Gurauan Kecil di Sepertiga Malam
Dapur Ndalem & Meja Makan Sederhana. Kisah Gus Qoifun Habibillah & Ning Ghoniyah Shobiyah
----------------------------------------------------
--- Bagian I: Dingin yang Menyelinap dan Sisi Ranjang yang Sepi ---
Pukul dua dini hari di kamar utama Ndalem Sepuh
━━ 🕌 ━━
Jarum jam dinding kuno berbandul kuningan merk Junghans yang tergantung di dinding jati Ndalem baru saja berdentang dua kali. Suara dentangnya yang berat dan bergaung pelan seolah terserap ke dalam pori-pori keheningan malam yang pekat. Di luar, hawa dingin khas lereng perbukitan Mataraman merayap tanpa permisi, menyelinap lincah melalui celah kisi-kisi ventilasi ukiran kayu jati kuno bermotif lung-lungan yang menghiasi bagian atas daun jendela kamar utama.
Ghoniyah Shobiyah mengerjapkan matanya pelan. Kelopak matanya terasa berat, namun rasa gatal yang menusuk-nusuk di pangkal kerongkongannya memaksa kesadarannya terjaga sepenuhnya. Sejak bakda isya tadi, hawa tubuhnya memang tidak menentu. Batuk kering yang berulang kali ia tahan agar tidak mengganggu sang suami yang sedang mutala'ah kitab kuning, kini kembali mendesak di rongga dadanya. Ia menarik napas pendek dan terbatuk lirih, buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik bantal kapuk bertutup sarung renda putih agar suaranya tak memecah keheningan kamar.
Secara naluriah, tangan kanannya yang masih terbungkus lengan gamis tidur berbahan katun lembut meraba sisi kanan ranjang bertiang jati berukir tersebut. Ia mencari kehangatan yang biasanya hadir di sana—sosok laki-laki berwajah teduh yang belum genap empat puluh hari resmi mengikat janji suci bersamanya di hadapan para sesepuh pesantren.
Namun, jemarinya hanya menyentuh lembaran sprei katun putih bermotif sulur daun yang sudah mendingin. Tempat itu kosong melompong. Bantal kapuk bersarung putih dengan sulaman benang kelabu di sampingnya masih menyisakan lekukan kepala, tetapi pemiliknya telah lenyap dari pembaringan.
Ghoniyah bangkit perlahan, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang kokoh. Jantungnya berdesir halus. Perasaan canggung yang masih membayangi hari-hari awal pernikahan mereka membuat pikirannya berkelana ke mana-mana. Bagi seorang ning muda yang dibesarkan dalam tradisi pesantren yang sangat menjaga batas pergaulan, pernikahan lewat jalur perjodohan para masyayikh ini adalah sebuah samudra luas yang baru ia layari. Rasa hormat, takzim, dan sungkan kepada sosok Gus Qoifun Habibillah—putra mahkota Ndalem yang disegani santri se-antero Mataraman—terkadang masih terasa seperti dinding kaca yang tak kasat mata.
"Ke mana beliau jam segini?" bisik Ghoniyah dalam hati. Suaranya hampir-hampir tak terdengar, tenggelam oleh desau angin malam yang menggesek dahan-dahan pohon sawo kecik di pekarangan samping ndalem.
Pikirannya langsung menduga-duga. Mungkinkah ada santri keamanan yang mengetuk pintu depan karena ada tamu kiai sepuh dari luar kota yang tiba-tiba sowan tengah malam? Ataukah suaminya sedang menyelesaikan mutala'ah bab faraidh di ruang perpustakaan pribadi ndalem yang terletak di sayap timur? Atau jangan-jangan, Gus Qoifun sudah beranjak ke pengimaman musala ndalem untuk menunaikan tahajud lebih awal sebagaimana kebiasaan para ahlul Quran?
Ghoniyah melirik segelas air putih yang diletakkan di atas nakas jati samping ranjang. Gelas itu telah kosong sejak pukul satu tadi. Tenggorokannya kian perih, bagai tergores sembilu kering. Rasa haus dan batuk yang tak tertahankan itu akhirnya mengalahkan rasa segan dan kantuknya. Ia menarik selendang pasmina tipis berwarna krem yang tergeletak di ujung dipan, lalu menyampirkannya ke atas kepala dan pundaknya, memastikan helaian rambutnya tertutup rapi dengan tata krama seorang putri ndalem.
-----------------------------------------------------
--- Bagian II: Meniti Tegel Dingin Menuju Pawon Belakang ---
Lorong sunyi ndalem dan aroma samar rempah malam
━━ 🕌 ━━
Ketika kedua telapak kaki Ghoniyah menyentuh lantai tegel abu-abu tua bertekstur krakal khas bangunan masa lampau, rasa dingin yang menggigit langsung menjalar cepat ke sumsum tulangnya. Ia bergidik kecil, merapatkan selendangnya lebih erat ke dada. Dengan langkah pelan tanpa alas kaki, agar tidak menimbulkan suara gesekan yang bisa membangunkan Ibu Nyai di kamar seberang ruang tengah, ia melangkah menyusuri lorong ndalem.
Bangunan Ndalem Sepuh Pesantren Al-Fattah ini adalah saksi bisu dari lima generasi keilmuan. Tiang-tiang penyangga dari kayu jati gelondongan berdiri kukuh menopang langit-langit yang tinggi. Di dinding ruang tengah, deretan kaligrafi ayat kursi bertinta emas dan foto-foto para muassis pesantren berwajah wibawa tampak remang-remang diterpa cahaya lampu tidur temaram berwarna kuning gading.
Sayup-sayup dari kejauhan arah serambi masjid pesantren putra yang berjarak sekitar seratus meter di barat ndalem, terdengar dengung zikir lirih para santri yang tengah melakukan qiyamul lail. Suara lantunan bait-bait Asmaul Husna dan shalawat tibbil qulub berpadu dengan derik jangkrik di pekarangan, menciptakan orkestrasi spiritual yang menenteramkan sanubari siapapun yang mendengarnya.
Namun perhatian Ghoniyah teralih ketika ia melewati batas ruang makan keluarga dan mendekati lorong penghubung menuju pawon—dapur belakang ndalem yang luas dan berlantai bata merah ekspos. Dari balik pintu kayu yang sedikit renggang, seberkas cahaya kuning hangat tampak berkedip-kedip menari di dinding kapur putih. Bersamaan dengan itu, aroma yang sangat khas menyapa indra penciumannya.
Bukan aroma tembakau wangi peninggalan Kiai Sepuh, bukan pula bau kayu cendana dari pedupaan. Itu adalah aroma jahe emprit yang dibakar di atas bara api, disusul keharuman sereh yang dimemarkan dan manisnya gurih karamel dari gula aren kelapa yang mulai larut. Ghoniyah menahan langkahnya tepat di balik kusen pintu dapur. Dahinya berkerut heran. Siapa yang berada di dapur sepagi buta begini? Biasanya, para santri putri yang bertugas khidmah di dapur ndalem baru akan datang membuka pintu belakang pukul setengah empat pagi setelah lonceng pondok berdentang.
Dengan sangat hati-hati, Ghoniyah melongokkan kepalanya ke dalam celah pintu kayu yang terbuka sejengkal. Pemandangan yang tersaji di depan matanya seketika membekukan langkah kakinya dan membuat kedua matanya membelalak tak percaya.
---------------------------------------------------
--- Bagian III: Pendekar Mataraman di Hadapan Tungku Anglo ----
Sosok mulia yang bersimpuh meniup abu arang
━━ 🕌 ━━
Di sudut dapur tua itu, di samping meja racik kayu nangka yang permukaannya sudah legok dimakan usia, tampak sesosok pria yang sangat ia kenal sedang berjongkok di atas sebuah dingklik kayu pendek berkaki tiga. Pria itu adalah suaminya sendiri: Gus Qoifun Habibillah.
Tetapi pemandangan malam ini sungguh berada di luar nalar formalitas pesantren yang selama ini Ghoniyah saksikan. Sosok Gus Qoifun yang setiap pagi duduk bersila dengan wibawa agung di atas dampar mengajar kitab Fathul Mu'in dan Shahih Al-Bukhari di hadapan ratusan santri bersarung rapi; sosok yang selalu tampil perlente dengan jubah putih bersih beraroma minyak wangi kasturi dan surban kasmir yang dilipat sempurna di atas pundaknya; kini sedang duduk meringkuk tanpa alas kaki.
Malam ini, sang kiai muda hanya mengenakan kaus oblong putih polos berbahan katun tipis yang sedikit kedodoran, dipadu dengan sarung santri merk Wadimor kelabu bermotif kotak-kotak sederhana yang bagian ujung bawahnya terangkat tinggi hingga di atas mata kaki agar tidak menyapu lantai dapur. Tidak ada surban. Tidak ada peci hitam beludru yang biasa bertengger anggun di kepalanya. Rambutnya yang sedikit acak-acakan jatuh di dahinya yang bersih.
Yang lebih membuat Ghoniyah terpana adalah apa yang sedang dilakukan kedua tangan suaminya. Di hadapan Gus Qoifun, menyala sebuah tungku tanah liat kecil—anglo arang—yang rupanya sedang ngadat dan mengeluarkan asap tebal berwarna kelabu pekat. Arang batok kelapa di dalam tungku itu tampak enggan menyala sempurna, hanya menyisakan titik-titik bara merah yang terengah-engah.