya terlihat membiru dan bengkak, bibirnya terlihat pecah dan masih mengucurkan darah segar yang membasahi dagunya.
"Kau terluka Gading, kita harus segera menemui Ki Angsana dukun obat di padukuhan Watu Gilang. Marilah bergegas, aku antarkan"
"Sekujur tubuhku sakit-sakit. Tulang-tulangku rasanya seperti patah. Kepalaku pusing...akan tetapi, aku rasa tidak perlu pergi ke dukun. Aku tidak apa –apa tidak ada yang perlu dicemaskan" jawab Gading sambil berusaha menahan erangan.
“ Benar? Kau tidak apa –apa?”
“ Aku tidak apa –apa Lastri “
"Kalau begitu kau harus cepat pulang, boreh badan mu dengan param dan berganti pakaian."
"Aku tak berani pulang. Paman pasti akan marah besar dan mungkin menghajarku dengan rotan!" jawab Gading seraya menghela nafas panjang, membayangkan wajah pamannya yang keras.
"Kalau kau tak pulang akan lebih celaka lagi, Gading! Mari kuantar kau!"
"Kau baik sekali Sulastri. Tapi jika paman malihat aku bersamamu hajaran akan berlipat ganda atas diriku!"
"Eh, mengapa begitu?" tanya Sulastri heran.