Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

KHIDMAT YANG TAK BERNAMA

KHIDMAT YANG TAK BERNAMA

Madrasah Banat & Pelataran Masjid Darul Mukmin

------------

Rujukan Hadits:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ -

"Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi (no. 1954))

--------------------------------------------------


BAGIAN 01: AROMA JERAMI KITAB & KISI JENDELA MAKTABAH

Sunyi Asar di bilik perpustakaan Madrasah Banat

━━ 🕌 ━━

Aroma kertas jerami tua yang mengendap di dalam puluhan jilid kitab kuning selalu membawa ketenangan ganjil bagi siapa saja yang menciumnya. Di lantai dua bilik perpustakaan Madrasah Banat Pesantren Darul Mukmin, semerbak minyak gaharu berpadu dengan wangian dedaunan pandan kering yang diselipkan di sela-sela lembar mushaf kuno. Angin pegunungan sore itu bertiup lambat, menyelinap melewati jeruji kisi-kisi kayu jati berpahat ukiran sulur Jepara yang telah menghitam oleh usia zaman.

Ning Ghoniyah Shobiyah merapikan letak kitab Syarah Ihya’ Ulumiddin karya Imam az-Zabidi di atas rehal kayu mahoni berukir ayat kursi. Jemarinya yang ramping dan bersih membalik halaman demi halaman dengan kelembutan yang sangat terlatih. Sebagai putri tertua KH. Ghaffar, pengasuh utama pesantren yang menaungi ribuan santri itu, Ghoniyah bukan sekadar mewarisi darah keningratan pesantren, melainkan memikul denyut tradisi keilmuan yang telah mengalir selama tujuh generasi.

Sore itu, halaqah qira’ah kitab bersama para santriwati tingkat mutawassithah baru saja purna seperempat jam lalu. Suara langkah-langkah bakiak kayu yang beradu di atas lantai ubin serambi bawah kian menjauh menuju asrama santriwati. Hanya tersisa desau angin dingin yang membawa kabar bahwa mendung tebal di puncak bukit selatan telah merapat ke atas kubah tembaga Masjid Jami’ Darul Mukmin.

“Ning, teh melati hangatnya sudah Zulfa letakkan di atas meja samping,” suara Halimah, salah seorang santriwati khadam ndalem yang bertubuh mungil, terdengar amat pelan dari ambang pintu yang bertabir kain bludru hijau tua.

Ghoniyah mengangkat wajahnya sedikit, menyunggingkan senyuman tipis yang membingkai paras teduhnya. Jilbab paris berwarna krem gading menjuntai rapi menutupi dada, tanpa ada sehelai pun perhiasan mencolok kecuali sebuah peniti perak kecil warisan almarhumah ibundanya. “Matur nuwun, Halimah. Jangan lupa tutup jendela barat asrama putri sebelum gerimis turun. Sepertinya angin sore ini membawa hawa hujan lebat.”

“Inggih, Ning. Sendika dhawuh,” Halimah membungkuk takzim, melangkah mundur perlahan dengan kepala tertunduk sampai kakinya menuruni undakan tangga kayu jati yang berderit lembut.

Kini keheningan kembali menguasai bilik perpustakaan. Ghoniyah tidak segera menyeruput tehnya. Perhatiannya perlahan beralih ke arah celah jendela kayu jati tempat ia berdiri. Dari jendela lantai dua yang terlindung teritisan atap genting lempung itu, terbentang pemandangan pelataran utara Masjid Jami’ Darul Mukmin. Pelataran bata merah berselingan dengan taburan batu kali putih yang membatasi jalur jalan setapak antara kompleks pondok putra dan pondok putri.

Di kejauhan, langit yang semula keemasan meredup cepat, ditelan awan kelabu yang menggantung berat seperti tirai raksasa yang dibentangkan malaikat. Butir-butir air pertama mulai jatuh, satu demi satu menimpa pucuk daun palem raja dan memerciki pelataran masjid. Suara gemerisik gerimis mulai menyelimuti seantero pesantren, membawa hawa petrikor yang menenangkan, berbaur dengan dengung lantunan hafalan bait-bait Alfiyyah Ibnu Malik dari bilik-bilik kamar santri yang sayup-sayup terdengar seperti zikir lebah di kejauhan.

---------------------------------------------------


BAGIAN 02: MENDUNG DI ATAS MENARA & TALANG YANG MENGELUH

Limpahan air yang mengancam serambi masjid jami’

━━ 🕌 ━━

Hujan gerimis perlahan berubah menjadi rintik yang lebih rapat dan deras. Di sudut barat atap masjid, suara gemuruh air yang tertahan terdengar mendengus gelisah. Talang seng tua yang membentang di bawah cucuran genting atap tumpang tiga tampak melengkung, kewalahan menampung tumpahan air hujan yang datang dari lereng atap utama.

Ghoniyah yang masih berdiri mematung di balik kisi-kisi jendela segera menyadari bahaya yang mengancam. Talang seng di sudut itu tampaknya kembali tersumbat tumpukan ranting patah dan endapan daun pohon trembesi tua yang menjulang di dekat sumur wudhu. Jika talang itu jebol atau meluap tak terkendali, hempasan air bercampur lumpur atap akan membanjiri serambi tempat shalat dan merusak karpet sajadah Turki sumbangan para muhsinin.

Terlebih lagi, tepat di bawah cucuran talang yang bocor itu adalah jalur lintasan utama santri cilik dan jemaah sepuh dari arah asrama selatan menuju tempat wudhu. Di sana, air telah mulai meluncur deras membentuk tirai air terjun mini yang menyembur ke permukaan ubin licin, mengubah jalan setapak menjadi kubangan berbahaya.

“Mengapa belum ada santri roan yang naik?” bisik Ghoniyah lirih dalam relung hatinya, diliputi rasa khawatir. Sebagian besar santri putra saat jam-jam menjelang Asar biasanya sedang tekun bersiap di kamar mandi asrama atau menuntaskan setoran hafalan nadhom di serambi utama. Suara petir bergemuruh halus dari balik pekatnya bukit, menggetarkan kaca-kaca jendela bilik maktabah.

Tepat saat kecemasan Ghoniyah memuncak, sesosok bayangan manusia melangkah cepat menembus tirai hujan di pelataran bata merah. Sosok itu bukan datang dengan payung atau jas hujan, melainkan hanya mengenakan kemeja koko hitam sederhana yang lengannya telah digulung hingga ke bawah siku, berpadu sarung poleng tenun gelap yang disingkapkan sebatas betis agar tidak menyapu genangan air.

Di kepalanya, peci beludru hitam yang telah memudar warna tepiannya bertengger mantap. Pemuda itu memikul sebatang tangga bambu petung panjang di pundak kanannya, sementara tangan kirinya menjinjing ember seng berkarat yang berisi kawat pengikat, tang catut, dan bilah papan kayu kecil.

Langkahnya begitu mantap dan tidak terburu-buru, kendati rintik hujan telah membasahi seluruh bahu dan punggungnya hingga kain kokonya melekat basah di kulit. Ia melangkah di atas pelataran becek dengan ketenangan yang luar biasa, seolah rintik hujan yang dingin membeku itu hanyalah percikan air wudhu yang menyucikan raga.

Ghoniyah menahan napas sejenak di balik bilik maktabah. Naluri seorang pengajar dan pengamat sastra dalam dirinya terbangun seketika. Ada sesuatu yang tak lazim dari gerak-gerik pemuda bersarung poleng itu. Ia tidak memanggil kawan-kawannya dengan riuh rendah sebagaimana kebiasaan santri remaja saat kerja bakti. Tidak ada keluh kesah yang terlontar dari bibirnya. Ia bergerak sendiri, mandiri, seolah menuntaskan sebuah tugas maha penting yang telah diperintahkan langsung ke lubuk sanubarinya.

----------------------------------------------------


BAGIAN 03: PANJATAN BAMBU & KHIDMAT YANG TAK BERGEMING

Lihat selengkapnya