Blurb
"Nasab kiai bukanlah mahkota untuk disombongkan, melainkan amanah hisab yang harus dipikul dengan kerendahan hati."
Di balik tembok Pesantren Darul Ikhsan Mataraman, Gus Muhammad Qoifun Habibillah memilih jalan yang tak lazim: menanggalkan privilese statusnya sebagai putra kiai besar. Demi menggembleng jiwa dan menepis arogansi nasab, ia diasingkan untuk riyadhoh dan khidmah sebagai santri biasa di bumi pegunungan Malang.
Takdir mempertemukannya dengan Ning Siti Ghoniyah Shobiyah—putri ulama berdarah Madura—melalui ikatan janji sanad dua kiai. Tanpa kemewahan pesta, di bawah temaram lampu robyong, janji suci terucap. Namun, menyatukan dua jiwa dalam kerendahan hati ternyata tak semudah membalik lembaran kitab.
Di antara canggungnya malam-malam awal yang dihangatkan wedang jahe dan bait-bait Al-Hikam, riak kecemburuan, surat kaleng, dan ujian nasab mulai menggoyang ketenangan. Mampukah ketawadhuan mematahkan prasangka, dan akankah cinta yang tumbuh di seberang bilik santri ini mewangi dalam keberkahan?