Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

MIHRAB MASJID BANAT

Bab 15: Mihrab Masjid Banat & Kamar Ndalem

Ghoniyah yang Menyimpan Risau. Fokus Tema: Ketawadhuan, Menjaga Lisan Menghadapi Fitnah, & Kedalaman Adab Salaf

------------

Ayat Rujukan: Al-Muzzammil: 10)

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik."

------------------------------------------------------


--- Bagian I: Desau Angin di Mihrab Masjid Banat ---

Gemerisik Sutra Mukena dan Gelisah yang Berderak. Lokasi: Mihrab Masjid Banat, Kompleks Pondok Pesantren | Waktu: Pukul 02.15 Dini Hari — Sepertiga Malam Terakhir

━━ 🕌 ━━

Hawa dingin lereng bukit mengalir melalui celah kisi-kisi kayu jati berukir kaligrafi kufi, menyusup ke sudut-sudut mihrab Masjid Banat. Di ruang hening yang biasanya hanya diakrabi lantunan wirid lirih dan helaan napas para santriwati penghafal Al-Qur'an itu, Ning Ghoniyah Shobiyah masih duduk bersimpuh di atas hamparan permadani beludru hijau tua.

Mukena putih berbahan sutra tipis yang dikenakannya bergetar setiap kali angin malam bertiup dari arah serambi. Kedua tangannya tertaut di atas pangkuan, namun jemarinya yang lentik menggenggam erat ujung kain, meremasnya hingga membentuk lipatan-lipatan kusut. Sudah lebih dari dua jam ia menyelesaikan rakaat-rakaat sujudnya, tetapi ketenangan yang lazim turun merengkuh jiwanya seolah tertahan di langit-langit kubah masjid.

Di dalam dadanya, ada gemuruh yang enggan reda. Selembar kertas buram berukuran folio—yang ditemukan tergeletak terselip di bawah pintu pagar ndalem kemarin petang—terus terbayang di pelupuk matanya laksana jelaga hitam yang tak terhapus. Kertas tanpa nama pengirim itu memuat rentetan fitnah keji yang dialamatkan langsung kepada suaminya, Gus Qoifun Habibillah.

Kata-katanya disusun dengan racun kecemburuan yang pekat: menuduh Gus Qoifun memanfaatkan dana jariyah pembangunan aula pesantren untuk kepentingan pribadi, memanipulasi kepemilikan tanah wakaf di tapal batas desa, dan menyembunyikan masa lalu fiktif yang sengaja diembuskan untuk merobohkan wibawa keluarga ndalem.

Bagi orang luar yang haus sensasi di era serbacepat ini, selembar fitnah semacam itu sudah lebih dari cukup untuk disebarluaskan, digoreng dalam percakapan gawai, dibubuhi prasangka murahan, dan dituntut agar segera dijawab dengan 'klarifikasi' terbuka yang bombastis. Dunia modern menuntut kepuasan instan: siapa yang lantang membela diri di hadapan kamera dianggap gagah, sedangkan yang diam dicap kalah atau bersalah.

Tetapi ini bilik pesantren salaf. Di sini, dinding-dinding bata tua telah menyaksikan ratusan tahun peradaban dibangun bukan di atas kehebohan lidah, melainkan keheningan sujud para kekasih Allah. Kendati demikian, Ghoniyah tetaplah seorang perempuan muda berdarah daging. Ia mencintai kehormatan nama suaminya. Ia memikul martabat ayahnya yang mendirikan pesantren ini.

"Mas Qoifun... mengapa njenengan diam seribu bahasa?" bisik Ghoniyah parau ke arah dinding mihrab. Suaranya tenggelam di antara derik jangkrik dan gemerisik dedaunan sawo kecik di halaman masjid.

Kemarin, saat Ghoniyah menyodorkan surat fitnah itu dengan tangan bergetar di hadapan Gus Qoifun, sang suami hanya menatap baris-baris fitnah itu sejenak. Tidak ada urat leher yang menegang. Tidak ada gelegar murka yang meluncur dari bibirnya. Lelaki itu hanya tersenyum tipis—senyuman yang terasa begitu menyiksa nurani Ghoniyah—lalu melipat kertas kotor itu rapi-rapi dan menyelipkannya di antara halaman kitab Kuning *Ihya Ulumiddin* di atas meja kerjanya.

"Biarkan ia beristirahat di sana, Ning. Kertas tidak memiliki nyawa untuk melukai siapa pun, kecuali jika kita sendiri yang memberinya taring," demikian ucap suaminya saat itu. Suara yang teduh, terlalu teduh untuk sebuah badai yang siap meruntuhkan nama baik mereka.

Kini, di mihrab yang sunyi, air mata Ghoniyah akhirnya menetes di atas sajadah. Mengapa lelaki itu tidak mengumpulkan para pengurus pondok? Mengapa ia tidak memerintahkan lurah pondok untuk melacak siapa dalang pengecut yang melempar fitnah tersebut? Apakah sikap pasif suaminya ini adalah bentuk kelemahan? Ataukah—sebuah bisikan iblis melintas menyengat ulu hatinya—ada secuil kebenaran yang memang tidak sanggup dibantah oleh suaminya?

Pikiran terakhir itu membuat sekujur tubuh Ghoniyah menggigil. Ia segera beristighfar seraya menekan dadanya, tetapi racun keraguan telah sempat memercikkan api di sudut hatinya.

----------------------------------------------------


--- Bagian II: Zaman Gegabah dan Api Prasangka ---

Ketika Dunia Menghendaki Tabuh Genderang, Salaf Memilih Khidmat. Lokasi: Serambi Luar Masjid Menuju Pekarangan Ndalem | Waktu: Pukul 03.00 Dini Hari

━━ 🕌 ━━

Ghoniyah bangkit dari duduknya. Ia melipat sajadahnya perlahan, merapikan mukena, lalu melangkah keluar dari Masjid Banat. Di kejauhan, lampu-lampu temaram di komplek santri putra masih menyala. Dari bilik-bilik asrama, sayup-sayup terdengar dengung santri yang sedang menderas hafalan Al-Qur'an—suara yang biasanya menyejukkan dada, namun malam ini terasa laksana desau angin yang mengiris.

Zaman telah berganti rupa dengan sangat beringas. Di luar benteng pesantren, manusia hidup dalam kegilaan panggung pembuktian. Setiap kali ada desas-desus, orang-orang awam berlomba-lomba membuat video pembelaan, menyewa pengacara, menumpahkan sumpah serapah di jagat maya, saling menjatuhkan martabat demi memenangkan opini publik yang sesaat.

Bahkan beberapa santri senior dan alumnus muda kemarin sempat menghadap ke ndalem dengan wajah merah padam. Mereka telah mendengar desas-desus surat kaleng tersebut yang mulai merembes ke warung-warung kopi di sekitar pasar kecamatan. Mereka meminta izin Gus Qoifun untuk 'meluruskan' masalah ini secara terbuka, melapor ke aparat, atau setidaknya membuat pernyataan resmi pondok agar tidak menjadi bola liar.

Ghoniyah masih ingat betul bagaimana suaminya menerima para santri senior itu di serambi ndalem.

Gus Qoifun mengenakan sarung tenun Samarinda warna hijau lumut dan baju takwa putih bersih tanpa kerah. Wajahnya tidak memancarkan kecemasan setitik pun. Ia menyuguhkan sendiri cangkir-cangkir kopi tubruk panas untuk para santri muda yang terbakar emosi.

"Kalian hendak memadamkan api dengan minyak tanah?" tanya Gus Qoifun dengan nada seringan embun pagi.

"Tapi ini menyangkut marwah Panjenengan, Gus! Menyangkut marwah Pesantren! Jika Panjenengan diam, orang-orang dungu di luar sana akan mengira desas-desus itu benar. Diamnya Panjenengan akan ditafsirkan sebagai pengakuan bersalah!" sergah salah seorang alumnus dengan napas memburu.

Gus Qoifun meletakkan cangkirnya perlahan. Denting porselen yang beradu dengan meja kayu terdengar begitu nyata di tengah keheningan serambi. Tatapan matanya yang teduh menyapu wajah murid-muridnya satu per satu.

"Kang, fitnah itu seperti debu yang beterbangan ditiup angin kencang. Jika engkau mengejarnya dengan sapu di tengah badai, debu itu bukan berkurang, malah akan masuk ke matamu dan membutakan pandanganmu. Duduklah. Biarkan anginnya reda. Bila angin sudah tenang, debu itu akan jatuh dengan sendirinya ke tanah, dan hujan rahmat Allah akan membersihkannya tanpa engkau perlu mengotori kedua tanganmu."

Para santri terdiam menunduk, tak sanggup mendebat ketenangan yang memancar dari pribadi sang guru. Namun bagi Ghoniyah, kata-kata itu terasa belum cukup. Logika mudanya menolak pasrah. Bagi Ghoniyah, harga diri bukanlah sekadar debu; harga diri adalah mahkota yang harus dibela dengan pedang argumentasi!

Langkah kaki Ghoniyah menapaki jalan setapak berbatu kali yang membelah taman melati antara masjid dan kediaman ndalem. Bau tanah basah sisa gerimis semalam menguar pekat. Hatinya terombang-ambing di antara dua kutub yang berlawanan: rasa hormat yang mendalam kepada suaminya sebagai seorang alim, dan amarah tertahan seorang istri yang merasa suaminya terlalu lemah untuk bersikap tegas.

"Jika engkau tak mau membela dirimu sendiri, Mas, bagaimana engkau akan membela aku kelak ketika badai yang lebih besar datang?" gumam Ghoniyah dengan tenggorokan tercekat.

----------------------------------------------------

--- Bagian III: Riyadhoh di Balik Tiang Masjid Sepuh ---

Lihat selengkapnya