KETIKA SAKIT MEMBUKA TABIR
Kamar Ndalem Pengantin. Ghoniyah terserang demam thypoid dan ketulusan khidmah suami tanpa henti
------------
Rujukan Spiritual:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku." HR. At-Tirmidzi No. 3895
--------------------------------------------------
--- BAGIAN I: DERA PANAS DI BALIK TIRAI BELEDU ---
━━ 🕌 ━━
Malam itu, hening di kamar ndalem sayap barat terasa begitu pekat, seolah waktu sendiri telah melambatkan kayuhannya untuk menyimak napas-napas pendek yang tertahan. Dari balik jendela berdaun ganda yang kayunya telah menghitam oleh usia, tirai beledu hijau tua bergoyang samar tertiup rembesan angin lembap dari luar. Di pelataran pesantren, gerimis musim penghujan jatuh teratur di atas genting-genting lempung kuno, melahirkan suara gemercik monoton yang menyerupai lantunan zikir tanpa kata.
Di dalam ruangan seluas enam kali tujuh meter itu, udara dipenuhi aroma yang khas: sengatan tajam minyak kayu putih berbaur dengan wangi dupa cendana samar peninggalan kakek buyut, serta uap hangat dari seduhan jahe merah dan serai yang mengepul dari atas meja nakas berbahan jati Jepara. Jam dinding kuno merek Junghans buatan Jerman yang tergantung di dinding pualam mengeluarkan detak yang ritmis dan dingin—tik, tok, tik, tok—setiap detiknya mengiris kesunyian, berselang-seling dengan rintih lirih yang tak sanggup dibendung oleh Ning Ghoniyah Shobiyah.
Di atas ranjang pengantin berkelambu renda putih tulang, tubuh perempuan muda itu tergolek tak berdaya. Selimut wol tebal bermotif sulur daun menutupi tubuhnya hingga batas dada, namun dingin yang merayap dari telapak kaki seakan menembus langsung ke tulang sumsumnya. Tubuhnya menggigil hebat, gemeretak giginya terdengar beradu, kontras dengan keningnya yang membara bagai kuali tembaga di atas tungku perapian. Kulit wajahnya yang biasanya kuning langsat bersih kini bersemu merah padam karena lonjakan suhu yang mencapai empat puluh derajat celsius. Bibirnya yang mungil mengering, pecah-pecah, dan pucat pasi.
Dokter Fauzan, alumnus pesantren yang kini berdinas di rumah sakit daerah dan sempat dipanggil sore tadi, telah memberikan vonis medisnya: demam thypoid akut dengan tanda-tanda dehidrasi sedang dan kelelahan fisik menyeluruh. Namun di luar diagnosis klinis tentang infeksi bakteri *Salmonella typhi*, ada luka lain yang lebih tak kasatmata: kelelahan batin yang telah menumpuk sejak berbulan-bulan lalu.
Sebagai menantu baru di pesantren sebesar Al-Fattah—yang membina lebih dari empat ribu santri—Ghoniyah memikul beban ekspektasi yang teramat raksasa di pundak ringkihnya. Ia dituntut sempurna: fasih menyapa para bu nyai sepuh dari berbagai penjuru Jawa, luwes memimpin pengajian Muslimat, tertib menghafal kitab, sekaligus menjaga citra keanggunan seorang ning dalem. Dalam ketergesaan memenuhi segala tatanan adab itu, Ghoniyah kerap melupakan satu hal: dirinya hanyalah manusia biasa yang bisa remuk oleh keletihan.
Lebih dari itu, ada satu dinding tebal tak kasatmata yang masih membentengi jiwanya: rasa canggung dan rendah diri di hadapan suaminya sendiri, Gus Qoifun Habibillah. Pernikahan mereka yang berakar pada dawuh para kiai sepuh sering kali membuat Ghoniyah merasa bagai orang asing yang tiba-tiba ditempatkan di sebuah singgasana berkilau. Gus Qoifun begitu dielu-elukan, begitu cerdas, begitu dicintai para santri. Dan Ghoniyah sering kali terjebak dalam sangkaan buruk hatinya sendiri: apakah lelaki itu menikahinya semata-mata demi menunaikan baktinya kepada sang ayah, ataukah memang ada sepercik ruang di hatinya untuk mencintai perempuan biasa sepertinya?
Kini, ketika tubuhnya ambruk dan tak berdaya, rasa bersalah itu justru kian menggunung. 'Mengapa aku harus selemah ini?' bisiknya parau dalam ketidaksadaran yang berputar-putar. 'Mengapa aku harus menyusahkan ndalem di saat pondok sedang padat-padatnya menyambut Haul Akbar?'
Setiap kali kepalanya berdenyut seakan hendak terbelah, Ghoniyah hanya mampu memejamkan mata rapat-rapat. Air mata dingin merembes dari sudut kelopak matanya yang terpejam, membasahi bantal berbahan kapuk randu. Ia merasa terasing di tengah megahnya kamar pengantin ini, terperangkap dalam igauan delirium yang membawanya terombang-ambing di antara jurang mimpi buruk dan kenyataan yang menyiksa.
--------------------------------------------------
--- BAGIAN II: BASUHAN TANGAN SANG KHADIMUL UMMAH ---
━━ 🕌 ━━
Pintu jati kamar ndalem berderit pelan ketika terdorong ke dalam. Sosok berpostur tegap dengan sarung tenun Samarinda gelap dan kemeja koko putih polos melangkah masuk tanpa alas kaki. Gus Qoifun Habibillah melangkah cepat namun berhati-hati, seolah setiap pijakan kakinya di lantai ubin terakota diperhitungkan agar tak mengusik istirahat sang istri.
Wajah lelaki berusia dua puluh delapan tahun itu tampak lelah. Lingkaran hitam samar mulai membayang di bawah matanya yang biasanya memancarkan ketegasan ilmu dan wibawa ulama muda. Sejak tiga hari lalu, tepat ketika suhu tubuh Ghoniyah mulai melonjak drastis, kehidupan Qoifun seolah berhenti berputar pada poros biasanya.
Di luar kamar ini, kabar menggemparkan sempat beredar di kalangan para pengurus santri. Gus Qoifun, singa mimbar yang jadwal ceramah dan halaqah kitab *Ihya Ulumiddin*-nya selalu terjadwal rapi hingga enam bulan ke depan, secara mendadak membatalkan semua agenda di luar pondok. Jadwal safari dakwah ke tiga kabupaten dibatalkan dengan permohonan maaf yang santun. Pengajian bandongan santri putra ba'da Ashar diserahkan sementara waktu kepada adik sepupunya, Gus Zidna. Bahkan ketika Kang Ridwan, lurah pondok yang setia, menghadap dan menawarkan diri:
'Ngapunten Gus, menawi kersa, kersanipun Mbak-Mbak santri ndalem ingkang ngrumati Ning Ghoniyah. Panjenengan saget istirahat utawi rawuh teng pelantikan MUI...'
Qoifun hanya menggeleng tegas dengan suara yang tenang namun tak terbantahkan: 'Mboten, Kang Ridwan. Ghoniyah niku bojoku. Garwaku. Tanggung jawab lan khidmahku minangka garwa mboten saget diwakilake marang santri. Sampeyan aturaken salamku marang para kiai, nyuwun agunging pangaksami amargi kulo mboten saget tindak.'
Kini, di keheningan kamar, Qoifun meletakkan sebuah baskom tembaga kecil berisi air suam-suam kuku yang baru saja ia ambil dari dapur belakang ndalem. Di pundaknya tersampir sehelai kain katun putih bersih. Ia duduk bersila di atas lantai kayu tepat di sisi ranjang, menatap paras pucat istrinya dengan tatapan yang sarat akan rasa ngilu yang meremukkan dada.
Tangan Qoifun bergerak mantap. Ia mencelupkan kain katun ke dalam air suam, meremasnya dengan kedua telapak tangannya hingga tak ada air yang menetes berlebihan, lalu dengan sangat hati-hati ia menyingkap sedikit poni rambut Ghoniyah yang basah oleh peluh dingin. Dengan gerakan yang teramat lembut—selembut seorang ibu menyentuh pipi bayi merahnya—Qoifun menempelkan kain hangat itu ke dahi istrinya.
Ghoniyah tersentak kecil. Suhu kain yang hangat beradu dengan kulit dahinya yang membara, memicu getaran di kelopak matanya. Dengan susah payah, perempuan itu membuka mata. Melalui pandangannya yang kabur dan berlinang air kepedihan, ia menangkap bayangan suaminya yang membungkuk di sampingnya.
'G-Gus...?' suaranya keluar bagai bisikan daun kering yang tertiup angin.
'Dalem, Nduk... Ini Mas di sini. Jangan banyak bergerak dulu,' bisik Qoifun lembut, tangannya yang lain meraih telapak tangan Ghoniyah yang dingin dan mendekapnya di antara kedua telapak tangannya yang hangat.
'Ampun... ampun ngerepotaken jenengan, Gus...' Ghoniyah berusaha menarik tangannya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Rasa sungkannya yang mendarah daging membuatnya merasa berdosa melihat seorang putra mahkota kiai besar bersimpuh di lantai merawat dirinya. 'Kulo... kulo saget piyambak... Kersanipun Mbak santri kemawon ingkang kompres... Jenengan kedah ngajar...'
Mendengar kalimat itu, ada getaran halus di sudut bibir Qoifun. Lelaki itu tidak melepaskan genggamannya; sebaliknya, ia mempererat tautan jari-jemarinya, menyelipkan jemarinya sendiri di sela-sela jemari Ghoniyah yang kurus.
'Ghoniyah,' suara Qoifun terdengar begitu dalam, sarat penegasan yang menghujam langsung ke bilik jantung istrinya. 'Dengarkan Mas. Kamu bukan tamu di ndalem ini. Kamu bukan orang asing yang menumpang hidup di pondok ini. Kamu istriku. Amanah langit yang diserahkan Abahmu di atas kalimat tauhid. Siapa lagi di muka bumi ini yang paling berhak melayani dan menjagamu jika bukan suamimu sendiri?'
Qoifun menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata Ghoniyah yang berair. 'Jika seluruh santri di pesantren ini bisa kulayani dengan ilmuku, lalu bagaimana mungkin aku menelantarkan perempuan yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mendampingiku? Demi Allah, Ghoniyah, khidmahku padamu malam ini jauh lebih utama di mata Allah daripada seribu ceramahku di atas panggung.'
Air mata Ghoniyah tumpah ruah mendengar perkataan itu. Kalimat sederhana itu menghantam telak dinding keraguan yang selama berbulan-bulan ia bangun di dalam benaknya. Rasa perih akibat penyakit di ususnya seolah luruh sesaat, tergantikan oleh rasa haru yang teramat menyesakkan dada.
--------------------------------------------------