Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

DEBU DI PINTU GERBANG


DEBU DI PINTU GERBANG DARUL IKHSAN

Mengenal ketawadhuan Kiai Rifki dan adab Mataraman yang bersahaja

-----------

Rujukan Hadis Kunci:

مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

"Tidaklah seseorang bertawadhu’ (merendahkan hati) karena Allah semata, melainkan Allah pasti akan meninggikan derajatnya." (HR. Muslim (no. 2588))

---------------------------------------------------


BAGIAN 01: KABUT FAJAR DAN GEMERSIK DAUN JATI

Langkah bimbang seorang anak pedagang di tapal batas Mataraman

━━ 🕌 ━━

  Dingin fajar di tanah Mataraman tidak sekadar menyapa kulit, melainkan menyusup laksana jarum-jarum perak yang meraba sumsum tulang. Kabut putih keperakan menggantung rendah di atas pucuk-pucuk pohon jati yang meranggas, meliuk perlahan dihembus angin basah dari lereng pegunungan selatan Jawa Timur. Di tapal batas desa itu, aspal jalanan provinsi yang berlubang berganti menjadi lorong tanah liat kemerahan yang diapit tebing kapur dan rumpun bambu ori yang saling bergesek, menimbulkan erangan panjang yang mistis di sela sisa dengung serangga malam.

  Ilham Kurniawan merapatkan jaket parasut birunya yang sudah pudar di bagian siku. Jarinya yang kaku mendekap erat seutas tali rafia merah yang melilit kardus bekas mi instan—satu-satunya koper yang ia miliki. Di dalam kardus yang sudah agak meliuk di sudutnya itu tersimpan rapi tiga helai kemeja katun murah, dua potong sarung cap mangga hadiah lebaran dua tahun silam, selembar sajadah tipis buatan Pekalongan, dan sebuah mushaf Al-Qur’an bersampul hijau tua pemberian almarhum kakeknya. Bus malam antar-kota jurusan Surabaya-Yogyakarta yang ia tumpangi dari pesisir selatan menurunkannya tiga jam lebih awal di pertigaan pasar kecamatan yang masih gelap gulita, memaksanya menyusuri jalan setapak berkabut ini dengan langkah kaki yang gemetar.

  Ayahnya hanyalah seorang penjual kuali dan gerabah tanah liat keliling di pasar terpencil, yang tangannya senantiasa berlumur lempung dan punggungnya bungkuk memikul beban kehidupan. Mengirim Ilham ke Pesantren Darul Ikhsan adalah perjudian iman paling nekat yang pernah diambil keluarganya. "Di luaran sana, Le," bisik ayahnya malam sebelum keberangkatan, dengan asap lintingan tembakau payah mengepul di bawah remang lampu minyak dinding bambu, "orang-orang sekarang berebut mencari kemuliaan dari trah darah, silsilah ningrat, dan pengagungan nasab yang bikin ciut nyali orang kecil seperti kita. Tapi kata orang-orang tua yang waras, di Darul Ikhsan kamu akan menemukan hakikat manusia yang sebenarnya. Kiai Rifki tidak pernah membedakan keringat kuli dengan minyak wangi bangsawan."

  Kalimat ayahnya itulah yang menopang lutut Ilham menaiki tanjakan terjal bertanah merah. Namun semakin dekat ia ke gerbang pesantren, semakin hebat rasa rendah diri mencekik lehernya. Dalam bayangan remajanya yang awam, sebuah pesantren agung yang masyhur hingga mancanegara pastilah memiliki gerbang besi berkilat menjulang ke angkasa, pos penjagaan berpengawal tegap berbaju serba hitam, dan bangunan-bangunan mewah tempat para anak kiai besar berseliweran dengan jubah impor dari Yaman atau Mesir. Ia membayangkan dirinya akan ditolak di muka pintu gerbang hanya karena alas kakinya berupa sandal jepit karet yang talinya hampir putus dan kardus bawaannya berbau bumbu gurih mi instan.

  Tepat ketika gema adzan Subuh yang dikumandangkan dari corong seng tua di menara bambu merambat pelan menembus kabut, langkah Ilham terhenti. Di hadapannya, samar-samar dalam keremangan kelabu fajar, tampak sebuah gapura bata merah tanpa plester semen. Tidak ada pintu gerbang besi bertralis runcing. Tidak ada lampu sorot benderang. Tidak ada plang megah bertuliskan huruf emas timbul. Hanya dua pilar bata merah tua yang diselimuti lumut hijau tipis di bagian bawahnya, dipayungi tajuk rimbun dua pohon sawo kecik yang menjatuhkan buah-buah kecil kemerahan ke atas tanah basah.

  Di balik gapura sederhana itu terhampar pelataran bata merah yang membentang luas menuju sebuah masjid joglo kuno bertiang kayu jati glondongan. Bau harum daun jati basah yang terbakar embun berpadu dengan wangi kayu cendana dari pedupaan kecil di serambi masjid. Gemuruh halus lantunan wirid ba’da Subuh para santri terdengar mengalun lembut, mendayu-dayu laksana ombak lautan ketenangan yang menampar segala kegelisahan di dalam rongga dada pemuda kurus itu. Ilham menelan ludah, menatap debu fajar yang menempel di ujung jari-jari kakinya, ragu apakah pantas debu sekecil dirinya melangkah melintasi batas suci pondok ini.

-----------------------------------------------------


BAGIAN 02: SAPU LIDI DAN SARUNG PALEKAT LUSUH

Pertemuan bersahaja di pelataran bata merah

---🕌---

  Gema wirid dan doa perlahan mereda bersamaan dengan menyingsingnya fajar sidik di ufuk timur. Dari balik celah pepohonan jati di samping komplek asrama bilik bambu, cahaya keemasan yang tipis mulai menyapu permukaan genting-genting tanah liat. Para santri bersarung mulai melangkah keluar dari masjid joglo, beriringan dengan tertib menuju asrama mereka untuk mempersiapkan kajian bandongan pagi. Namun di serambi samping masjid, di mana halaman bata merah bertemu dengan undakan tanah kebun ndalem, terdengar suara derak yang sangat ritmis.

  Krek... krek... srek...

  Bunyi bilah-bilah lidi kelapa yang disapu kuat di atas susunan bata merah basah memecah keheningan fajar. Ilham melangkah ragu dengan menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Kardus mi instannya kini ia peluk erat dengan kedua belah lengan. Matanya mencari-cari di mana letak kantor sekretariat atau pos pengurus penerimaan santri baru. Di sudut teras samping itu, ia melihat seorang pemuda tengah menyapu tumpukan dedaunan jati kering yang berguguran semalaman tertiup angin bukit.

  Pemuda itu membelakangi Ilham. Tubuhnya ramping namun tegap, mengenakan sehelai sarung palekat katun bercorak kotak-kotak hijau lumut yang warnanya telah memudar akibat terlampau sering dicuci dan dijemur. Pada bagian tepi bawah sarung itu terlihat jahitan jelujur benang hitam yang sengaja menambal robekan kecil. Atasannya hanyalah kaos oblong putih polos berbahan katun desa yang sederhana, dan kepalanya ditutupi kopyah hitam beludru yang bulunya sudah menipis di bagian lipatan samping. Setiap kali ayunan sapu lidinya berderak, otot pundaknya tampak bergerak santai namun penuh tenaga.

  Ilham menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang berserakan. Dalam dugaannya, pemuda bersarung tambalan ini pastilah santri khadam—santri senior dari keluarga melarat yang mengabdikan tenaga kasarnya mencangkul kebun atau membersihkan selokan pondok demi mendapatkan makan gratis dan sepetak alas tidur di bawah tangga asrama. Di kampung halamannya, orang-orang yang berpenampilan demikian selalu berada di kasta paling bawah dalam hierarki sosial.

  “Ngapunten... Assalamu’alaikum, Mas Kang...” sapa Ilham dengan suara serak tertahan, menggunakan bahasa Jawa krama desa yang bercampur kecanggungan.

  Ayunan sapu lidi itu seketika terhenti. Pemuda itu tidak langsung berbalik dengan mendadak, melainkan meletakkan ujung sapunya di tanah secara perlahan agar debu kering tidak mencelat ke udara. Ketika ia memutar tubuhnya, Ilham tertegun. Wajah pemuda itu masih sangat muda, mungkin baru memasuki usia awal dua puluhan. Kulitnya bersih kecokelatan khas orang desa yang akrab dengan sengatan matahari, namun sorot matanya memiliki ketenangan yang menghunjam sanubari. Tidak ada garis arogansi, tidak ada keangkuhan penjaga pintu, hanya seulas senyum tulus yang langsung mekar di bibirnya.

  “Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” jawab pemuda itu dengan suara yang berat, lembut, dan sangat tenang. Tangannya diletakkan di depan dada, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda takzim kepada orang asing yang baru pertama kali dilihatnya. "Wonten nopo, Mas? Wonten ingkang saget kulo biyantu? (Ada apa, Mas? Ada yang bisa saya bantu?)"

  Mendengar keramahan yang begitu santun dan tanpa selaput kecurigaan itu, sebongkah batu kecemasan yang menghimpit dada Ilham runtuh separuh. “Kulo niki santri anyar saking kidul, Mas Kang... Badhe daftar mondok. Saking dalu wau numpak bis, mandhap prapatan pasar. Menawi kantor pengurusipun wonten pundi nggih? (Saya ini santri baru dari selatan, Mas Kang... Mau daftar mondok. Dari tadi malam naik bus, turun perempatan pasar. Kalau kantor pengurusnya di sebelah mana ya?)"

  Mata pemuda itu memandang kardus mi instan yang dipeluk erat oleh Ilham, lalu turun ke sandal jepitnya yang basah oleh lumpur tanah merah pegunungan. Alih-alih memintanya menunjukkan berkas pendaftaran atau menanyakan silsilah keturunannya, pemuda itu justru melangkah mendekat dengan langkah tanpa alas kaki di atas bata merah basah, lalu mengulurkan tangannya.

  “Alhamdulillah, sampun dugi kanthi slamet (Alhamdulillah, sudah sampai dengan selamat),” ucap pemuda itu seraya tersenyum teduh. “Kardusipun kulo bekakne mawon, Mas. Ketawise awrat sanget. Panjenengan mesthi sayah, dalan saking prapatan mriki niku nanjak (Biar kardusnya saya bawakan saja, Mas. Kelihatannya berat sekali. Sampeyan pasti capek, jalan dari perempatan ke sini itu menanjak).”

  Ilham tersentak kaget dan buru-buru menarik kardusnya ke belakang tubuhnya. “Eh, ampun, Mas Kang! Ampun repot-repot! Niki isine mung klambi lawas kok... Mboten nopo-nopo kulo tenggo piyambak. Kulo namung tanglet kantore pengurus mawon (Eh, jangan Mas Kang! Jangan repot-repot! Ini isinya cuma baju bekas kok... Tidak apa-apa saya bawa sendiri. Saya cuma tanya kantor pengurus saja).”

  Pemuda itu tertawa kecil, suara tawanya begitu renyah dan menyejukkan laksana tetesan embun yang jatuh menimpa dedaunan telaga. “Mboten nopo-nopo, Mas. Khidmah dateng tamu ingkang luru ngelmu niku ganjarane ageng sanget (Tidak apa-apa, Mas. Melayani tamu yang mencari ilmu itu pahalanya besar sekali). Monggo, ampun teng kantor rumiyin. Pengurus jam sakmeniko tasih wonten halaqah Al-Qur’an ing asrama wetan. Pinarak teng teras ndalem rumiyin mawon, ngaso sekedhap (Mari, jangan ke kantor dulu. Pengurus jam segini masih halaqah Al-Qur’an di asrama timur. Singgah ke teras ndalem dulu saja, istirahat sebentar).”

Lihat selengkapnya