Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

MEMBACA KITAB BERSAMA

Membaca Kitab Bersama

Perpustakaan Pribadi Ndalem Darul Mukmin. "Ketika dialog fiqh munakahat menjadi media saling memahami isi kepala"

--------------

Rujukan Spiritual:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

------------------------------------------------------


--- Bagian I: Kabut Fajar dan Semerbak Gaharu Ndalem ---

Ketika wirid berangsur hening dan fajar menguarkan dingin yang tenang.

━━ 🕌 ━━

Kabut tipis masih bergelayut manja di pucuk-pucuk daun pohon randu alas dan deretan trembesi tua di pelataran belakang Ndalem Darul Mukmin. Udara dingin khas pegunungan Jawa Timur mengalir lembut menyusup lewat celah-celah ventilasi kayu jati berukir, membawa kesegaran embun yang belum terjamah hangatnya matahari. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara gemericik air pancuran wudhu dari kolam padasan kulah masjid utama, beradu dengan dengung panjang ribuan santri yang merapalkan wirid ba'da Subuh—sebuah gemuruh hening laksana kepakan jutaan sayap lebah gaib yang menggetarkan langit batin siapa pun yang mendengarnya. Doa-doa ratib al-haddad dan shalawat nariyah mengapung di udara fajar, lalu perlahan mereda tatkala salam penutup diucapkan sang kiai sepuh.

Bunyi ketukan bakiak kayu para santri yang bergegas kembali ke asrama atau bersiap menuju madrasah diniyah mulai terdengar bersahut-sahutan di atas jalan setapak berbatu kali. Namun di sudut barat Ndalem Darul Mukmin, dunia seolah berhenti berputar dalam pusaran keheningan yang agung. Di sana, waktu berjalan dengan ketukan yang berbeda—lambat, hening, dan sarat dengan getar perenungan.

Gus Qoifun Habibillah mengembuskan napas panjang yang hangat ke udara pagi yang menusuk tulang. Uap tipis mengepul sesaat dari bibirnya yang basah oleh zikir. Ia baru saja merapikan sajadah beludru hijau lumut di ruang tengah ndalem, lalu melipat sorban kasmir putihnya dengan gerakan yang cermat, tenang, dan teratur. Di balik dadanya yang bidang terbungkus baju takwa katun putih bersih, ada debar yang masih teramat baru—sebuah getar halus yang belum genap sebulan menetap di sana, sejak lafazh ijab qabul yang diikrarkannya dengan lantang dan mantap di hadapan para masyayikh kharismatik dan ribuan pasang mata santri mengguncang lembaran takdir hidupnya.

Pernikahan ini bukan semata penyatuan dua trah darah biru pesantren besar di tanah Jawa, melainkan sebuah pertaruhan spiritual tempat dua samudra jiwa harus belajar saling menyelami palung terdalam masing-masing. Di mata masyarakat luas, Gus Qoifun adalah figur pemuda yang nyaris sempurna: putra mahkota pesantren ribuan santri, faqih muda yang hafal matan-matan ushul fiqh kelas tinggi, serta dikenal tajam dalam gelanggang bahtsul masa'il. Namun pagi ini, di hadapan kenyataan bahwa kini ada seorang wanita berilmu tinggi yang mendampingi hidupnya, ia merasa dadanya dipenuhi rasa takjub bercampur ketawadhuan yang tak terlukiskan.

Langkah kakinya yang beralas kaus kaki wol tebal membawanya menyusuri selasar ndalem berlantai tegel abu-abu klasik buatan era kolonial. Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu ganda dari kayu jati purba berukir motif lung-lungan flora khas Jepara. Pintu setinggi tiga meter itu adalah gerbang menuju suaka suci keluarga: perpustakaan pribadi Ndalem Darul Mukmin. Sejak masa kakek buyutnya, al-Maghfurlah Kiai Mukmin yang masyhur dengan karamah kezuhudannya, ruangan ini adalah mihrab keilmuan tempat para ulama keluarga bertirakat, mengkaji naskah-naskah langka, menulis taqrir atas musykilat (masalah-masalah pelik hukum Islam), dan memohon petunjuk langit sebelum fatwa diturunkan demi kemaslahatan umat.

Qoifun mendorong daun pintu jati itu perlahan. Engsel kuningan tua yang dirawat dengan minyak zaitun nyaris tak mengeluarkan suara derit sedikit pun. Seketika itu juga, indra penciumannya disambut oleh simfoni aroma yang teramat khas, aroma sakral yang sejak masa kanak-kanak selalu menjadi candu bagi jiwanya: wangi kertas merang kuning yang menua, tinta cina kering, kulit kambing penyamak jilidan kuno asal Mesir dan Beirut, berpadu dengan sisa uap dupa gaharu Tarim yang semalam dinyalakan di atas mabkhara kuningan. Baginya, aroma perpustakaan ini lebih memabukkan dan menenangkan jiwa daripada wewangian termahal mana pun di muka bumi.

Ia menyalakan lampu meja bergaya banker's lamp berkap kaca hijau zamrud di sudut meja baca. Cahaya keemasan yang hangat seketika tumpah, membasahi permukaan meja panjang dari lempengan kayu trembesi utuh yang serat-serat alaminya berkilau laksana aliran sungai purba. Namun, pagi ini meja itu bukan lagi singgasana kesendiriannya. Di ujung meja, tepat di samping sebuah rekal jati yang biasanya kosong, kini telah tertata rapi sebuah alas baca dari kain beludru marun dengan pensil kayu berujung tajam, peraut kecil, dan penghapus karet. Milik istrinya tercinta. Ning Ghoniyah Shobiyah.

-------------------------------------------------------


--- Bagian II: Deretan Ribuan Jilid dan Langkah yang Santun ---

Pertemuan dua kutub keilmuan di bawah naungan kitab-kitab salaf

━━ 🕌 ━━

Perpustakaan Ndalem Darul Mukmin bukanlah sekadar rak buku biasa; ia adalah sebuah katedral ilmu pengetahuan Islam klasik. Rak-rak kayu jati gelap setinggi empat meter berdiri tegak menutupi seluruh dinding ruangan, melengkung anggun membentuk labirin kecil di bagian belakang. Di sana, tersusun rapi ribuan mujallad (jilid) kitab turats: mulai dari jilid-jilid tebal tafsir bil ma'tsur dan dirayah, kumpulan hadis kutubut tis'ah dengan aneka syarahnya, ensiklopedia fiqh empat madzhab—khususnya Madzhab Syafi'i yang menjadi nafas pesantren—hingga kitab-kitab ushul fiqh, qawa'id fiqhiyyah, mantiq, balaghah, dan tasawuf tinggi karya Hujjatul Islam Al-Ghazali serta Asy-Syadzili.

Ketika Qoifun sedang menyalakan sumbu lilin aromaterapi beraroma kayu cendana untuk mengusir sisa dingin, bunyi gemerisik kain halus terdengar di ambang pintu. Ia menoleh. Di sana, berdiri Ning Ghoniyah Shobiyah.

Ghoniyah melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk, memperlihatkan adab seorang santri putri yang terdidik dalam kultur ketawadhuan yang ketat sejak buaian. Kerudung pasmina berwarna dusty rose yang ia kenakan membingkai wajahnya yang bersih tanpa riasan secuil pun; hanya sisa air wudhu Subuh yang masih meninggalkan kilau bening di dahi dan pelipisnya. Di tangannya, sebuah nampan kayu jati memuat dua cangkir porselen putih berisi kopi tubruk jahe-kapulaga yang mengepulkan uap tipis, berdampingan dengan setoples kecil kurma Ajwa basah.

"Assalamu'alaikum, Gus..." suaranya mengalun lirih, begitu bening laksana gemerincing mata air di tengah heningnya bebatuan pegunungan.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Ning. Monggo, pinarak," jawab Qoifun seraya tersenyum, segera berdiri menyambut sang istri dan menerima nampan kayu itu dari tangannya. Ketika ujung jemari mereka bersentuhan sesaat di tepi nampan, ada sengatan hangat yang menjalar cepat ke ubun-ubun keduanya—sebuah debar manis yang masih menyisakan rasa malu-malu yang suci. Keduanya masih dalam tahap saling menjajaki, saling membaca bukan hanya lewat kata-kata, melainkan lewat isyarat kelembutan dan kesantunan yang tak terucap.

Ghoniyah meletakkan kitab yang diapit di ketiak kanannya ke atas rekal jati. Ada dua kitab yang pagi itu menjadi kesepakatan mereka untuk dikaji bersama secara rutin ba'da Subuh: Kitab *Fathul Qarib al-Mujib* karya Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi—kitab pegangan standar hukum syariat yang padat dan presisi—serta Kitab *Qurratul Uyun bi Syarhi Nazham Ibni Yamun* karya Syaikh Muhammad at-Tihami bin al-Madani, sebuah karya agung yang membedah adab, estetika, dan spiritualitas pernikahan Islami.

"Kopinya kencang nopo sedengan, Ning?" tanya Qoifun memecah kesunyian seraya menarik kursi kayu jati yang telah dilapisi bantalan kapuk empuk.

"Sedengan, Gus. Jahe kaliyan kapulaganya kulo tambahi sekedik, kersane badan panjenengan anget. Hawa Subuh Darul Mukmin radi langkung nyirep dibanding pondok kulo wonten Jombang," tutur Ghoniyah seraya duduk bersimpuh dengan anggun di atas permadani, menolak secara halus untuk duduk di kursi yang lebih tinggi dari suaminya. Bagi Ghoniyah, adab lahiriah adalah cerminan ketulusan batin, meskipun suaminya berulang kali meminta agar mereka duduk setara di meja.

-------------------------------------------------------


--- Bagian III: Di Balik Ma'na Gandul dan Tinta Hitam-Merah ---

Seni maknani kitab: menyuratkan makna di bawah aksara gundul

━━ 🕌 ━━

Lihat selengkapnya