Malam Pertama yang Canggung di Ndalem
Secangkir teh melati, Kitab Al-Hikam, dan jarak satu meter di tepi ranjang
-------------
Tema: Adab Islami, Ketawadukan, Memuliakan Pasangan, Tawakal Al-Hikam, Romantisme Pesantren
Rujukan Al-Qur'an: An-Nisa' · Ayat 19
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ١٩
Yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaḫillu lakum an taritsun-nisâ'a kar-hâ, wa lâ ta‘dlulûhunna litadz-habû biba‘dli mâ âtaitumûhunna illâ ay ya'tîna bifâḫisyatim mubayyinah, wa ‘âsyirûhunna bil-ma‘rûf, fa ing karihtumûhunna fa ‘asâ an takrahû syai'aw wa yaj‘alallâhu fîhi khairang katsîrâ.
Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.
----------------------------------------------------
--- Bagian I: Pintu Jati yang Mengatup dan Semerbak Melati ---
Ketika keriuhan walimah surut dan keheningan kamar pengantin bermula.
━━ 🕌 ━━
Bunyi gerendel kuningan itu beradu lirih, mengunci sisa-sisa keriuhan resepsi walimatul 'ursy yang sejak pagi membuncah di halaman Ndalem Darul Mukmin. Suara derai tawa sanak kerabat, gurauan para kiai sepuh yang mendoakan limpahan berkah, serta sayup gemercik sendok beradu piring porselen di ruang tengah perlahan teredam oleh daun pintu jati kuno setebal lima senti. Ruangan berukuran lima kali enam meter itu seketika ditelan keheningan yang luar biasa pekat—keheningan yang terasa begitu berbobot, seakan-akan setiap butir debu yang menari di bawah pendar lampu teplok minyak dan bohlam temaram ikut menahan napas menyimak dua jiwa yang baru saja disatukan.
Aroma kuncup melati basah yang dirangkai menjuntai dari kelambu ranjang jati ukir Jepara menyeruak kuat ke udara, bercampur dengan wangi dupa cendana lembut yang dibakar di atas pedupaan tembaga di sudut meja hias. Wangi itu manis, segar, namun bagi Ning Ghoniyah Shobiyah, semerbak bunga pengantin tersebut justru terasa menyesakkan rongga dadanya yang sejak tadi berdegup tak beraturan bagai genderang rebana hadrah saat pembacaan mahallul qiyam. Sepanjang hari, ia telah dilindungi oleh kerumunan para bibi, ibu nyai, dan santriwati khadam ndalem yang sibuk membenahi sanggul dan bedak. Namun kini, ketika pintu itu tertutup rapat dari luar dan kunci grendel telah diputar, ia menyadari sepenuhnya: ia telah ditinggalkan berdua saja dengan seorang laki-laki yang baru tadi siang menjabat tangan ayahnya dalam sehelai kain putih.
Ghoniyah masih duduk mematung di bibir ranjang kapuk bertingkat tiga yang beralaskan sprei putih berpelipit renda keemasan. Tubuhnya yang mungil terbalut kebaya akad brokat putih gading berpayet rapat, dengan selendang penutup kepala berbahan tile halus yang masih tertata rapi menyembunyikan sebagian parasnya yang merona pucat. Kedua tangannya bertaut begitu erat di atas pangkuan, hingga jemari yang dihiasi ukiran inai merah marun itu terasa dingin dan kaku laksana marmer basah. Ia menundukkan pandangan begitu dalam, menatap motif karpet permadani Persia di bawah kakinya seolah-olah seluruh rahasia alam semesta tersembunyi di jalinan benang wol tersebut. Baginya, melangkah dari dunia bilik asrama santri putri yang serba terlindung ke dalam sebuah kamar berdua dengan seorang laki-laki—meski telah sah secara syariat dan ijab kabul—merupakan lonjakan batin yang mengguncang seluruh persendian tubuhnya.
Di seberang ruangan, beberapa langkah di depan lemari kaca berisi deretan kitab kuning berjilid tebal, Gus Qoifun Habibillah berdiri tak kalah kaku. Sorban putih bermotif kashmir yang semula melingkar megah di bahunya telah ia letakkan dengan sangat hati-hati di sandaran kursi kayu jati berukir. Jas hitam berpotongan modern yang seharian membungkus tubuh tegapnya terasa bagaikan baju zirah besi yang menjebak hawa panas tubuhnya sendiri. Qoifun berdeham pelan—sebuah deham pendek yang justru membuatnya merasa kian kikuk karena gema suaranya sendiri memantul canggung di dinding kamar bercat kapur putih itu.
Ia memandang punggung istrinya dari samping. Ada rasa takzim yang menyeruak di balik desau debar jantungnya yang berlomba cepat. Menatap wanita yang baru beberapa jam lalu diserahkan walinya lewat kalimat sakral 'ankaktuka wa zawwajtuka' bukanlah sekadar peralihan status hukum fikih dari haram menjadi halal. Baginya, itu adalah amanah langit yang beratnya menandingi bukit bebatuan. Sebelum melangkah masuk ke kamar pengantin tadi, Abahnya—Kiai Mukmin—sempat menepuk pundaknya di serambi dalam dan berbisik lirih: 'Le, eling pesene Kanjeng Nabi... Wong wedok iku amanah Gusti Allah. Ojo pisan-pisan kok gawe kaget atine. Muliakno bojomu kaya dene Kanjeng Nabi mulyakake Sayyidah Khadijah lan Sayyidah Aisyah.'
Pesan sang ayah terngiang jelas di telinganya. Qoifun tahu betul bagaimana seorang ning dibesarkan: terjaga dalam tirai kesucian pesantren putri, asing dari sentuhan tangan laki-laki asing, terbiasa menundukkan pandangan, dan sarat kehormatan adab. Ia sama sekali tidak ingin malam ini menjadi malam yang menakutkan, canggung yang melukai, atau meninggalkan trauma ketergesaan bagi bidadari yang baru saja Allah takdirkan menjadi pelengkap separuh agamanya.
Detik jam dinding kuno buatan Jerman di atas meja belajar berdetak lambat dan teratur: tik, tok, tik, tok. Setiap ayunan pendulum kuningan itu seolah mempertegas jarak kasatmata yang membentang di antara mereka—jarak yang bukan semata-mata diukur dengan meteran kayu di atas lantai tegel, melainkan jembatan kesiapan jiwa yang masih rapuh dan membutuhkan ketulusan untuk dirajut perlahan.
---------------------------------------------------
--- Bagian II: Insiden Ujung Sarung dan Gemercik Kolam Wudhu ----
Ketika kegugupan seorang gus menabrak kaki meja dan mencairkan beku
━━ 🕌 ━━
Qoifun menyadari bahwa keheningan yang dibiarkan berlarut-larut tanpa kata hanya akan menyiksa batin mereka berdua. Sebagai seorang laki-laki yang dipersiapkan menjadi nahkoda rumah tangga dan panutan umat, ia merasa wajib membuka percakapan pertama. Namun, aneh bin ajaib, seluruh hafalan matan Al-Ajrumiyyah, bait-bait Alfiyyah Ibnu Malik tentang bab mubtada' dan khabar, hingga kaidah ushul fikih Jam'ul Jawami' yang telah ia khatamkan di Yaman mendadak menguap tanpa jejak dari benaknya. Lidahnya kelu bagai disepuh timah panas, tenggorokannya tercekat seolah kehabisan udara.
"Ehm... Ning Ghoniyah?" panggil Qoifun akhirnya dengan suara agak parau. Begitu mendengar suaranya sendiri terdengar kaku, ia buru-buru meralat intonasi agar terdengar lebih teduh dan bersahabat. "Njenengan... pun sayah sanget nggih? Seharian tadi melayani ucapan selamat dan salaman dari ribuan tamu tentu menguras tenaga dan pikiran panjenengan."
Ghoniyah tersentak sedikit di tepi ranjang. Suara Qoifun yang bariton rendah merayap lembut ke telinganya. Ia mengangguk samar, kepalanya tetap menunduk tawadu menghadap jemarinya yang masih saling bertaut. "Alhamdulillah... mboten patos, Gus. Mung radi pegel kemawon wonten gulu lan pundhak," jawabnya lirih sekali, hampir menyerupai bisikan angin malam yang menyusup di antara dedaunan sawo manila di luar jendela.
Mendengar suara Ghoniyah yang lembut bergetar namun jelas dan anggun, Qoifun menghela napas panjang dalam hati. Setidaknya dinding es itu mulai berongga. Muncul niat mulia di hati Qoifun untuk mendirikan shalat sunnah mutlaq atau shalat sunnah ba'da nikah dua rakaat—amalan sunnah yang selalu diwasiatkan para masyayikh setiap kali santri melangkah ke jenjang pernikahan. Mengawali malam dengan meletakkan dahi bersama di hadapan Sang Pencipta adalah penawar paling mujarab bagi gelisah yang tak bernama.