Bisik-Bisik Santri Senior
Prasangka Kang Marzuki dan Ujian Ketawadhuan di Kompleks Darul Mukmin. Latar: Kantin Mak Sumo, Gardu Pos Keamanan, & Kompleks Asrama Darul Mukmin
-------------
RUJUKAN HADITS:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
"Jauhilah hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud (No. 4903) dari Abu Hurairah r.a.)
----------------------------------------------------
--- Bagian I: Asap Kretek dan Derai Talang Seng ---
Riak Berita di Balik Uap Kopi Kantin Mak Sumo. Senja beranjak Isya, selepas gerimis lebat | Kantin Mak Sumo & Lorong Asrama Al-Mukmin
━━ 🕌 ━━
Hujan bulan November baru saja menyisakan gerimis yang menggantung tipis di atas bubungan genteng Pondok Pesantren Darul Mukmin. Bau tanah basah berbaur dengan uap got yang baru dibersihkan menguar di sela-sela langkah para santri yang bergegas menuju serambi masjid. Namun di sudut belakang kompleks asrama—tepatnya di kantin Mak Sumo yang hanya berdinding bilik bambu reyot dengan lantai semen terkelupas—suasana petang itu tidak seperti biasanya. Desau angin basah yang menerpa talang seng tak mampu meredam dengung kasak-kusuk yang mendidih di antara denting sendok dan cangkir seng berkarat.
Kabar itu telah merembes sejak bakda Ashar, mengalir lebih deras daripada air selokan yang mengitari ndalem kiai. Mula-mula hanya berupa desas-desus lirih di bilik wudhu, lalu meletup menjadi kepastian yang menggetarkan seluruh penghuni pondok: pemuda bertubuh kurus, pendiam, berkulit legam karena sengatan matahari, yang selama tiga bulan terakhir tidak pernah bersuara kecuali saat mendaras nadhom Imrithi, pemuda yang tangannya kapalan karena setiap subuh menyodok lumut talang air dan menguras kolam kulah tanpa pernah memprotes meski sarungnya basah kuyup terkena percikan comberan—pemuda bernama Qoifun itu—bukanlah santri dhuafa telantar dari pelosok Trenggalek sebagaimana yang selama ini disangka orang. Ia adalah putra kandung Kiai Rifki Mukhtarullah, pengasuh agung Pesantren Luhur Watu Ambal yang memiliki ribuan santri dan pengaruh membentang hingga ke tapal kuda.
"Sampeyan jangan bergurau, Kang Badrun," bisik seorang santri muda berkopiah miring sambil menahan kepulan asap rokok tingwe di rongga mulutnya. Matanya membulat tak percaya seraya melirik ke arah lorong asrama. "Si Qoifun itu? Yang minggu lalu kita suruh angkat tiga karung beras dari mobil pikap pengurus pasar? Yang kakinya pecah-pecah dan kopiahnya sudah luntur warnanya sampai kecokelatan itu? Masak iya darah biru pesantren ternama mau hidup menggelandang di serambi masjid dan makan nasi aking sisa dapur umum?"
"Demi Allah, aku tidak mengarang cerita, Kang!" sahut Badrun dengan suara tertahan namun bergetar hebat. Ia condong ke depan melintasi meja kayu yang basah oleh tumpahan kopi tubruk. "Tadi siang, utusan dari Watu Ambal datang membawa surat bertanda tangan basah Kiai Rifki. Dua mobil Innova hitam berpelat luar kota berhenti tepat di depan garasi ndalem. Aku sendiri yang mengantarkan cangkir teh ke ruang tamu khusus. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Abah Kiai Shodiq memeluk pemuda itu sembari mencucurkan air mata. Gus Qoifun... selama ini dia menyamar! Dia menyembunyikan nasabnya sendiri hanya untuk mencium tanah Darul Mukmin sebagai orang paling hina!"
Dentingan cangkir yang diletakkan terlalu keras di atas meja seketika menghentikan perbincangan itu. Di pojok paling gelap kantin, seorang lelaki bertubuh gempal dengan urat-urat leher menonjol duduk bersandar pada tiang kayu jati. Sarung goyor warna birunya sudah pudar pada bagian lutut, dan peci hitamnya memiliki sudut yang penyok di bagian samping—penanda nyata dari seseorang yang telah menghabiskan belasan tahun hidupnya di pondok, namun tak kunjung menemukan jalan untuk menjadi 'orang penting'. Dialah Kang Marzuki, kepala keamanan pondok sekaligus santri paling senior di Asrama Darul Mukmin.
Wajah Marzuki kelabu, serupa abu tembakau yang menumpuk di piring kecil di hadapannya. Ia tidak ikut takjub. Ia tidak merasa terharu oleh cerita ketawadhuan yang sedang disanjung-sanjung santri lain. Sebaliknya, di balik dada bidangnya yang berbalut kemeja koko lungsuran, sebuah rongga kosong yang panas mendadak robek. Pikirannya terseret pada peristiwa dua pekan lalu, ketika dengan suara membentak dan telunjuk teracung, ia memerintahkan Qoifun membersihkan septik tank yang tersumbat di bawah guyuran hujan malam. 'Heh, santri baru! Jangan cuma plonga-plongo kayak kerbau bebal! Bersihkan kotoran itu sampai tandas kalau mau berkah pondok ini meresap ke darahmu!' teriak Marzuki saat itu.
Kini, ingatan itu menjelma sembilu yang mengiris-iris harga dirinya. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, dan puntung kretek yang dihisapnya menyala merah membara, membakar keheningan di sudut kantin Mak Sumo.
KUTIPAN: "Kabar itu mengalir lebih deras daripada air selokan ndalem: pemuda yang tangannya kapalan menyodok talang air itu ternyata putra Kiai Rifki Mukhtarullah." (Naratif Pesantren)
-----------------------------------------------------
--- Bagian II: Rongga Luka di Dada Kang Marzuki ---
Ketika Pengorbanan Sepuluh Tahun Terancam Menjadi Debu. Pukul 19.45 WIB, selepas wirid Isya | Pos Gardu Keamanan Asrama Timur
━━ 🕌 ━━
Kang Marzuki bukanlah iblis tanpa masa lalu. Di Darul Mukmin, tidak ada yang bisa menyangkal betapa dalam jejak keringat yang telah ia tanamkan pada tanah pesantren ini. Sepuluh tahun yang lalu, ia tiba dari sebuah dusun nelayan miskin di pesisir utara dengan membawa selembar ijazah madrasah ibtidaiyah yang lusuh dan buntalan kain berisi dua lembar sarung sumbangan tetangga. Ayahnya tewas ditelan ombak Laut Jawa saat ia masih kanak-kanak, meninggalkan ibunya yang renta berkubang utang para tengkulak perahu. Pesantren adalah satu-satunya pelarian Marzuki dari keputusasaan duniawi.
Sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di pondok ini, Marzuki tahu bahwa ia tidak memiliki kecerdasan menghafal nadhom Alfiyah ibnu Malik seperti santri-santri cerdas dari kota. Lidahnya kaku melafalkan makhraj Arab yang rumit, dan kepalanya sering kali berdenyut pening saat berhadapan dengan baris-baris kitab Fathul Qorib yang gundul tanpa harakat. Sadar akan kekurangannya, Marzuki memilih jalan khidmah raga—sebuah jalur pengabdian tanpa batas yang ia yakini akan mengetuk pintu rida sang kiai.
Ia bangun dua jam sebelum beduk Subuh ditabuh. Di saat santri-santri lain masih mendengkur di balik selimut sarung, Marzuki sudah mengayuh pompa air tua hingga telapak tangannya melepuh, mengisi bak-bak wudhu agar ratusan santri tidak kekurangan air suci. Ketika musim kemarau datang dan sumur mengering, Marzuki memanggul jeriken demi jeriken air dari mata air di kaki bukit sejauh dua kilometer. Ia menambal atap asrama yang bocor di tengah badai, menggali liang lahat ketika ada santri atau kerabat ndalem yang wafat, dan berdiri tegak menjaga pintu gerbang hingga fajar menyingsing saat marak pencurian sepeda ontel.
Sepuluh tahun ia menelan rasa lelah, mengubur mimpi pribadinya untuk menikah muda, dan merelakan masa mudanya terkikis menjadi uban-uban dini di pelipisnya. Yang ia harapkan hanyalah satu hal: pengakuan. Pengakuan bahwa seorang anak nelayan miskin yang tak punya silsilah kiai pun bisa menjadi sosok terpandang di pesantren ini. Ia bermimpi suatu hari nanti Abah Kiai Shodiq akan menunjuknya menjadi pengurus tetap yayasan, atau barangkali—dalam angan-angan terliarnya yang paling ia sembunyikan di keheningan malam—diberi kehormatan untuk meminang salah seorang kerabat ndalem sebagai berkah puncak dari pengabdiannya seumur hidup.
Tetapi hari ini, bangunan harapan yang ia susun batu demi batu selama satu dekade terasa runtuh berkeping-keping. Bukan hanya runtuh, melainkan diinjak-injak oleh sebuah kenyataan yang teramat pahit: bahwa segala cucuran keringatnya selama sepuluh tahun ternyata tak bernilai sepeser pun di hadapan gemerlap nasab seorang putra kiai besar.
Mengapa seorang Qoifun yang hanya membersihkan talang air selama tiga bulan bisa langsung dipeluk hangat oleh sang kiai dan disambut dengan tangis haru seolah-olah ia seorang wali agung? Mengapa dunia pesantren begitu mudah meneteskan air mata kagum hanya karena seorang pangeran mau bermain lumpur, sementara orang miskin sepertinya yang memang bergelut di dalam lumpur setiap hari tidak pernah dianggap istimewa?
"Tawadhu'? Cuh!" Marzuki mendesis sendirian di dalam pos gardu keamanan sambil menatap nyala korek api kayu yang perlahan padam. Asap belerang terhirup menusuk hidungnya. "Orang kaya yang pura-pura miskin itu disebut tawadhu'. Tapi kalau orang miskin yang hidup miskin, itu cuma dianggap nasib buruk yang pantas disuruh-suruh! Dimana letak keadilannya?"
KUTIPAN: "Orang kaya yang pura-pura miskin disebut tawadhu'. Tapi orang miskin yang bergelut di lumpur setiap hari hanya dianggap kuli yang wajar diperintah." (Monolog Batin Kang Marzuki)
-----------------------------------------------------
--- Bagian III: Racun di Sudut Gardu Keamanan ---
Bisik-Bisik Beracun yang Menghasut Jiwa Para Pengurus. Pukul 20.30 WIB, hujan gerimis kembali membasahi pelataran | Gardu Pos Ronda Pondok Darul Mukmin.
━━ 🕌 ━━