Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

DUA SAHABAT MADURA

SECANGKIR KOPI DUA SAHABAT MADURA

Ruang Tamu Ndalem Darul Mukmin, Malang. Tokoh: KH. Rifki Mukhtarullah, KH. Ghaffar Rasyidin, Nyai Walida Nissa

-------------

Rujukan Hadits:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Terjemahan : "Ruh-ruh (jiwa) itu seperti pasukan yang dikelompokkan (berkelompok-kelompok). Maka mana yang saling mengenal di antara mereka akan saling cocok (bersatu), dan mana yang tidak saling mengenal di antara mereka akan berselisih (berpisah)."— (HR. Bukhari no. 3336 & Muslim no. 2638)

---------------------------------------------------


--- BAGIAN I: KABUT DINGIN MALANG DAN KETUKAN DI PINTU JATI ---

Luruhnya Lelah Perjalanan di Pelataran Pesantren Darul Mukmin

━━ 🕌 ━━

Hawa dingin pegunungan Malang berdesir menusuk kain sarung Samarinda bergaris tembaga yang membalut tubuh KH. Rifki Mukhtarullah. Jarum jam dinding antik di serambi luar pesantren baru saja melintasi angka sembilan malam. Di kota berhawa sejuk ini, kabut tipis turun perlahan dari lereng Gunung Arjuno, menyelimuti pucuk-pucuk pohon trembesi tua dan membasahi batu kali di pelataran. Setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam dari pesisir Madura melintasi jembatan selat, lalu berlelah-lelah menghadiri agenda takziah atas wafatnya salah seorang masyayikh sepuh kharismatik di kawasan Singosari, rasa ngilu di persendian Kiai Rifki seketika luruh begitu moncong mobil Isuzu Panther tua berwarna hijau lumut miliknya berbelok memasuki gapura kokoh Pesantren Darul Mukmin.

Dua orang santri bersarung hijau tua dan berkopiah putih yang tengah bertugas jaga di gardu depan sempat terperanjat. Begitu kaca jendela mobil diturunkan dan wajah teduh berkacamata bingkai perak itu menyapa dengan senyum teduh seraya mengucap salam, kedua santri itu sontak membungkukkan badan sedalam-dalamnya. Salah seorang dari mereka, Kang Mukri, tergopoh-gopoh membuka gerbang kayu jati selebar-lebarnya, sementara rekannya berlari kecil menuntun laju mobil melintasi jalanan setapak bertabur kerikil putih menuju pelataran samping ndalem utama.

“Assalamu’alaikum, Kang Rifki! Ya Rabb... Maha Suci Allah yang menggerakkan roda mobil Panther tua sampean sampai ke sini! Sudah kuduga, suara deru mesin dieselnya yang batuk-batuk itu tak pernah berubah sejak sepuluh tahun lalu!”

Suara serak-serak basah yang amat berwibawa namun kental dengan keakraban itu tiba-tiba menggelegar dari ambang pintu ukir jati ndalem. KH. Ghaffar Rasyidin, sang shahibul bait sekaligus pengasuh Pesantren Darul Mukmin, melangkah menuruni tiga undakan teras tanpa sempat memakai sandal terompahnya. Sorban putih tersampir santai di bahu kirinya yang masih kokoh meski garis-garis usia telah merambati keningnya. Senyum lebarnya merekah di balik jenggot tipis keputihan, memancarkan binar sukacita yang meluap tanpa sekat protokoler formal pesantren.

Dua kiai sepuh itu saling merengkuh erat dalam pelukan ukhuwah yang tulus. Tangan-tangan mereka saling menepuk punggung dengan kehangatan persaudaraan yang telah teruji melintasi empat dekade zaman. Di teras bertiang kayu jati itu, mereka bukan sedang menjadi dua tokoh besar yang fatwanya dinanti puluhan ribu jamaah atau yang dihormati para pejabat negara. Mereka seketika kembali menjadi dua sahabat karib berpeci miring yang dulu tidur beralas tikar pandan robek di pelosok tanah garam Madura.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Cak Ghaffar... Husy, jangan sembarangan menghina mobil tua ini. Mesinnya boleh batuk dan knalpotnya mengepul, tapi berkah wirid dan shalawatnya yang mengantarku selamat menanjak di Lawang tanpa mogok. Lagipula, mana sudi aku sudah menginjakkan kaki di tanah Malang tapi tidak mampir mencicipi kopi di ndalem sahabat karibku? Dosa ukhuwah namanya kalau sampai aku melangkahi rumah saudaraku sendiri tanpa mengetuk pintu.”

Kiai Ghaffar tertawa renyah sembari menggandeng lengan Kiai Rifki dengan penuh takzim. “Ayo, monggo mlebet, Kang. Hawa Malang malam ini sedang nakal-nakalnya, dinginnya menusuk sampai ke tulang belikat. Di dalam sudah kutunggu sejak azan Isya tadi.” Keduanya melangkah beriringan melewati pintu gebyok berukir kaligrafi ayat kursi, meninggalkan kabut malam yang mulai menebal di luar.

--------------------------------------------------


--- BAGIAN II: RACIKAN KOPI TUBRUK DAN BAKI KAYU JATI ---

Sentuhan Kehangatan Nyai Walida Nissa di Ruang Tamu Ndalem

━━ 🕌 ━━

Ruang tamu Ndalem Darul Mukmin memancarkan aura ketenangan yang menenteramkan sanubari. Tidak dijumpai kursi sofa kulit sintetis yang congkak ataupun ornamen kristal gemerlap. Lantai ubin tuanya tertutup permadani Persia tebal bernuansa merah marun yang menebarkan wangi serbuk cendana dan minyak gaharu murni. Di sekeliling dinding, deretan lemari kaca setinggi langit-langit memuat ribuan jilid kitab kuning klasik bertinta kuning dan cokelat—dari mushaf kuno bertinta prada, Tafsir Thabari, Ihya’ Ulumiddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, hingga himpunan syarah ushul fiqih yang tepian jilidnya telah aus karena ribuan kali dibolak-balik tangan para pecinta ilmu.

Belum genap lima menit kedua kiai meluruskan persendian di atas karpet sembari menyandarkan punggung pada bantal guling beledu, terdengar bunyi gesekan sandal selop halus dari balik partisi kayu pembatas ruang dalam. Pintu kayu bergeser tanpa suara, menampakkan sosok Nyai Walida Nissa yang melangkah anggun sembari membawa baki kayu jati berukir motif sulur tembakau. Di atas baki itu bertengger dua cangkir porselen putih bercorak blimbing khas tradisi pesisiran, sebuah piring porselen berisi jadah ketan bakar yang gurih dengan taburan kelapa muda parut, serta pisang goreng kepok kuning yang masih mengepulkan uap harum manis.

“Alhamdulillah, sugeng rawuh Kang Rifki. Monggo dipun unjuk selagi taksih benter... Ini kopi robusta Dampit petik merah dari lereng Semeru, disangrai sendiri dengan wajan tanah liat di pawon belakang. Kiai Ghaffar ini tadi sejak maghrib sudah gelisah bolak-balik ke serambi, katanya hidung batinnya mencium bau sarung sampean bakal singgah malam ini.”

Nyai Walida meletakkan cangkir-cangkir itu dengan gerakan tangan yang begitu halus dan penuh tata krama seorang nyai pini sepuh. Kerudung cokelat mudanya menutupi dada dengan rapi, membingkai parasnya yang teduh dan memancarkan wibawa keibuan yang menyejukkan. Sebagai putri seorang kiai kharismatik yang sejak muda telah memahami seluk-beluk perjuangan suaminya di masa serba prihatin, Nyai Walida memandang Kiai Rifki bukan semata kiai tamu terhormat, melainkan saudara kandung seperguruan yang darah dan doanya telah menyatu dalam satu suluh barakah.

“Matur nuwun sanget, Ning Walida. Ya Allah, aroma kopinya saja sudah membuyarkan kantuk perjalanan tiga hari tiga malam. Dulu waktu kita masih mondok di Madura, boro-boro mencium aroma kopi wangi berempah begini. Yang kami rebus di pawon itu bubuk jagung gosong ditumbuk kasar campur sedikit jelaga panci, airnya ditimba dari sumur tua berlumut. Sekarang disuguhi kopi buatan Nyai Walida dengan cangkir porselen begini, rasanya derajat kami melonjak dari santri klontang jadi pembesar kraton!”

Tawa renyah seketika meledak di ruang tamu ndalem itu. Nyai Walida tersenyum simpul seraya menggelengkan kepala dengan sorot mata geli bercampur takjub. Sebelum undur diri ke ruang tengah untuk menyiapkan santap malam, beliau sempat menukas dengan nada mencubit manis: “Dua kiai sepuh ini kalau sudah bersua, seribu santri di asrama pasti tidak akan percaya kalau panutannya yang berwibawa di atas mimbar bisa kembali bergurau lepas persis santri umur tujuh belas tahun.”

---------------------------------------------------


--- BAGIAN III: MEMORI PAWON MADURA: NASI ARON DAN INTIP GOSONG ---

Nostalgia Empat Puluh Tahun Silam di Tengah Kepulan Asap Kobong

Lihat selengkapnya