Pengakuan di Bawah Rintik Hujan Malang
Latar: Balkon Atas Ndalem Pesantren Luhur, Menghadap Lembah Perbukitan Malang. Waktu: Sore Menjelang Maghrib, Hawa Dingin & Gerimis Lembah
-------------
Rujukan: QS. Ar-Rum: 21 -
Surah Ar-Rum ayat 21 adalah salah satu ayat paling populer dalam Al-Qur'an mengenai pernikahan dan keluarga. Ayat ini sering kali dibaca dalam khotbah nikah atau ditulis pada kartu undangan pernikahan karena menjelaskan tujuan suci dan hakikat dari sebuah pernikahan, yaitu menciptakan ketenteraman (sakinah) yang dilandasi rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (warahmah).
Teks Arab:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Transliterasi:
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājal litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddataw wa raḥmah(tan), inna fī żālika la’āyātil liqaumiy yatafakkarūn.
Terjemahan Kemenag (2019): "Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
----------------------------------------------------
--- Bagian I: Kabut Lembah dan Petrikor Sore Malang ---
Pulihnya raga, terbukanya jendela batin di tepian dingin lereng bukit
━━ 🕌 ━━
Hawa dingin lembah Malang menyusup di sela renggang kisi-kisi kayu jati ndalem, membawa serta aroma basah dedaunan pinus dan petrikor tanah yang baru saja dijatuhi rintik gerimis pertama. Dari balkon lantai dua yang menjorok menghadap ke barat daya, hamparan perbukitan tampak laksana bentangan permadani hijau zamrud yang perlahan diselimuti selubung kabut putih susu. Pepohonan sengon dan rumpun bambu betung di lembah bawah meliuk pelan ditiup semilir angin pegunungan, mengeluarkan gemerisik lirih yang mengiringi riak sungai bebatuan di kejauhan. Langit di atas kota apel itu kian meredup, menyisakan semburat jingga tembaga yang tertelan mendung pekat yang merayap turun dari puncak Arjuno.
Ning Ghoniyah Shobiyah berdiri bersandar pada pagar pembatas balkon yang berukir sulur dedaunan khas Jepara kuno. Jemarinya yang masih tampak sedikit pucat memegangi tepian kayu jati yang dingin dan lembap. Setelah lima hari lamanya terbaring lemah di pembaruan kamar ndalem akibat demam tinggi yang meremukkan persendian dan menghimpit rongga dadanya, inilah petang pertama ia diizinkan melangkahkan kaki keluar untuk menghirup udara segar pegunungan. Setiap helaan nafasnya terasa seperti anugerah baru, kendati udara sejuk itu terasa membekukan ujung-ujung hidung dan bibirnya.
Raut wajahnya yang tirus mulai disapa rona merah samar pada kedua belah pipi. Ia mengenakan gamis sederhana berbahan katun madinah berwarna abu-abu mutiara yang dipadukan dengan khimar panjang berbahan sutra wolfis hijau lumut gelap. Ujung kain khimarnya sesekali berkibar lembut disentuh hembusan angin lereng bukit yang basah. Di atas meja bundar kecil dari kayu trembesi di sampingnya, secangkir wedang sereh jahe gula aren yang diseduh mbak santri ndalem masih mengepulkan uap tipis, menebarkan keharuman rempah cengkeh dan kapulaga yang menghangatkan indera.
Namun, ketenangan alam Malang sore itu tak serta-merta mampu meredam gemuruh di balik dinding dadanya. Ghoniyah menatap rintik air yang mulai mengetuk atap sirap dan menetes berirama pada talang tembaga tua. Setiap tetes yang jatuh seolah mengingatkannya pada serpihan kegelisahan yang mengendap berhari-hari di palung batinnya. Di balik demam fisiknya yang baru saja surut, ada luka batin yang jauh lebih perih dan menganga—selembar kertas berlipat rapi dengan tulisan tinta hitam yang ia temukan tanpa sengaja di antara lembaran kitab kuning Fathul Qorib beberapa waktu lalu di rak sudut perpustakaan ndalem.
Surat itu. Kata-kata yang tertoreh di dalamnya begitu tajam, menusuk tepat pada rasa percaya dirinya yang paling rentan sebagai seorang perempuan. Surat kaleng tanpa nama pengirim yang menyebut sebuah nama dari masa lalu suaminya dengan begitu percaya diri: Ning Salma. Nama seorang putri ningrat dari timur Jawa yang diklaim sebagai perempuan yang semestinya mendampingi Gus Qoifun Habibillah. Surat itu mengabarkan desas-desus beracun: bahwa pernikahan antara dirinya dan Gus Qoifun hanyalah pernikahan transaksional yang dipaksakan demi menyambung sanad keilmuan dan wasiat persahabatan antarkiai, sementara hati sang gus sesungguhnya tertinggal di tanah kelahirannya bersama janji-janji masa silam yang tak sempat dipenuhi.
Ghoniyah menarik nafas panjang yang bergetar, membiarkan udara dingin membekukan dadanya yang terasa sempit. 'Astaghfirullahal 'adzim... Ya Allah, lindungilah hamba dari prasangka buruk dan bisikan waswas setan,' bisiknya nyaris tak terdengar, hanya ditelan gemersik dedaunan bambu. Selama berhari-hari dalam panas demamnya, ketika badannya menggigil hebat di bawah selimut tebal, ia memilih mengunci rapat bibirnya. Sebagai putri seorang ulama kharismatik yang dididik adab pesantren sejak belia, ia tahu betul haramnya bersu'udzon kepada suami yang telah sah menjadi imamnya. Namun, diamnya bukan berarti hilangnya rasa sakit. Diam itu justru menjelma menjadi bara sekam yang membakar kesehatan raganya perlahan-lahan.
Ia teringat petuah abahnya, Kiai Hasan, sewaktu melepasnya di teras pondok Malang beberapa bulan yang lalu: *'Nduk, Ghoniyah... omah-omah iku dudu mung golek seneng, nanging madegake mihrab ibadah. Bojomu iku sandhanganmu, lan sliramu iku sandhangane bojomu. Yen ana suweke, tambalen nganggo sabar lan donga, aja kok beberake ing ngarepe manungsa.'* Petuah itu yang membuatnya memilih menahan air matanya di atas sajadah malam, menangis hanya kepada Sang Penggenggam Jiwa tanpa pernah sekali pun menuntut penjelasan kasar kepada suaminya.
Kini, ketika ia berdiri memandang kelabu langit petang yang mulai diselimuti pekatnya malam, bayangan percakapan yang tertunda itu semakin menuntut jawaban. Ghoniyah tidak menuntut pembelaan muluk-muluk atau sanjungan manis layaknya novel picisan. Sebagai santriwati yang menghafal kalam-kalam suci, ia hanya mendambakan satu hal yang paling hakiki: kejujuran yang murni di hadapan Allah. Apakah keberadaannya di ndalem ini sekadar wujud bakti sang suami atas prinsip sam'an wa tha'atan kepada Kiai Rifki, ataukah memang ada sebersit cinta yang tulus dan ikhlas memilih dirinya sebagai teman perjalanan menuju surga?
-----------------------------------------------------
--- Bagian II: Langkah Santun di Balik Tirai Jati ---
Kehadiran sang imam membawa payung hijau tua dan kehangatan selendang wol
━━ 🕌 ━━
Bunyi derit lantai papan jati tua terdengar berirama teratur dari arah pintu lorong dalam yang menghubungkan ruang keluarga ndalem dengan balkon atas. Langkah kaki itu pelan, mantap, dan sarat dengan ketenangan seorang penuntut ilmu yang terbiasa menjaga adab gerak lahiriah. Tanpa perlu menoleh ke belakang, Ghoniyah sudah mengenali getaran langkah tersebut. Detak jantungnya mendadak berkejaran cepat, mengirimkan aliran darah hangat ke sekujur tubuhnya yang semula beku oleh hembusan angin lembah.
Gus Qoifun Habibillah melangkah keluar ke beranda balkon. Sosok pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu tampak bersahaja namun memancarkan wibawa keilmuan yang memikat dalam balutan baju koko putih bersih berkerah shanghai dan sarung BHS sutra bermotif gerimis perak kelabu. Peci beludru hitam bertengger rapi di kepalanya, membingkai wajah tirus berkulit kuning langsat dengan hidung mancung dan alis tebal. Sorot matanya selalu teduh, terlatih menunduk menjaga pandangan dari perkara yang tak berfaedah. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah payung kain berangka kayu berwarna hijau daun tua berukuran lebar, sementara di lengan kirinya tersampir sehelai selendang wol tebal berwarna krem kecokelatan.
'Assalamu'alaikum warahmatullah, Ghoniyah...' suara bariton itu mengalun rendah, dalam dan lembut laksana gemericik embun pegunungan yang menyentuh kelopak bunga teratai. Ada nada kelegaan yang amat kentara dalam suaranya saat mendapati sang istri telah sanggup berdiri tegak menatap lembah, setelah beberapa hari lamanya terbaring tak berdaya.
Ghoniyah berbalik pelan, menundukkan pandangannya setinggi dada suaminya sebagai cermin ketawadhuan yang telah mendarah daging dalam adat santri. 'Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Gus...' jawabnya santun, suaranya masih menyimpan sedikit sisa serak akibat batuk dan radang tenggorokan yang belum sembuh seutuhnya.
Qoifun melangkah mendekat dengan takzim, namun tetap menjaga jarak kehormatan yang penuh kehati-hatian sebelum memastikan Ghoniyah merasa nyaman. Matanya menatap lekat raut wajah istrinya dengan pancaran kekhawatiran yang tak mampu disembunyikan. 'Mengapa berdiri di bibir balkon tanpa selimut tebal, Dik? Udara Malang petang ini sedang menusuk tulang. Kabut dingin sudah turun sampai ke pelataran asrama santriwati di bawah. Baru tadi siang Kang Mantri berpesan agar kamu tidak boleh tersentuh angin lembah sebelum staminamu pulih seutuhnya.'
Sebelum Ghoniyah sempat menyusun dalih atau memohon maaf, tangan Qoifun yang hangat dan kokoh telah terangkat. Dengan gerak perlahan yang sangat berhati-hati seakan sedang menyentuh bejana pualam kaca yang teramat rapuh, Qoifun membentangkan selendang wol tebal itu dan melingkarkannya ke sekeliling pundak Ghoniyah. Ujung kain selendang dirapikannya dengan telaten di bawah dagu sang istri, memastikan tidak ada celah bagi angin petang untuk menerobos masuk menyentuh tengkuknya.
Aroma khas suaminya seketika mengepung indera penciuman Ghoniyah—perpaduan lembut minyak wangi misik putih non-alkohol, wangi kayu gaharu yang dibakar saat wirid sore di ndalem, dan aroma sabun batang sederhana. Jantung Ghoniyah berdesir hebat. Sentuhan itu tidak pernah kasar, melainkan selalu sarat akan kelembutan, perlindungan, dan pemuliaan. Ingatan Ghoniyah melayang pada malam-malam demamnya yang mencekam: bagaimana dalam keadaan setengah sadar, ia samar-samar merasakan kompres air hangat diganti berkali-kali di dahinya pada pukul tiga dini hari, dan suara lantunan surah Ar-Rahman serta ayat-ayat syifa yang dibisikkan lirih oleh suaminya di samping pembaringan dengan air mata yang menetes ke jemarinya.
Jika suaminya begitu tulus merawatnya, mengapa isi surat fitnah itu terus menari-nari bagai iblis yang mengoyak ketenangan hatinya? Kontradiksi inilah yang membuat batin Ghoniyah teriris pedih. Ia menunduk kian dalam, kedua tangannya meremas ujung selendang wol di dadanya dengan jemari yang gemetar. 'Kulo... kulo naming kangen ningali rintik gerimis, Gus. Sampun pinten-pinten dinten mripat kulo naming mandeng eternit kamar. Rumaos sumpek wonten lebeting dhadha...'