KAMAR NDALEM PENGANTIN: SENTUHAN PERTAMA YANG HALAL
Salat sunnah ba'da dhuha, membasuh tangan, dan cium kening penuh doa
-------------
Hadits Sahih:
Rasulullah ﷺ bersabda: "...Dan hubungan intim di antara kalian (dengan istri) adalah sedekah."
Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya, ia akan mendapatkan pahala?"
Beliau menjawab: "Bagaimana pendapatmu jika ia melampiaskannya pada sesuatu yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula jika ia melampiaskannya pada jalan yang halal, maka ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim no. 2376)
---------------------------------------------------
--- Bagian I: Bias Dhuha di Tirai Ndalem dan Gemuruh Resah yang Tersisa ---
━━ 🕌 ━━
Matahari beranjak sepenggalah ketika kabut tipis di pelataran pondok pesantren perlahan terhalau oleh semburat cahaya keemasan. Dari kisi-kisi jendela kayu jati berukir sulur khas Jepara di kamar sayap barat Ndalem, berkas sinar dhuha itu menyusup masuk. Cahayanya jatuh lurus membelah keremangan ruangan yang sejak semalam dikepung aroma wewangian basah: perpaduan mistis antara asap bukhur gaharu kalimantan non-alkohol yang dibakar di atas pedupaan tembaga, minyak attar mawar Turki yang tipis, serta sisa semerbak melati ronce yang mulai mengering di sandaran peraduan pengantin.
Di dalam bilik yang berukuran cukup lapang itu, hening terasa begitu tebal dan berwibawa. Gemuruh ribuan santri dan tamu agung yang semalam tumpah ruah melingkupi akad nikah dan walimatul 'ursy kini telah menyurut, berganti dengan desau angin pagi yang menyapu tajuk-tajuk pohon sawo kecik di pekarangan Ndalem. Di kejauhan, hanya terdengar lapat-lapat dengungan suara para santri santriwati yang mulai bergiat membersihkan serambi madrasah, diiringi sesekali gemerincing padasan wudhu dari bilik asrama santri putri.
Namun, bagi Ning Ghoniyah Shobiyah, keheningan pagi itu bukanlah telaga ketenangan, melainkan hamparan kabut yang menyesakkan rongga dadanya. Duduk tersudut di tepi dipan kayu bertiang empat dengan balutan selimut beludru hijau lumut, jemari tangannya yang lentik meremas ujung lengan gamis polos berbahan katun madinah kelabu. Mukena sutra putih bersih miliknya masih terlipat rapi di samping bantal bersulam benang keemasan, menanti untuk dikenakan.
Ghoniyah menarik napas perlahan, mencoba mengurai simpul ketakutan yang sejak malam pertama mengunci seluruh persendiannya. Sebagai putri sulung Kiai Mukhlasin dari pesantren di lereng gunung seberang, Ghoniyah dibesarkan dengan martabat yang dijaga seketat benteng istana. Ia bukan perempuan lugu yang tidak memahami dunia; ia hafal tiga puluh juz Al-Qur'an, menamatkan berbagai syarah kitab kuning mulai dari Fathul Qarib hingga Jam'ul Jawami', serta sempat mencicipi bangku sarjana tafsir hadits di kota. Namun, justru karena kecerdasan dan martabat itulah, pernikahannya dengan Gus Qoifun Habibillah melahirkan perang tanding batin yang teramat dahsyat.
Di kalangan pesantren pesisir, perjodohan dua poros trah kiai besar kerap kali diwarnai oleh kalkulasi gengsi, aliansi politik keagamaan, serta pelestarian nasab keilmuan. Sepanjang masa khitbah hingga pesta perkawinan usai, Ghoniyah berulang kali dihantui oleh prasangka dingin: apakah ia dipersunting karena dirinya adalah Ghoniyah, ataukah semata-mata karena ia adalah putri kiai yang pas dijadikan mahkota kemenangan keluarga Ndalem ini? Apakah kedatangannya ke bilik ini sekadar menempati posisi pion dalam papan catur kehormatan para tetua?
Ketakutan terbesarnya bukanlah pada kesulitan mengurus rumah tangga atau melayani seorang suami, melainkan ketakutan kehilangan kedaulatan jiwanya. Ghoniyah cemas jika pria yang kini sah menjadi suaminya memandangnya sebagai piala taklukan, sebagai objek yang berhak diatur sesuka hati atas nama hak prerogatif kepemimpinan lelaki. Semalam, keduanya nyaris tidak berbincang banyak. Kelelahan fisik akibat menyalami ribuan tamu dari berbagai daerah membuat mereka hanya saling melempar senyum canggung, lalu beristirahat dengan sekat kecanggungan yang membentang lebar di tengah dipan empuk tersebut.
Ghoniyah menatap pantulan dirinya di cermin rias berkusen kayu ukir kuno. Wajahnya yang kuning langsat tampak teduh, namun ada binar letih dan kecemasan yang berdenyut di bawah kelopak matanya. Tiba-tiba, suara derit engsel pintu jati kamar mandi Ndalem terdengar perlahan, memecah kesunyian yang mencekam. Ghoniyah tersentak kecil, menegakkan punggungnya yang kaku, bersiap menghadapi realitas pertama di pagi pertama hidup barunya.
---------------------------------------------------
--- Bagian II: Membasuh Diri di Padasan Suci dan Hamparan Dua Sajadah Menghadap Kiblat ---
━━ 🕌 ━━
Pintu kamar mandi itu terbuka dengan kehati-hatian yang nyaris tak menimbulkan suara gesekan. Gus Qoifun melangkah keluar. Sosoknya tinggi tegap namun selalu membungkuk santun jika berhadapan dengan orang lain, ciri khas tata krama santri salaf yang mendarah daging sejak kecil. Ia mengenakan sarung tenun sutra BHS bermotif damar kurung warna hijau tua dipadu baju koko putih bersih tanpa kerah yang bersahaja. Rambutnya yang sedikit ikal tampak basah rapi sehabis berwudhu; bulir-bulir air suci masih berkilauan di sekitar pelipis dan jenggot tipisnya yang terawat.
Gus Qoifun tidak langsung melayangkan pandangannya secara lancang kepada Ghoniyah. Dengan menundukkan pandangan (ghadhul bashar)—adab yang bahkan tetap ia jaga di hadapan istrinya yang baru halal—ia mengambil selembar handuk kecil di gantungan bambu, menyeka sisa tetesan air di tangannya dengan gerakan lambat dan tenang.
"Ning..." sapa Gus Qoifun dengan suara yang begitu bariton namun berdesir lirih, bagai gemerisik dedaunan bambu di terpa semilir angin senja. Ada getaran hormat yang sangat terasa dalam panggilan itu. "Air di padasan kamar mandi sudah sejuk dan bersih. Tadi saya sekalian membersihkan lantainya. Bila jenengan hendak mengambil wudhu untuk salat dhuha, mangga, biliknya sudah siap."
Panggilan 'Ning' dan kata 'jenengan'—tingkatan bahasa Jawa krama inggil yang paling halus untuk menghormati lawan bicara—seketika menghantam dinding pertahanan Ghoniyah. Ia sempat mengira bahwa begitu akad nikah terucap di hadapan penghulu, Gus Qoifun akan langsung menggunakan bahasa 'ngoko' atau kata ganti yang menuntut kepatuhan mutlak layaknya majikan kepada abdi. Namun, nada bicara pria itu datar penuh takzim, seolah-olah Ghoniyah adalah seorang tamu agung yang dititipkan malaikat di kamarnya.
"Nggih, Mas... matur nuwun," jawab Ghoniyah pelan, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. Ia bangkit dari tepi dipan, meraih mukena sutra putihnya, lalu melangkah menuju kamar mandi dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat demi menyembunyikan lututnya yang gemetar.
Di dalam kamar mandi berlantai batu alam andesit hitam yang basah dan wangi sabun sereh, Ghoniyah membasuh wajahnya. Air dingin yang mengucur dari pancuran bambu terasa menusuk pori-pori kulitnya, seketika menyirami kegalauan yang membakar ubun-ubunnya sejak subuh tadi. Ia mengusap air wudhu ke wajahnya tiga kali, menghirup aroma kesegaran air tanah pesantren yang terkenal jernih, lalu membasuh kedua tangannya hingga melewati siku, mengusap sebagian kepalanya, dan membasuh kedua kakinya hingga mata kaki dengan khusyuk. Setiap tetes air yang jatuh ke lantai batu seolah membawa pergi prasangka-prasangka buruk yang sempat menumpuk di benaknya.
Ketika Ghoniyah merapikan mukena putihnya dan melangkah keluar dari bilik mandi, pemandangan di tengah kamar Ndalem membuatnya tertegun di ambang pintu.
Gus Qoifun telah menggelar dua helai sajadah beludru tebal berwarna hijau zamrud buatan Turki. Sajadah untuk dirinya berada di depan, sementara sajadah untuk Ghoniyah dibentangkan di belakangnya, sedikit bergeser setengah depa ke arah kanan sesuai dengan petunjuk fiqih tentang posisi salat makmum perempuan sendirian di belakang imam. Di samping sajadah imam, tergeletak seuntai tasbih kayu kokka tiga puluh tiga butir berwarna cokelat tua mengilap, bersanding dengan sebuah kitab kecil Adzkar An-Nawawi bersampul hijau.
Gus Qoifun berdiri tenang menghadap kiblat, lalu menoleh sedikit ke arah belakang ketika mendengar gemersik kain sutra Ghoniyah. Sorot matanya yang teduh bertemu sejenak dengan pandangan Ghoniyah sebelum ia kembali menunduk takzim.
"Kita salat dhuha empat rakaat berjamaah nggih, Ning? Mengharap barakah di pagi pertama kita menginjakkan kaki bersama di jalan ini," pinta Gus Qoifun dengan senyum tersamar yang begitu menyejukkan.
Ghoniyah hanya mampu mengangguk pelan. "Inggih, Mas. Nderek jenengan." Kalimat penyerahan diri yang sederhana itu meluncur tulus tanpa rekayasa. Ghoniyah melangkah ke atas sajadah beludru di belakang suaminya. Saat itu juga, aroma kayu gaharu yang dibakar dan keharuman tubuh Qoifun yang bersih menyapa indra penciumannya, menciptakan rasa damai yang tak pernah ia duga sebelumnya.
----------------------------------------------------