Hawa Sejuk di Kaki Arjuno
Suluh di Lereng Arjuno - Pesantren Darul Mukmin, Malang
-------------
Rujukan Spiritual / Hikmah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
— QS. Al-Hujurat: 13 (Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa).
---------------------------------------------------
Bagian 01: Kabut Putih di Celah Pinus
━━ 🕌 ━━
Kabut pagi turun laksana tirai sutra putih yang dijatuhkan perlahan dari puncak Gunung Arjuno, membungkus lereng-lereng perbukitan Malang dalam keheningan yang dingin dan sunyi. Udara basah menusuk hingga ke persendian tulang, membawa aroma tanah gembur pegunungan bercampur getah cemara dan hawa dingin yang tak kenal ampun. Bagi tubuh yang terbiasa dibesarkan di pesisir utara berangin asin dan panas terik, gigitan hawa sejuk lereng gunung ini terasa seperti ribuan jarum es halus yang menembus jaket rajut katun kelabu miliknya.
Namun di balik sehelai kemeja koko putih sederhana yang sudah beberapa kali dicuci hingga serat kainnya mulai menipis, rongga dada Qoifun Habibillah justru memancarkan kehangatan yang tak tersentuh cuaca. Di sana, di kedalaman detak jantungnya yang paling rahasia, denyut dzikir khafi terus berputar tanpa suara laksana gilingan batu halus: mengikis setiap ingatan tentang kemudahan hidup, menundukkan setiap getar keakuan, dan menghembuskan rasa damai yang tak terlukiskan.
Sepasang sandal jepit karet bertali biru yang dikenakannya telah berlepotan tanah merah basah. Langkah kakinya lambat namun mantap, menapaki jalan berbatu terjal yang diapit pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Di pundak kanannya tersampir sebuah tas kanvas kelabu pudar dengan jahitan tangan kasar di bagian sudut bawahnya—bekas tambalan benang nilon yang dikerjakan sendiri oleh abahnya semalam sebelum keberangkatan.
«Qoifun, anakku,» terngiang kembali suara berat nan teduh Kiai Usman, sang abah, di bilik ndalem mereka tiga hari yang lalu. «Jika engkau berangkat ke Darul Mukmin hanya untuk memindahkan kasur empukmu ke Malang, atau sekadar memamerkan kepandaianmu melafalkan bait-bait Alfiyah di depan santri-santri Kiai Ghaffar, maka urungkanlah niatmu. Lebih baik engkau tinggal di rumah, menunggu orang-orang mencium tanganmu. Namun jika engkau ingin mencicipi manisnya iman, pergilah sebagai debu yang tak berharga. Tanggalkan jubah ke-Gus-anmu di bibir pintu gerbang. Jadilah orang yang tidak dikenal penduduk bumi, namun dikenal para penghuni langit.»
Wasiat itu melekat erat laksana rajah di dinding kalbunya. Selama delapan jam perjalanan menumpang bus kelas ekonomi dari pesisir menuju terminal Arjosari Malang, dilanjutkan menumpang mobil angkutan pedesaan yang batuk-batuk menanjak lereng, Qoifun melatih hatinya untuk mati terhadap pujian. Ia membiarkan kondektur membentaknya ketika tas usangnya sedikit menghalangi jalan lorong bus. Ia tersenyum tulus ketika disenggol pedagang asongan yang tergesa-gesa. Di setiap perlakuan biasa yang ia terima sebagai orang jelata, ada kelezatan aneh yang menyusup ke dalam jiwanya—kelezatan menjadi seorang hamba yang sejati, tanpa tirai penghormatan semu.
-------------------------------------------------
Bagian 02 : Gerbang Kayu Jati dan Pos Keamanan
━━ 🕌 ━━
Pohon beringin tua dengan sulur-sulur menjuntai menandai pintu masuk Pesantren Darul Mukmin. Gerbang utamanya terbuat dari kayu jati gelondongan berukir kaligrafi ayat Al-Qur'an dengan model tajug Jawa yang anggun. Di bawah naungan atap genting lumutan itu, kabut melayang rendah menyapu permukaan jalan paving yang dibasahi sisa gerimis dini hari.
Di sebelah barat gerbang, sebuah pos keamanan berdinding setengah bata dan anyaman bambu tampak mengepulkan asap. Bau tembakau kretek cengkeh berpadu pekat dengan aroma kopi hitam tubruk yang diseduh dalam gelas belimbing besar. Tiga orang santri senior bersarung sarung wadimor gelap dan berjaket parasut sedang bercengkerama sambil menghangatkan telapak tangan di atas nyala api lilin kecil.
Qoifun berhenti dua langkah di depan pintu pos, menundukkan pandangannya ke arah lantai kayu pos yang berdebu. «Assalamu'alaikum warahmatullah...» sapanya lembut dengan intonasi rendah yang santun.
Salah seorang penjaga pos berkumis tipis menoleh lambat-lambat, mengembuskan asap kreteknya ke udara dingin. Matanya menyapu sosok Qoifun dari ujung peci hitam yang mulai memerah warnanya karena terik matahari pesisir, turun ke kemeja kokonya yang tidak bermerek, tas kanvas belel di bahunya, hingga sandal jepitnya yang basah berlumur lumpur.
«Wa'alaikumsalam. Dari mana, Kang?» tanya santri penjaga pos itu dengan nada datar, nyaris tanpa gairah keramahan yang biasa diberikan kepada rombongan tamu bermobil sewaan.
«Kulo Qoifun, Kang. Sowan saking pesisir wetan... badhe ndaftar santri enggal (Saya Qoifun, Kang. Datang dari arah pesisir timur... hendak mendaftar santri baru),» jawab Qoifun dengan bahasa krama madya yang halus dan runtut, sedikit membungkukkan badan sebagai tanda takzim.
«Mana surat pengantar kelurahan dan pas foto? Bawa uang pendaftaran dan administrasi gedung tiga ratus ribu?» todong santri itu sambil menggeser buku catatan bergaris bersampul kertas cokelat yang sudah lecek.
Qoifun merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar kartu identitas kependudukan sederhana dan beberapa lembar uang kertas pecahan lima puluh ribu rupiah yang telah dilipat rapi. Di dasar tas usangnya, jari-jemarinya sempat menyentuh amplop cokelat tebal bersegel lilin merah tua bertuliskan lambang pesantren kakeknya—sepucuk surat pribadi dari sang abah yang ditujukan langsung ke meja KH. Ghaffar Rasyidin. Surat yang jika dibuka oleh santri pos ini niscaya akan membuat mereka gelagapan, bangkit berdiri tegak, dan berlarian menyambutnya layaknya seorang pangeran pesantren.
Namun jemari Qoifun sengaja melepaskan amplop itu. Ia membiarkannya tetap terlelap di dasar lipatan sarung cadangannya. Belum saatnya surat itu keluar. Biarlah takdir dan adab yang menentukan kapan amanah sang abah harus disampaikan ke haribaan Sang Kiai, bukan nafsu untuk mencari kenyamanan fasilitas santri istimewa.
«Nama: Qoifun. Asal: Pesisir. Status: Santri reguler mandiri,» gumam santri penjaga pos seraya mencoretkan bolpoin murahnya di atas kertas pendaftaran. «Nanti langsung ke Asrama Al-Ghazali di blok belakang masjid kulon. Temui Kang Marzuki, Lurah Pondok. Kalau beliau masih tidur, tunggu di serambi luar sampai beliau bangun. Jangan keluyuran ke area asrama putri atau ndalem kiai!»
«Nggih, matur nuwun sanget, Kang,» ucap Qoifun lirih. Ia menerima secarik slip kertas tanda lapor tanpa sedikit pun raut tersinggung atas nada ketus yang diterimanya, lalu memundurkan langkahnya tiga tapak sebelum berbalik menuju jalan setapak berkerikil.
---------------------------------------------------
Bagian 03 : Asrama Al-Ghazali dan Sorot Mata Kang Marzuki
━━ 🕌 ━━
Asrama Al-Ghazali berdiri kokoh sebagai bangunan kayu dua lantai bergaya kolonial tua yang telah dialihfungsikan menjadi bilik-bilik hunian santri. Dinding pagarnya berupa papan kayu jati tebal yang dicat hijau lumut mengelupas di sana-sini. Dari jendela-jendela kisi kayu yang terbuka, tercium bau minyak telon, kapur barus pengusir ngengat, dan tumpukan lembaran kitab kuning yang lembap oleh embun pegunungan.
Suasana lorong asrama masih lengang karena sebagian santri masih berada di aula madrasah atau sedang antre di sumur belakang. Langkah sandal jepit Qoifun berderit di atas lantai papan jati ketika ia melintasi serambi depan. Di sudut teras, di atas sebuah balai-balai bambu beralaskan kasur busa berseprai motif batik cerah, duduk seorang pemuda bertubuh tegap berusia pertengahan dua puluhan.
Pemuda itu adalah Kang Marzuki. Peci beludru hitam bermerek terkenal miliknya miring sedikit ke kanan dengan gaya khas santri senior yang disegani. Sarung samarindanya licin mengilat tanpa kerutan, dipadu baju koko sutra tipis berlengan panjang yang disingsingkan rapi hingga siku. Di pergelangan tangan kirinya melingkar arloji rantai perak yang berkilau setiap kali ia memutar-mutar korek gas logam di tangannya.
Kang Marzuki sedang asyik membolak-balik lembaran majalah dakwah ketika bayangan tubuh Qoifun jatuh di atas anak tangga balai-balai. Ia mengangkat wajahnya dengan dahi berkerut tajam.