Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

DI BAWAH LAMPU ROBYONG

Dua Kalimat di Bawah Lampu Robyong

Lokasi: Masjid Utama Pesantren Darul Mukmin, Malang, Jawa Timur. Waktu: Hari Jumat ba'da Ashar menjelang Maghrib

-------------

Rujukan: QS. An-Nisa: 21 (Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha).)

An-Nisa' · Ayat 21

وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا ۝٢١

Wa kaifa ta'khudzûnahû wa qad afdlâ ba‘dlukum ilâ ba‘dliw wa akhadzna mingkum mîtsâqan ghalîdhâ

Bagaimana kamu akan mengambilnya (kembali), padahal kamu telah menggauli satu sama lain (sebagai suami istri) dan mereka pun (istri-istrimu) telah membuat perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) denganmu?

---------------------------------------------------


--- Bagian I: Lembayung Asar di Kaki Panderman ---

Gerimis Pegunungan Malang dan Riak Hening Ribuan Santri

━━ 🕌 ━━

Hawa sejuk lereng pegunungan Malang merambat perlahan menembus celah-celah ventilasi kayu jati berukir kaligrafi tsuluts di Masjid Utama Pesantren Darul Mukmin. Di luar, langit ba'da Ashar hari Jumat itu tidak sepenuhnya terang, pun tidak pula kelam; ia membentang serupa kanvas beledu kelabu muda yang dibasahi rintik gerimis halus. Dedaunan pohon sawo kecik yang telah berumur puluhan tahun di pelataran barat tampak mengilap terbasuh air hujan, menjatuhkan tetes-tetes bening ke atas batu kali yang tertata rapi di tepian selasar.

Bau tanah basah yang khas—petrichor berbaur dengan uap rempah dan dupa cendana yang dibakar di beberapa pedupaan tembaga di serambi—menciptakan semacam aroma kesakralan purba. Bau itu adalah bau ribuan doa yang selama setengah abad terakumulasi di bawah atap tumpang tiga masjid kuno ini. Setiap tiang penyangga kayu jati berdiameter satu depa tampak kokoh menghujam lantai marmer, seolah menjadi saksi bisu atas generasi demi generasi santri yang pernah menumpahkan air mata taubat dan munajat di malam-malam sunyi.

Di dalam ruang utama, ribuan santri putra duduk bersila dengan kerapian yang menakjubkan. Barisan mereka lurus tak ubahnya saf salat fardhu. Ribuan peci hitam dan putih berpadu dengan baju takwa bersih, menciptakan pemandangan laksana lautan buih yang tunduk dalam ketenangan absolut. Tidak ada gemersik sandal, tidak ada bisik tawa yang biasanya menyertai sore hari di asrama. Yang terdengar hanyalah desau napas yang tertahan, sesekali suara gesekan kain sarung ketika seseorang membetulkan duduk tafasyi-nya, serta detak berat jam bandul buatan Belanda setinggi dua meter di sisi mihrab.

Tiktak... tiktak... bandul kuningan itu berayun malas, menghitung detik-detik yang seolah ditarik memanjang oleh takdir. Setiap dentangnya terdengar laksana gedoran palu di dinding dada Gus Qoifun Habibillah.

Qoifun duduk di tengah ruangan, tepat di hadapan sebuah meja kayu pendek beralaskan kain beledu hijau zamrud bersulam benang perak. Ia duduk bersimpuh tegak, kedua telapak tangannya bertumpu di atas paha. Di balik tenangnya paras pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu—paras yang mewarisi garis hidung tegas ayahnya dan keteduhan mata ibunya—ada ombak samudra yang sedang bergolak hebat. Darahnya berdesir kencang, menghantam dinding-dinding pembuluh nadinya dengan ritme yang tak mampu diredam oleh zikir apa pun yang sedang ia rapalkan di dalam hati.

Ia mengenakan jas hitam potongan kancing lima khas santri pondok salaf, membalut kemeja putih berkerah shanghai yang kaku dan licin. Sarung yang dipakainya adalah sarung sutra Samarinda tenun tangan berwarna hijau lumut tua dengan selingan larik-larik benang emas redup—hadiah pribadi dari almarhum kakeknya yang disimpan bertahun-tahun di dasar peti kayu jati, menunggu hari ketika sang cucu ditakdirkan menggenapkan separuh agamanya.

Di jemari tangan kirinya yang dingin, sebuah tasbih kayu gaharu tua berwarna cokelat kehitaman berputar pelan tanpa henti. Satu biji, satu istighfar. Satu biji lagi, satu shalawat. Namun setiap kali ujung jarinya menyentuh butir pembatas tasbih, bayangan akan apa yang hendak berlangsung beberapa menit ke depan kembali merenggut seluruh kesadarannya: sore ini, ia tidak sedang diuji hafalan Alfiyah Ibnu Malik, tidak sedang berdiri memimpin bahsul masail fiqhiyah di hadapan kiai-kiai sepuh, melainkan sedang bersiap melompat ke seberang jurang kehidupan—mengambil alih tanggung jawab jiwa seorang perempuan dari tangan gurunya sendiri.

-------------------------------------------------


--- Bagian II: Kilau Kristal Lampu Robyong ---

Pusaka Cahaya Kiai Sepuh dan Getar Batin Sang Pengelana Ilmu

━━ 🕌 ━━

Tepat di atas kepala Qoifun, tergantung sebuah lampu robyong kuno peninggalan Kiai Rasyidin, pendiri pesantren Darul Mukmin. Lampu gantung raksasa bertingkat tiga itu berkerangka kuningan tempa dengan puluhan cabang lengkung yang menopang mangkuk-mangkuk kaca kristal Bohemia. Di masa lalu, lampu itu menyala dengan sumbu minyak jarak yang menghasilkan nyala kuning hangat berbau wangi. Kini, meski telah diganti dengan bola-bola lampu pijar berdaya rendah, temaram cahaya yang dipancarkannya tetap mempertahankan kehangatan amber yang magis.

Kristal-kristal prisma yang menjuntai di tepian kerangka kuningan itu membiaskan cahaya ke segala penjuru kubah masjid. Pantulannya jatuh di atas anyaman karpet permadani, membentuk lingkaran-lingkaran emas semu yang bergetar halus setiap kali hembusan angin lembah menyelinap lewat jendela busur.

Bagi santri Darul Mukmin, lampu robyong itu bukan sekadar perabot antik. Di bawah lampu itulah Kiai Rasyidin mengijazahkan sanad Sahih Bukhari kepada murid-murid pilihannya puluhan tahun silam. Di bawah lampu itu pula, fatwa-fatwa pergerakan santri pada masa perjuangan kemerdekaan dirumuskan dengan linangan air mata. Dan sore ini, lingkaran cahaya amber itu dipersiapkan untuk melingkupi dua insan yang sebelumnya tak pernah saling bertukar sapa.

Qoifun menundukkan pandangannya. Karpet permadani Persia bermotif floral di bawah kakinya terasa tebal dan hangat, kontras dengan ujung-ujung jemari kakinya yang membeku. Ia teringat kembali pada perjalanan hidupnya. Sepuluh tahun silam, ia datang ke pesantren ini sebagai remaja kurus berkoper seng penyok dari pelosok Madura, hanya bermodalkan hafalan juz 'amma dan tekad untuk menuntut ilmu. Di Darul Mukmin, Kiai Ghaffar tidak sekadar mengajarkannya nahwu, sharaf, dan balaghah; sang guru telah membedah dadanya, menanamkan benih-benih khasy-yah—rasa takut dan takzim yang hakiki kepada Allah.

Selama sepuluh tahun itu pula, sosok Ning Ghoniyah baginya laksana bintang fajar di ufuk timur yang hanya boleh dipandang lewat tabir kesopanan. Ghoniyah adalah putri tunggal sang kiai, seorang hafidzah yang khatam kalam ilahi sejak usia belia. Di lingkungan pondok putri, namanya harum bukan karena garis darah kebangsawanannya, melainkan karena kehalusan budi pekertinya yang melegenda. Qoifun hanya pernah mendengar suaranya dua atau tiga kali: ketika sang ning menyimak setoran hafalan santriwati cilik di balik satir kayu pembatas majelis taklim dhalem.

Suara itu tenang, bening, dan berirama tartil sempurna, bagai gemercik air mata air di pegunungan yang belum tersentuh debu dunia. Tidak pernah sedetik pun terlintas dalam benak Qoifun yang fakir bahwa Kiai Ghaffar suatu hari nanti akan memanggilnya ke kamar pribadi, menyuguhkannya secangkir teh jahe hangat, lalu dengan suara tenang berkata: 'Qoifun, Ghoniyah tidak membutuhkan lelaki yang kaya harta. Ia membutuhkan penuntun yang mengenal jalan menuju surga. Bersediakah engkau menjadi imamnya?'

Mengingat percakapan di bilik sang guru itu membuat bulu kuduk Qoifun meremang. Hari itu ia bersujud lama di lantai bata kamarnya, menangis tersedu-sedu karena merasa tidak pantas menerima amanah sebesar langit. Namun hari ini, waktu keraguan telah habis. Jarum panjang jam dinding telah bergeser ke angka sepuluh. Pintu kayu jati di samping mimbar berderit perlahan, dan gumam takzim serentak merayap di antara para kiai sepuh yang duduk melingkar.

---------------------------------------------------


Lihat selengkapnya