Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

RAHASIA YANG TERSIBAK

Rahasia yang Tersibak

Bilik Kobong Asrama & Kamar Ndalem Banat.

-------------

Rujukan Spiritual: QS. Al-Baqarah: 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Transliterasi:

Kutiba ‘alaikumul-qitaalu wa huwa kurhul lakum, wa ‘asaa an takrahū syai’aw wa huwa khairul lakum, wa ‘asaa an tuhibbuu syai’aw wa huwa syarrul lakum, wallaahu ya‘lamu wa antum laa ta‘lamuun.

Terjemahan Kemenag RI:

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

----------------------------------------------------


--- Bagian I: PANGGILAN LARUT DI RUANG NDALEM ----

Titah yang Menggetarkan Sendi Santri Khidmah

Lokasi: Ruang Tamu Dalam Ndalem Kiai Ghaffar | Waktu: Pukul 21.30 WIB — Seusai Wirid Isya

━━ 🕌 ━━

  Malam di Pesantren Al-Falah luruh dalam selimut kabut tipis lereng bukit. Gemercik air yang mengalir dari pancuran bambu kolam kulah utama terdengar bagai bisikan zikir yang tak pernah terputus. Di lorong-lorong asrama putra, ratusan santri mulai larut menekuni nadham dan muthala'ah kitab, menyisakan dengung lebah yang syahdu di bawah temaram lampu teplok dan bohlam pijar kuning.

  Namun bagi Qoifun, langkah kakinya malam itu terasa seberat timah. Sebuah pesan singkat dari Kang Lurah Pondok baru saja mengantarkannya melintasi gerbang batas ndalem—wilayah sakral yang pantang dimasuki sembarang santri tanpa ada dawuh khusus dari Kiai sepuh.

  Dengan sarung goyor lusuh bermotif samar, kemeja putih berlengan panjang yang sudah mulai menguning di bagian kerah, serta kopyah hitam yang telah pudar beludrunya, pemuda itu melangkah menunduk. Pandangannya terpaku pada ubin semen abu-abu tua yang dingin menyentuh telapak kakinya yang kapalan. Setiap embusan napasnya sarat dengan rasa bersalah yang tak terjelaskan.

  “Ngapunten, Yai... Kulo Qoifun,” suaranya bergetar parau saat berlutut di bibir pintu kayu jati berukir sulur daun kelapa.

  Pintu itu telah terbuka separuh. Di ruang dalam yang beralas karpet tebal Persia warna merah marun, aroma minyak gaharu bercampur asap tipis tembakau rajangan tercium menenangkan sekaligus mengintimidasi. KH. Ghaffar Rasyidin duduk bersila di dekat meja pendek. Di atas meja, sebuah cangkir porselen putih berisi teh melati masih mengepulkan uap tipis, berdampingan dengan tumpukan manuskrip kitab Ihya Ulumuddin jilid ketiga.

  “Mlebu, Cung. Pinarak kene, cedhak kene,” sambut sang Kiai dengan nada yang teramat lembut. Suara bas yang berwibawa itu tidak mengandung kemarahan, tetapi bagi Qoifun, kelembutan tersebut justru terasa seperti kilat yang menyambar di dada.

  Qoifun merayap dengan lututnya, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun. Sesuai adab para santri salaf, pandangan matanya hanya terpatri pada ujung jemari kaki sang guru. Dadanya bertalu-talu. Apakah ada kesalahannya saat membersihkan bak wudhu masjid kemarin sore? Ataukah perihal ketidakhadirannya pada sorogan Kitab Fathul Mu'in subuh tadi karena harus menyabit rumput untuk kambing pondok?

  “Qoifun,” Kiai Ghaffar berdehem perlahan, membetulkan letak serban putih di pundaknya. Tangannya yang berurat halus memegang selembar amplop cokelat tebal dengan tulisan kaligrafi Arab pegon bertinta emas di sudut kanannya. “Tiga tahun kowe manggon ning kene. Kowe milih dadi santri khidmah, nyapu pelataran, ngresiki got, ngasak sawah, turu ning bilik kobong paling pojok karo arek-arek cilik.”

  Keringat dingin membasahi pelipis Qoifun. “Leres, Yai... Menawi kulo kathah lepat lan kirang toto titi...”

  “Ora, Cung. Ora ana lepatmu,” Kiai Ghaffar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kedalaman samudra hikmah yang tak terukur. “Nanging sandiwara iki wis kudu dipungkasi. Sore mau, utusan saka Kediri teka nggawa layang iki. Saka abahmu... Kiai Sepuh Habibillah. Pengasuh Agung Pesantren Luhur Darul Ikhsan.”

  Kata-kata itu laksana guntur di siang benderang. Kepala Qoifun mendadak pening luar biasa. Bumi tempatnya bertumpu seolah runtuh terbelah. Rahasia yang selama tiga warsa ia sembunyikan dengan cucuran keringat dan luka lecet di telapak tangannya kini terhampar telanjang di hadapan kiai yang paling ia muliakan.

  Topeng itu lepas sudah. Ia bukan lagi sekadar 'Qoifun anak desa pelosok' yang sebatang kara dan numpang makan di barakah pesantren. Ia adalah Gus Qoifun Habibillah, darah daging trah ulama besar nusantara, pewaris takhta ribuan santri di tanah Jawa.

  “Gus Qoifun...” panggil Kiai Ghaffar dengan sebutan yang membuat seluruh persendian pemuda itu lemas lunglai bagai kapas basah.

  “Ampun, Yai! Mugi panjenengan mboten nimbali kulo kados makaten! Kulo naming debu ingkang ngalap barakah wonten ngarsa panjenengan!” rintih Qoifun. Air matanya seketika merebak, pecah menganak sungai di pipinya yang tirus. Ia mencium lantai karpet dengan dahi bergetar hebat. Panggilan 'Gus' dari mulut gurunya adalah cambuk paling menyiksa bagi jiwa yang sedang berusaha membakar habis benih-benih takabur nasab.

  Kiai Ghaffar menghela napas panjang. Tatapan matanya teduh menembus keremangan. “Takzimmu iku emas, Cung. Nanging takdir Gusti Allah dudu barang dolanan sing kena kowe selaki nganggo rasa asor sing keladuk. Abahmu wis rembugan sepakat karo aku. Wis titi wancine... Kowe diutus nggarwa anakku, Ghoniyah.”

----------------------------------------------------


--- Bagian II: GUNCANGAN JIWA SANG PEWARIS ---

Kerdilnya Hati di Depan Amanah Dua Samudra

Lokasi: Sudut Ruang Ndalem Kiai Ghaffar | Waktu: Pukul 22.00 WIB

━━ 🕌 ━━

  Dunia di sekeliling Qoifun serasa membeku seketika. Detik jam dinding kayu di ruangan itu bagai pukulan palu godam di kepalanya. Ghoniyah? Ning Ghoniyah Shobiyah? Bunga ndalem yang namanya saja jarang berani disebut oleh para santri kecuali dengan rasa tunduk dan doa keselamatan?

  Qoifun tahu persis siapa Ning Ghoniyah. Siapa pun santri di pesantren ini yang pernah mendengar lantunan tilawahnya dari pengeras suara musala banat saat menjelang Magrib pasti tertegun oleh kebeningan makhraj dan kekhusyukan suaranya. Ning Ghoniyah bukan hanya seorang hafizhah Al-Qur'an tiga puluh juz sejak usia belia, melainkan juga mutiara adab yang dijaga sedemikian rapat oleh tirai-tirai kesucian.

  Sering kali, ketika Qoifun sedang memikul karung beras dari gudang menuju dapur ndalem, ia hanya berani menatap bayang-bayang langkah anggun di sebalik korden jendela lantai dua. Ada kekaguman yang terpendam jauh di palung hatinya yang paling rahasia—kekaguman yang buru-buru ia istighfari setiap kali terlintas, karena ia merasa bahwa memikirkan putri kiai adalah sebuah kelancangan rohani bagi santri rendahan seperti dirinya.

  “Yai...” Qoifun terbata-bata, lidahnya kelu dan bibirnya gemetar tak sanggup menyusun kalimat krama inggil dengan sempurna. “Kulo... kulo mboten pantes. Kulo menika santri ingkang reged, tebih saking kasucian. Ning Ghoniyah menika rembulan, dene kulo namung cacing wonten salebeting lendhut. Kados pundi kulo saged nuntun tiyang estu ingkang langkung luhur elmunipun, langkung resik manahipun?”

  Kiai Ghaffar tersenyum lembut seraya meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas puncak kepala Qoifun yang tertunduk. Kehangatan tangan itu meredakan kepanikan yang berkecamuk di pembuluh darah sang santri.

  “Cung, wong omah-omah iku dudu lomba dhuwur-dhuwuran drajat utawa pamer-pameran kemuliaan nasab,” tutur Kiai Ghaffar tenang. “Pernikahan iku loro kapal sing nyawiji kanggo nyabrangi segara akhirat sing kebak ombak. Abahmu ngutus kowe nyantri ing kene tanpa gelar Gus, tujuane supaya kowe ngerti rekasane wong cilik, ngrasakake asin lan perise urip, supaya kowe ora dadi pemimpin sing jemawa.”

  Kiai Ghaffar menyodorkan amplop cokelat itu. Segel lilin merah berlogo Darul Ikhsan masih utuh berkilau.

  “Abahmu dhawuh: ‘Qoifun wis lulus tirakate. Saiki pasrahna marang takdire.’ Kowe ora mung nampa Ghoniyah minangka bojo, Cung. Kowe nampa amanah kanggo nggandheng tangane Darul Ikhsan lan Al-Falah dadi siji payung kanggo umate Kanjeng Nabi. Apa kowe wani nampik wasiat saka wong tuwamu loro?”

  Pertanyaan pamungkas itu menancap lurus di ulu hati Qoifun. Dalam doktrin santri yang mengalir di setiap tetes darahnya, rida orang tua dan rida guru adalah gantungan rida Ilahi. Menolak titah abah dan sang kiai sama saja dengan merubuhkan fondasi ketaatan yang ia bangun belasan tahun. Namun menerimanya terasa seperti memikul gunung Uhud di atas pundaknya yang ringkih.

  “Kulo... kulo nyuwun wekdal kagem istikharah, Yai,” desis Qoifun dengan suara yang nyaris tenggelam oleh isak tangis. “Kulo ajrih menawi panampi kulo menika namung nuruti hawa nafsu ingkang mbalut ketaatan, utawi ajrih menawi kulo damel kuciwa manahipun Ning Ghoniyah.”

  Kiai Ghaffar mengangguk penuh pengertian. “Iku dalan sing bener. Madura marang Gusti Allah ing sepertiga wengi. Ungkapno kabeh rasa cilikmu ing sujud. Nanging elinga, dawuh iki ora bakal ditarik maneh.”

----------------------------------------------------

Lihat selengkapnya