Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

KHITBAH YANG SUNYI

KHITBAH YANG SUNYI

SERAMBI BELAKANG NDALEM DARUL MUKMIN

--------------

Hadits:

Rasulullah ﷺ bersabda artinya:

"Jika datang kepada kalian seorang pria yang kalian ridhai agama dan akhlaknya untuk meminang (putri kalian), maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar." (HR. Tirmidzi no. 1084; dinilai hasan oleh Al-Albani)

-----------------------------------------------------

--- I. Bayang-Bayang Asar di Serambi Belakang ---

Desau Daun Pisang dan Aroma Kayu Gaharu

━━ 🕌 ━━

Hujan rintik yang turun semenjak azan asar baru saja mereda, menyisakan butir-butir air yang menggelantung di ujung pelepah daun pisang raja di pekarangan belakang Ndalem Darul Mukmin. Udara sore berembus lambat, mengantarkan aroma tanah basah bercampur harum semerbak dupa kayu gaharu yang dibakar tipis-tipis di atas pedupaan kuningan kecil milik KH. Ghaffar Rasyidin. Lantai serambi belakang yang beralaskan tegel abu-abu klasik bertekstur sejuk tampak bersih mengilap sehabis disapu dan dipel dengan air rebusan daun sereh wangi oleh para santri abdi ndalem sejak selepas zuhur tadi.

Di sudut serambi, di atas meja bundar dari kayu jati gelondongan peninggalan kakek buyut, telah tertata rapi deretan cangkir blirik hijau loreng bertutup seng. Uap tipis mengepul dari teko lurik besar berisi wedang jahe sereh gula aren yang masih mendidih perlahan di atas anglo tanah liat kecil. Tidak ada meja perjamuan prasmanan bertingkat ala hotel berbintang, tidak ada karangan bunga impor yang berderet di sepanjang regol gerbang pesantren, dan tidak ada panggung berbalut kain satin mengilat sebagaimana lumrahnya hajatan lamaran kaum berpunya di kota-kota besar zaman sekarang.

Nyai Ghalia melangkah dengan tenang memeriksa letak piring-piring porselen putih polos berisi jadah ketan bakar dan pisang kepok kukus yang baru saja diangkat dari pawon ndalem. Gerak-geriknya gemulai, dibalut jarik batik parang klithik dan selendang mori putih gading yang disampirkan di pundak kirinya. Meski gurat-gurat usia telah menghias sudut pelipisnya, wibawa seorang nyai sepuh pengasuh ribuan santri putri memancar dengan kelembutan yang menyusup ke setiap sudut ruangan.

"Ghoniyah sampun rampung, Buk?" bisik suara berat nan teduh dari arah pintu serambi. KH. Ghaffar Rasyidin melangkah keluar dari ruang tengah, mengenakan baju takwa putih katun tanpa kerah kaku, sarung tenun sutra hijau lumut bermotif samar, serta songkok beludru hitam yang sedikit miring ke kanan. Di tangannya, seuntai tasbih kayu cendana berbutir seratus berputar pelan di antara sela jemarinya yang liat.

"Sampun, Yai," jawab Nyai Ghalia seraya membetulkan lipatan serbet di tepi meja. Suaranya halus mengalun bagai desau angin sore. "Lare punika taksih lungguh wonten bilik wingking. Ndedonga nyuwun krenteg ingkang sae. Mboten manggen rasa ajrih, namung debaring manah prawan ingkang badhe pinanggih jodhonipun."

Kiai Ghaffar menghentikan putaran tasbihnya sejenak. Pandangannya menatap jauh melintasi rumpun bambu kuning di batas pekarangan, tempat burung kepodang berkicau menyambut petang. "Alhamdulillah. Pernikahan wonten ing alam pesantren punika mboten nate babagan pawai bandha utawi gumedhening asma. Kiai Rifki punika sedherek sepuh ingkang sanget kula kurmati. Manawi Gus Qoifun ingkang rawuh, kita mboten nampi semaraking donya, nanging nampi amanahing ilmu lan rukunipun sanad para leluhur."

---------------------------------------------------


--- II. Derit Roda di Atas Kerikil Pekarangan ---

Dua Kijang Tua Tanpa Sirine dan Iring-iringan

━━ 🕌 ━━

Tepat pukul setengah lima sore, suara gemeretak ban yang melindas hamparan kerikil basah terdengar dari arah regol samping pondok. Bukan raungan mesin sport bertenaga kuda tinggi, bukan derit konvoi sedan mewah berkilat, apalagi raungan sirine patwal yang kerap membelah jalan raya demi mengabarkan gengsi sebuah keluarga ningrat baru. Yang berbelok perlahan melewati rindang pohon sawo kecik hanyalah dua unit Toyota Kijang Kapsul tua keluaran awal dekade dua ribuan.

Mobil pertama berwarna abu-abu temaram yang cat di kap mesinnya sudah mulai kusam tersengat matahari bertahun-tahun, disusul mobil kedua berwarna biru malam dengan kaca samping berdebu tipis sisa perjalanan antar-kabupaten. Suara mesin dieselnya bergetar teratur dan halus, seperti ritme napas santri yang terbiasa melafalkan selawat di tengah malam gulita. Kedua mobil itu berhenti tepat di bawah naungan pohon randu alas di samping serambi belakang, tanpa klakson yang memekakkan telinga.

Pintu mobil pertama membuka dengan bunyi klik yang santun. Seorang lelaki sepuh melangkah turun dengan amat berhati-hati. Dialah KH. Rifki Mukhtarullah, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ikhsan yang tersohor alim dalam ilmu hadis dan qira'at sab'ah. Kiai Rifki mengenakan gamis lurik tenun gelap bertenun lurik Klaten yang sederhana, berlapik sandal selop kulit cokelat tua yang ujungnya telah mengelupas tipis karena terbiasa diseret di pelataran musala. Di kepalanya tersemat serban putih lusuh yang dililitkan tanpa jarum pentul, jatuh membingkai jenggot putihnya yang terjaga rapi.

Dari pintu penumpang depan, Nyai Walida melangkah turun. Beliau tidak mengenakan gaun brokat gemerlap bertabur manik-manik kristal swarovski layaknya tren ibu-ibu pejabat yang hendak besanan. Ibu Nyai dari Darul Ikhsan itu hanya berbalut kebaya beludru warna cokelat lumut yang longgar, kain jarik sogan Solo berlipat rapi, dan kerudung paris polos warna krem muda tanpa perhiasan kalung atau gelang emas yang menjuntai. Wajahnya yang teduh hanya dipoles air wudu, menyiratkan ketenteraman batin yang telah lama rampung menaklukkan gemerlap fatamorgana duniawi.

Dan kemudian, dari pintu tengah mobil yang sama, melangkah turun seorang pemuda kurus berpostur sedang. Gus Qoifun Habibillah. Mengenakan baju koko takwa putih bersih dari bahan katun lokal yang tidak kaku oleh kanji berlebih, berpadu sarung tenun Samarinda motif wadasan kelam. Di kepalanya bertengger songkok beludru hitam polos tanpa ornamen emas. Langkah kakinya begitu pelan, kepalanya tertunduk takzim menatap tanah basah, seolah takut menginjak semut atau merusak keheningan yang menyelimuti pekarangan Darul Mukmin.

Di tangannya, pemuda berusia dua puluh delapan tahun itu menenteng sebuah tas jinjing anyaman daun pandan sederhana beralas kain putih. Tiada kotak-kotak akrilik transparan berlampu LED yang mempertontonkan deretan sepatu impor bermerek, tas desainer bernilai puluhan juta, atau setumpuk kosmetik luar negeri. Di belakang mereka, empat orang santri senior Darul Ikhsan turun dari mobil kedua membawa dua buah tampah bambu kecil bertutup daun pisang pupus dan sebuah peti kayu jati berukir antik berukuran sejengkal setengah. Itu saja. Sederhana, hening, dan sarat dengan martabat adab yang tak ternilai harganya.

---------------------------------------------------


--- III. Sambutan Sesepuh dan Sanepo Mataraman ---

Pertemuan Dua Samudra Keilmuan

━━ 🕌 ━━

Melihat tamunya telah menapakkan kaki di pelataran serambi, KH. Ghaffar Rasyidin segera menuruni tiga undakan batu bata merah serambi belakang tanpa alas kaki. Wajah sang kiai berbinar, memancarkan kegembiraan yang tulus. Kedua kiai sepuh itu saling mendekat, lalu seketika saling berebut untuk membungkukkan badan dan mencium punggung tangan satu sama lain. Sebuah pemandangan yang selalu menggetarkan dada siapa pun yang menyaksikannya: dua manusia yang di pundaknya bersandar sanad keilmuan ribuan santri, justru saling merendahkan diri seolah masing-masing merasa paling fakir di hadapan Allah.

"Kiai Rifki... kados pundi kabaripun? Mugi tansah pinaringan berkah lan kawilujengan," sapa Kiai Ghaffar dengan suara yang bergetar menahan haru, merangkul pundak sahabat seperjuangannya di masa mondok di Termas dan Sarang puluhan tahun silam.

"Alhamdulillah, Kiai Ghaffar. Pangestunipun panjenengan, kula sakulawarga saged rawuh kanthi slamet. Nyuwun agunging pangaksami ingkang tanpa pepindhan, dene sowan kula namung mbekto bledug lan rintiking jawah, boten mbekto kemewahan punapa-punapa kejawi silaturahmi ingkang tulus," jawab Kiai Rifki dengan tutur basa krama inggil yang lembut mengalir, khas priyayi santri Mataraman yang menempatkan rasa tawaduk di puncak tutur katanya.

"Mboten wonten ingkang langkung berharga tinimbang rawuhipun panjenengan sedaya, Kiai. Mangga, mangga pinarak ing serambi wingking supados langkung prayogi lan adhem hawane," sahut Kiai Ghaffar mempersilakan tamunya melangkah naik ke serambi.

Di belakang para kiai, Nyai Walida dan Nyai Ghalia bersua. Kedua nyai sepuh itu saling menggenggam jemari erat-erat, menempelkan pipi kanan dan kiri tanpa suara cengkerama basa-basi yang berisik. Dalam tatapan mata keduanya, terpancar pemahaman mendalam tentang tugas berat seorang ibu nyai: merawat suluh agama di bilik-bilik pesantren dan mengantarkan putra-putri mereka menuju gerbang pengabdian seumur hidup.

Gus Qoifun melangkah paling belakang di antara rombongan keluarga inti. Saat tiba di hadapan Kiai Ghaffar, pemuda itu langsung bersimpuh di atas lututnya di undakan teratas, mencium tangan Kiai Ghaffar dengan hidung menyentuh punggung tangan sang kiai berulang kali, lantas mencium tangan Nyai Ghalia dengan kepatuhan seorang santri kepada gurunya. Kiai Ghaffar membelai pundak Qoifun seraya menggumamkan doa lirih: "Barakallahu fik ya waladi... mugi jembar dhadhamu, le."

Mereka kemudian duduk bersila di atas ambal merah tua bermotif bunga kismis yang dihamparkan di lantai serambi tegel. Udara sore yang sejuk mengalir bebas melalui celah pilar-pilar kayu jati saka guru yang menopang atap serambi. Suasana begitu hening dan syahdu, hanya ditingkahi gesekan dedaunan pisang di halaman dan kepulan asap wedang jahe yang wangi.

---------------------------------------------------

Lihat selengkapnya