Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

PULANG KE TANAH MATARAMAN

PULANG KE TANAH MATARAMAN

Gerbang & Halaman Ndalem Darul Ikhsan, Jawa Timur. Elegan dalam Ketawadhuan; Memuliakan Manusia secara Bermartabat

-----------

Hadis Rujukan:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ

"Sesungguhnya Allah menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan." (HR. Bukhari (No. 6927) & Muslim (No. 2593))

--------------------------------------------------


--- Bagian I: Debu Jalur Selatan & Aroma Ladang Tebu ---

Melintasi Gerbang Alam dan Pergulatan Batin di Balik Kaca Mobil

━━ 🕌 ━━

Derum mesin mobil minibus tua kelabu itu terdengar seperti dengung lebah jantan yang kelelahan, menyusuri jalanan aspal bergelombang yang membelah pedalaman Jawa Timur bagian barat. Di luar jendela, bentang alam perlahan menanggalkan aroma asin laut utara yang selama ini menjadi udara nafas Ghoniyah sejak ia kanak-kanak. Pesisir dengan anginnya yang garang, terik matahari yang memanggang tambak-tambak garam, dan deru ombak yang tak pernah tidur, kini telah berganti sepenuhnya dengan pemandangan pedalaman Mataraman yang hijau ranum, tenang, dan seolah membeku dalam keabadian waktu.

Sejauh mata memandang, rimbun perkebunan tebu rakyat menjulang rapat di kanan dan kiri bahu jalan. Batang-batang tebu yang gemuk dengan daun-daun pita keperakan meliuk serempak tertiup angin kemarau awal. Dari kejauhan, wangi manis getah nira tebu yang terpanggang terik mentari bercampur dengan sengatan tanah lempung basah sisa siraman air parit, melayang masuk melalui celah kaca jendela yang sengaja diturunkan Qoifun dua jari.

Ghoniyah menarik nafas panjang, membiarkan aroma tanah itu memenuhi rongga dadanya yang sejak subuh tadi digelayuti debar tak menentu. Jarinya yang lentik, terbiasa membalik lembar-lembar kitab kuning berjilid tebal, tanpa sadar meremas ujung kain selendang katun sutra berwarna gading yang melilit lehernya. Ini adalah hari pertama ia akan menjejakkan kaki di tanah kelahiran suaminya—bumi tempat Gus Qoifun dibesarkan, dididik, dan ditempa menjadi lelaki berhati samudera.

"Masih tegang, Nduk?" suara itu menyapa lembut. Begitu tenang, seperti gemercik air tempayan di waktu sepertiga malam terakhir.

Ghoniyah menoleh. Di sampingnya, di balik kemudi setir yang kulitnya mulai mengelupas termakan usia, suaminya tersenyum tipis. Sorot mata Qoifun jernih, tanpa beban kepalsuan. Sejak mereka meninggalkan gerbang pondok pesantren ayahnya di pesisiran Jawa Tengah kemarin sore, lelaki itu tidak henti-hentinya memperlakukannya dengan ketelatenan yang nyaris membuat Ghoniyah merasa tak pantas. Setiap kali mobil berhenti di warung kecil untuk salat atau sekadar melemaskan kaki, Qoifun selalu membukakan pintu, merapikan letak sandal Ghoniyah, dan memastikan cadar atau ujung selendangnya tidak tersangkut.

"Bukan tegang, Kangmas," sahut Ghoniyah pelan, menurunkan pandangannya ke arah jemari suaminya yang bertengger kokoh di atas persneling. "Hanya saja... bayangan tentang Darul Ikhsan selalu memenuhi kepalaku dengan pertanyaan yang tak pernah usai. Apakah abah dan ummi panjenengan akan menyukai caraku bertutur kata? Apakah aku tidak akan terlihat kaku di hadapan para santri ndalem? Panjenengan tahu sendiri, di tempat tinggalku dahulu, pintu ndalem adalah batas kramat yang tak sembarang orang berani melintasinya tanpa menundukkan dahi hingga lutut bergetar."

Qoifun melepaskan tangan kirinya dari kemudi, lalu dengan penuh kehangatan yang halal, ia menelusupkan jemarinya di sela-sela telapak tangan Ghoniyah yang dingin berpeluh. Genggamannya mantap, memberi jangkar pada perahu jiwa istrinya yang sedang terombang-ambing cemas.

"Ghoniyah, belahan jiwaku," ucap Qoifun dengan intonasi rendah yang meneduhkan. "Abah dan Ummi tidak pernah membangun Darul Ikhsan sebagai istana maharaja. Tanah Mataraman ini adalah tanah para petani yang bersujud. Engkau tidak sedang memasuki benteng seorang bangsawan yang haus sembah dan sujud manusia. Engkau sedang pulang ke rumah orang tuamu sendiri. Bernafaslah lapang, Nduk. Biarkan angin ladang tebu ini menghapus segala ketakutan yang kau bawa dari masa lalu."

Kata 'pulang' yang diucapkan suaminya bergaung ganjil namun manis di telinga Ghoniyah. Sebagai seorang anak kiai besar pesisir yang sejak kecil dikelilingi pagar kehormatan yang angkuh dan protokoler santri yang ketat, konsep 'pulang' kerap kali sinonim dengan kepatuhan hierarkis yang melelahkan. Namun, tatapan mata Qoifun meyakinkannya bahwa di balik rimbun ladang tebu di hadapan mereka, ada sebuah dunia yang bernafas dengan denyut yang sama sekali berbeda.

---------------------------------------------------


--- Bagian II: Gerbang Bambu & Keheningan Tanpa Benteng ---

Ketiadaan Pagar Tinggi dan Salam Bersahaja di Tapal Batas Pesantren

━━ 🕌 ━━

Mobil berbelok ke sebuah jalan desa yang dinaungi kanopi pepohonan asam kranji tua dan deretan pohon turi berbunga putih. Debu pasir halus mengepul tipis di belakang roda ketika laju kendaraan melambat hingga kecepatan pejalan kaki. Ghoniyah melongokkan kepalanya ke arah depan, mencari-cari bangunan gerbang megah berkubah beton atau gapura bertuliskan kaligrafi emas mencolok yang biasanya menjadi penanda pintu masuk pesantren-pesantren tersohor di tanah Jawa.

Namun yang ia dapati di ujung jalan hanyalah sebaris pagar bambu tutul setinggi dada orang dewasa, dipagari tanaman pagar mangkokan dan daun beluntas yang terpangkas rapi. Di sebuah tiang kayu jati yang tertancap di sisi kanan jalan masuk, tergantung sebilah papan kayu nangka bertuliskan pahatan sederhana: *Pondok Pesantren Darul Ikhsan*. Tanpa cat mencolok, tanpa lampu sorot neon, hanya kayu berurat legam yang dibiarkan menua bersama musim.

"Kita sudah sampai di pekarangan ndalem, Ghoniyah," bisik Qoifun seraya mematikan pendingin mobil dan membuka kaca sepenuhnya.

Seketika udara segar menyerbu masuk. Bukan udara pengap perkotaan, melainkan wangi harum daun asam yang remuk, aroma pembakaran jerami di kejauhan, dan desau dedaunan jati yang bergesekan laksana tasbih alam yang tak pernah putus. Di pelataran tanah liat yang disapu bersih tanpa selembar daun kering pun berserak, beberapa santri berusia belasan tahun tampak sedang menyelesaikan tugas gotong royong sore.

Dua orang santri bersarung lurik dan berkaos oblong cokelat muda sedang memikul keranjang anyaman bambu berisi rumput gajah segar untuk pakan kambing ndalem. Ketika suara mesin mobil Qoifun mendekat, mereka berdua berhenti sejenak di tepi halaman, meletakkan pikulan dengan tenang, lalu tersenyum lebar ke arah mobil.

Ghoniyah menahan nafasnya. Di pesantren asalnya, jika mobil keluarga ndalem melintas di halaman pondok, para santri wajib segera merapatkan tubuh ke tanah, memalingkan muka ke samping dengan pandangan menunduk dalam-dalam, dan tidak boleh bergerak setitik pun sampai debu ban mobil mengendap. Ada semacam teror kekudusan yang tak kasat mata di sana.

Namun di sini, santri-santri itu tidak menjatuhkan diri ke tanah. Mereka tidak merangkak ngesot dalam kepanikan. Salah seorang dari mereka, pemuda berwajah teduh dengan peci hitam yang miring sedikit karena keringat, justru melambaikan tangannya dengan santun sembari mengucap salam yang terdengar renyah di telinga.

"Assalamu'alaikum, Gus Qoifun! Sampun rawuh, Gus?" sapanya dengan nada yang sarat akan rasa hormat yang tulus, namun bebas dari ketakutan budak kepada tuannya.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Kang Munir. Alhamdulillah, nembe dugi. Kambing-kambingnya sudah kenyang semua kah?" balas Qoifun seraya menjulurkan kepala keluar jendela, membalas senyuman santri itu dengan keakraban seorang kakak kandung yang baru pulang merantau.

"Alhamdulillah, Gus, sampun wareg sedoyo. Abah nembe teng wingking, ngurusi bibit lombok," jawab santri bernama Munir itu tanpa kehilangan adab membungkukkan sedikit badannya saat berbicara.

Ghoniyah mengamati interaksi singkat itu dengan mata membulat takjub. Tidak ada kepalsuan gerak tubuh. Tidak ada ketegangan urat leher. Penghormatan santri itu mengalir sewajarnya air pancuran: jernih, murni, dan memanusiakan. Suaminya tidak diposisikan sebagai dewa yang tak boleh disapa, melainkan guru muda sekaligus saudara seperjuangan dalam menuntut ilmu Allah.

---------------------------------------------------


--- Bagian III: Mahakarya Joglo Tanpa Paku Besi ---

Dinginnya Ubin Abu-Abu, Pasak Purus Jati, dan Cungkup Beraroma Dupa Kemukus

━━ 🕌 ━━

Mobil berhenti tepat di bawah naungan pohon mangga golek yang rindang di samping pelataran ndalem. Ketika kaki berbalut kaos kaki putih Ghoniyah pertama kali menyentuh tanah pekarangan, aroma kesejukan pedalaman Mataraman langsung menyergap pori-porinya. Namun pandangannya segera tersedot sepenuhnya pada bangunan utama ndalem yang berdiri megah di hadapannya.

Bangunan itu adalah sebuah rumah Joglo Sinom Jawa Mataraman asli yang diperkirakan telah berdiri melintasi tiga generasi kiai. Tidak ada dinding bata semen tebal yang dilapisi cat akrilik mengkilat. Seluruh kerangka dan dinding bangunan ndalem itu dibangun dari kayu jati wulung tua—kayu yang diambil dari inti pohon jati hutan purba Jawa Timur yang telah berumur ratusan tahun sebelum ditebang.

Ghoniyah melangkah perlahan menaiki tangga teras yang hanya terdiri dari dua undakan batu kali pipih. Begitu telapak kakinya yang beralaskan sandal kain menginjak lantai teras, ia merasakan sensasi dingin yang merambat menenangkan hingga ke ubun-ubun. Lantai ndalem itu bukan keramik porselen licin buatan pabrik modern, melainkan hamparan ubin semen cetak kuno berwarna abu-abu kehijauan polos dengan permukaan *doff* yang halus terasah oleh ratusan ribu langkah kaki selama puluhan tahun.

Ia menengadah ke atas. Di langit-langit beranda yang tinggi menjulang, tampak tatanan balok-balok kayu penyangga yang memukau nalar arsitektur modern. Empat batang soko guru—tiang penyangga utama berpenampang bulat kokoh—berdiri tegak menyangga struktur tumpangsari berundak sembilan tingkat. Urata-urat kayu jatinya legam keemasan, memancarkan wangi alami getah damar jati yang khas bercampur sedikit jejak asap dupa kemukus yang wangi.

Dan yang membuat Ghoniyah terpaku tak berkedip adalah sambungan antar-baloknya. Di setiap sudut pertemuan balok blandar dan usuk, tidak tampak satu pun paku besi kolonial yang berkarat. Seluruh rangka atap joglo yang maha-berat itu saling mengunci rapat hanya dengan mengandalkan sistem pasak kayu purus (mortise and tenon)—sebuah mahakarya pertukangan Jawa kuno yang melambangkan keluwesan, keharmonisan, dan keteguhan batin yang tak membutuhkan kekerasan besi untuk tetap berdiri tegak melawan badai zaman.

Pintu depan ndalem adalah sepasang daun pintu *kupu tarung* berukir ceplok sekar melati sederhana di pinggirannya, dibiarkan terbuka lebar tanpa grendel rantai. Dari dalam ruangan, angin semilir yang bertiup dari celah jendela krepyak kayu di samping belakang membawa hawa sejuk persawahan tebu, menepis hawa gerah siang hari tanpa butuh bantuan kipas angin listrik.

Di ruang depan yang jembar itu, tidak tampak sofa kulit impor berlapis busa tebal yang angkuh. Yang tersaji hanyalah hamparan tikar mendong anyaman tangan yang harum dan beberapa lincak kayu jati panjang dengan bantalan kapuk bersarung kain mori putih bersih. Ruangan itu tampak begitu agung justru karena ketiadaan segala atribut kemewahan duniawi yang fana.

"Inilah tempat Abah dan Ummi mengaji setiap bakda subuh, Ghoniyah," bisik Qoifun yang sudah berdiri di sampingnya, meletakkan tas jinjing sederhana mereka di sudut undakan teras. "Kayu-kayu jati ini tidak pernah mengenal paku besi penjajah sejak buyut kami mendirikannya. Kata Abah, rumah orang beriman harus dibangun atas dasar kerelaan kayu yang saling menopang dengan pasak kasih sayang, bukan besi yang menusuk dan memecah urat persaudaraan."

Ghoniyah meraba tiang soko guru di dekatnya. Kayu itu terasa dingin, padat, dan hidup. Di bawah naungan atap joglo ini, kemegahan duniawi yang selama ini diagung-agungkan di kota seolah meluruh menjadi debu yang tak bernilai di hadapan ketundukan sejati.

Lihat selengkapnya