Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

FITNAH SURAT GELAP

FITNAH SURAT GELAP & NING NASHIRA SALMA

Tema: Ujian kecemburuan, dinamika jarak komunikasi suami-istri, dan hakikat tabayyun di balik bayang masa lalu perjodohan keluarga pejabat

-------------

Rujukan: QS. Al-Hujurat: 6

Surah Al-Hujurat ayat 6 adalah salah satu ayat paling krusial dalam Al-Qur'an yang menjadi fondasi utama dalam etika berkomunikasi, jurnalistik Islam, dan penyaringan informasi (tabayyun). Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak menelan mentah-mentah berita yang dibawa oleh orang yang tidak jelas kredibilitasnya.

Teks Arab:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْن

Terjemahan Kemenag (2019): "Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun) agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

----------------------------------------------------


--- BAGIAN 1: PUCUK DAUN PINTU MADRASAH BANAT ---

Secarik Kertas Kelabu di Antara Desir Angin Ashar. Lokasi: Madrasah Banat Darul Ikhsan | Waktu: Ashar menjelang senja

━━ 🕌 ━━

Lembayung tembaga mulai merambat perlahan di atas bubungan genteng Madrasah Banat Darul Ikhsan saat derap terompah santriwati berangsur-angsur menjauh. Ning Ghoniyah Shobiyah masih berdiri merapikan lembar-lembar kurikulum Akhlaq Lil Banat di atas meja jati tua yang permukaannya telah licin dimakan usia. Udara sore berbau harum tanah basah sisa gerimis lebat tadi siang, berpadu dengan aroma minyak wangi dupa melati yang mengambang lembut dari arah musala putri. Di luar, dedaunan trembesi meliuk ditiup angin ashar yang membawa dingin menusuk sumsum tulang.

Ghoniyah menarik napas panjang, merapatkan kerudung birunya yang menjuntai rapi menutupi dada. Seharian ini ia merasa ada ganjalan tak kasat mata di dadanya—sebuah firasat yang tak mampu ia terjemahkan saat ia menyimak setoran hafalan santri-santrinya. Setiap kali ia menatap halaman kitab yang mengupas bab sabar dan ridho dalam menjalin rumah tangga, denyut halus di pelipis kirinya berkedut gelisah. Ghoniyah menepis perasaan itu dengan beristighfar pelan.

Ketika jemarinya hendak menyentuh grendel pintu kayu jati berukir sulur khas Jepara untuk menguncinya, tatapan matanya tertumpuk pada sesuatu yang ganjil. Di celah bawah pintu—di antara ambang kayu dan ubin terakota abu-abu yang dingin—terjepit sebuah amplop kelabu tanpa prangko. Sudut amplop itu tampak sedikit lecek, seolah disorongkan dengan tergesa oleh seseorang yang memastikan langkah kakinya tidak meninggalkan suara di lorong madrasah yang sunyi.

Dada Ghoniyah berdesir tajam. Dengan gerakan ragu yang tertahan oleh tata krama ndalem, ia berjongkok. Ujung jarinya yang lentik menyentuh kertas berserat kasar itu. Tidak ada nama pengirim di bagian muka. Hanya ada sebaris tulisan tangan bertinta hitam pekat dengan gaya miring yang rapi namun dingin: 'Kagem Ning Ghoniyah Shobiyah — Supados dados kawuningan babagan hakikat dhaup panjenengan.' (Untuk Ning Ghoniyah Shobiyah — Agar menjadi maklum perihal hakikat pernikahan Anda).

Rasa dingin yang bukan berasal dari hembusan angin sore merayap dari telapak tangannya naik ke tengkuk. Ghoniyah menegakkan tubuhnya, menoleh ke kiri dan ke kanan lorong. Tidak ada siapa-siapa di sana, selain bayang-bayang tiang kayu madrasah yang memanjang seperti jari-jari raksasa di atas ubin. Hanya ada gemersik daun kering yang disapu angin menyusuri selokan.

Dengan napas yang tercekat di kerongkongan, Ghoniyah merobek bibir amplop tersebut. Di dalamnya terdapat selembar kertas folio bergaris dengan lipatan tiga. Begitu matanya membaca kalimat-kalimat awal, lututnya seketika kehilangan daya topang hingga ia harus bersandar pada kusen pintu jati.

'Jangan terlampau bangga merasa telah memenangkan hati Gus Qoifun Habibillah,' demikian deretan kalimat beracun itu membuka tikamannya tanpa belas kasihan. 'Ketahuilah, Ning yang suci, bahwa sebelum namamu diucapkan dalam akad yang tergesa itu, Gus Qoifun telah diikat janji dan restu ndalem kagem Ning Salma—putri tunggal Bapak Brotojoyo, donatur utama yang membangun separuh asrama megah Darul Ikhsan. Pernikahan kalian hanyalah pelarian politik keluarga ndalem. Kiai sepuh menolak campur tangan politik pejabat kota, dan Gus Qoifun memilihmu bukan karena cinta sejati yang bermula dari hatinya, melainkan sekadar tameng darurat agar beliau terbebas dari jerat perjodohan Ning Salma yang menuntut komitmen kekuasaan. Engkau hanyalah pilihan pengalihan, Ghoniyah. Tanyakan pada suamimu, mengapa surat-surat dari keluarga Brotojoyo masih tersimpan rapi di laci terbawah meja kerjanya hingga detik ini.'


Dunia di sekeliling Ghoniyah mendadak terasa berputar. Suara gemercik air wudhu di kejauhan, dengung riuh santri yang melantunkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik, seketika luruh menjadi dengungan pekak yang menyiksa telinga. Ning Salma. Nama itu bukanlah nama asing. Ghoniyah pernah beberapa kali mendengarnya disebut dengan nada segan dalam bisik-bisik kerabat ndalem saat haul akbar—putri seorang tokoh berpengaruh yang anggun, berpendidikan tinggi di ibu kota, dan berulang kali sowan membawa sumbangan besar bagi pembangunan pondok.

Tangan Ghoniyah gemetar hebat. Surat itu diremasnya erat-erat ke dalam genggaman hingga kertasnya meranggas remuk. Di balik dada yang kini bergemuruh kencang, terbit luka yang menyengat: benarkah kehangatan, tatapan teduh, dan tutur kata manis suaminya selama lima bulan ini hanyalah sandiwara seorang putra kiai yang mencari suaka dari perjodohan yang tak diinginkan? Air mata pertama menetes tanpa permisi, membasahi ujung renda kerudungnya yang jatuh di bahu.

----------------------------------------------------


--- BAGIAN 2: RETAK SENYAP DI MEJA MAKAN NDALEM ---

Jarak yang Menganga di Antara Piring Porselen dan Pindang Serani. Lokasi: Ruang Makan Ndalem Utama | Waktu: Selepas Maghrib

━━ 🕌 ━━

Malam itu, ruang makan ndalem utama bermandikan cahaya lampu gantung berkap kuning temaram. Di atas meja bundar berkaki lengkung dari kayu mahoni tua, telah tersaji hidangan makan malam kesukaan Gus Qoifun: pindang serani kuah bening dengan belimbing wuluh yang harum, tempe garit goreng garing, dan sambal terasi ulek segar. Kepul uap nasi liwet yang baru diangkat dari dandang tembaga mengepulkan kehangatan yang biasanya selalu menjadi penawar lelah bagi sang suami usai mengimami jamaah Maghrib dan mengajar kitab Fathul Qorib di serambi masjid.

Namun malam ini, kehangatan itu seolah terbentur pada dinding kaca tebal yang membekukan seisi ruangan. Dinamika yang biasanya mengalir akrab—candaan ringan Gus Qoifun tentang santri yang tertidur saat lalaran, atau senyum malu-malu Ghoniyah ketika menyendokkan nasi ke piring suaminya—lenyap tak berbekas.

Ghoniyah duduk di kursinya, namun punggungnya tegak kaku bagai kayu jati yang tak boleh melengkung. Kedua tangannya tertangkup di pangkuan di balik gamis kelabunya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, pandangan matanya sengaja dipakukan pada motif tegel bermotif kembang era kolonial di bawah meja, menghindari tatapan suaminya dengan kesungguhan yang menyakitkan.

Gus Qoifun, yang baru saja selesai membasuh tangan di mangkuk kobokan tembaga, menarik kursinya. Suara gesekan kaki kursi di lantai terdengar begitu nyaring memecah keheningan yang menyesakkan. Pemuda berwajah teduh dengan sorban hijau zaitun yang tersampir di pundak itu menatap sang istri dengan kening berkerut halus. Kepekaan batin seorang suami yang terbiasa membaca gerak jiwa di ndalem seketika menangkap ada riak badai yang sedang disembunyikan di balik ketenangan yang dipaksakan itu.

'Ghoniyah...' panggil Gus Qoifun lembut. Suaranya rendah, bergetar dengan kasih sayang yang tulus. 'Njenengan tidak makan bareng Mas malam ini? Dari tadi sehabis Maghrib, Mas perhatikan wajahmu pucat sekali. Apakah santri putri ada yang berulah, atau kepalamu sedang pusing lagi, Dinda?'

Pertanyaan penuh perhatian itu bukannya menjadi pelipur lara, melainkan terasa seperti sayatan sembilu di dada Ghoniyah. Kata-kata dari surat gelap itu kembali berdengung di telinganya: Engkau hanyalah pilihan pengalihan... tameng darurat agar beliau terbebas dari jerat perjodohan Ning Salma. Betapa mudahnya lelaki berwajah bersih ini bertutur manis, pikir Ghoniyah kalut, mungkinkah kelembutan ini hanya rasa kasihan dari seorang majikan kepada tawanan politik keluarganya?

'Kulo mboten luwe, Mas (Saya tidak lapar, Mas),' sahut Ghoniyah pendek, sangat lirih. Suaranya terdengar dingin dan datar, tanpa ada nada manja atau takzim yang biasanya selalu memaniskan setiap kalimatnya. Ia bahkan tidak mengangkat wajahnya sedikit pun.

Lihat selengkapnya