Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

DAPUR NDALEM DARUL IKHSAN

Dapur Pawon Kayu Bakar Ndalem Darul Ikhsan

Pelajaran dari Dapur Ndalem: Sujud Panjang dan Seni Memaafkan

-----------------------------------------------------


--- Bagian I: Kabut Subuh dan Angus Bata Merah ---

Ketika aroma kayu jati kering mengalahkan keharuman kasturi duniawi

━━ 🕌 ━━

Kabut subuh masih menggelayut tebal di pelataran Ndalem Darul Ikhsan ketika dengung wirid para santri dari masjid utama mulai menyurut menjadi gumam lebah yang menenteramkan kalbu. Udara lereng pegunungan terasa menggigit tulang belulang, menyusup melalui celah-celah kisi jendela kayu dan membawa aroma tanah basah sehabis gerimis semalam, bercampur bau embun dingin yang mengendap pada dedaunan pohon sawo kecik. Di sudut belakang ndalem, tersembunyi jauh dari pandangan para tamu agung serta barisan peziarah yang kerap mengantre sowan, sebuah pintu kayu jati lawasan berderit pelan.


Ghoniyah melangkah dengan sangat hati-hati, berusaha agar gemerisik ujung kainnya tidak memecah keheningan dini hari yang masih suci. Gaun tidur sutra hadiah pernikahan dari kerabatnya di pesisir telah berganti dengan jarik batik sogan motif sidomukti yang sudah agak pudar warnanya. Jarik itu sengaja dililitkan sedikit tinggi di atas mata kaki agar tidak tersapu debu lantai, dipadukan dengan baju kurung katun sederhana dan selendang panjang yang disampirkan longgar menutupi pundak kirinya. Kedua telapak tangannya masih terasa dingin membeku—bukan hanya karena sisa basuhan air wudu salat subuh, melainkan juga akibat kecamuk batin dan kegugupan yang belum sepenuhnya reda semenjak ia diboyong ke pesantren ini sebagai menantu pertama Kiai Rifki dan Nyai Ghalia.

Dapur pawon ndalem sama sekali tidak mencerminkan kemasyhuran nama Darul Ikhsan yang disegani di seantero negeri. Ruangan itu tidak berpualam putih, tidak benderang oleh lampu kristal, dan jauh dari perkakas baja mengilap sebagaimana yang lazim ia nikmati di pesantren keluarganya di Tuban. Dinding-dindingnya tersusun dari bata merah telanjang tanpa lepa, yang separuh bidang atasnya telah menghitam pekat oleh angus—jelaga tebal yang terendapkan dari pembakaran kayu selama lebih dari empat dasawarsa.

Tepat di tengah ruangan beralas plester semen kelabu yang kasar, berdiri kokoh sebuah luweng—tungku tanah liat ganda bertongkrongan kekar dengan dua lubang kawah perapian yang menghadap ke arah barat. Dari rongga bawah tungku, pendar bara merah keemasan tampak berdenyut perlahan, memancarkan hawa hangat yang memikat tubuh yang kedinginan, persis detak jantung tua yang setia memelihara kehidupan rumah tanpa menuntut tepuk tangan.

Di depan mulut luweng itu, duduk seorang perempuan sepuh di atas sebuah dingklik kayu randu yang rendah. Sosok itu mengenakan kerudung bergo putih polos berbahan kaos tebal yang ujung lingkar lehernya telah sedikit menguning oleh paparan asap bertahun-tahun. Rambutnya yang telah diselingi perak terselip rapi di balik kain penutup. Kedua tangannya yang berurat tebal dan tampak kokoh sedang memegang sebatang semprong bambu kering, lalu meniupkannya dengan ritme yang tenang ke arah tumpukan arang.

Fuuuh... fuuuh...

Percikan bunga api merah jingga meloncat ke udara berderak halus, disusul kepulan asap putih wangi yang membubung perlahan menuju usuk-usuk bambu atap dapur. Aroma kayu jati kering, getah ranting kopi perapian, dan sisa arang batok kelapa seketika memenuhi rongga pernapasan Ghoniyah, mengantarkan sensasi ketenangan purba yang tidak pernah ia temukan di ruang tamu megah mana pun.

"Assalamu'alaikum, Umi..." sapa Ghoniyah sangat lirih, suaranya nyaris bergetar karena khawatir mengejutkan perempuan suci yang sedang begitu khusyuk di depan bara api.

Nyai Ghalia menoleh perlahan. Gurat-gurat ketuaan di wajahnya merekah dalam senyuman yang luar biasa teduh, senyuman seorang ibu yang telah selesai dengan segala hiruk-pikuk keduniawian. Matanya yang jernih menatap menantunya dengan pandangan merengkuh yang meluluhkan rasa canggung.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarokatuh, Nduk Ghoniyah. Ya Allah, kok sudah turun ke pawon sepagi ini? Hawanya masih ngilu di persendian, Nduk. Kamu ini kan pengantin anyar, semestinya masih istirahat di bilik, menemani suamimu berzikir," tutur Nyai Ghalia ramah, suaranya laksana gemercik air pancuran di tengah sawah yang tenang.

Ghoniyah mendekat, lalu serta-merta berlutut di atas lantai semen yang dingin, menundukkan kepala dan meraih jemari mertuanya untuk dikecup dengan takzim. Punggung tangan Nyai Ghalia terasa kesat, tebal oleh kapalan kerja keras puluhan tahun, dan menyebarkan aroma khas yang menenangkan: perpaduan antara asap kayu jati, minyak kelapa klentik, dan sisa daun pandan. Di jari-jemari yang mulia itu, tidak ada sebutir pun batu permata permata atau gelang emas bertatah intan. Tangan itulah yang selama ini mengayomi ratusan santriwati yatim dan menyuapi ribuan santri miskin yang menuntut ilmu di Darul Ikhsan.

Hikmah Bagian: Ketawadhuan sejati bermula saat seorang perempuan berani melepaskan jubah kebanggaannya di depan tungku perapian yang bersahaja.

---------------------------------------------------


--- Bagian II: Menjinakkan Getah Kluwih ---

Minyak kelapa, pisau bilah baja, dan rahasia membersihkan noda prasangka

━━ 🕌 ━━

"Mboten, Umi. Ghoniyah kepengin derek khidmah. Ghoniyah kepengin belajar melayani Abah dan keluarga ndalem dari tangan Umi sendiri," jawab Ghoniyah perlahan, matanya tetap tertuju ke lantai sebagai tanda adab santri. Ada desir malu yang merambati dinding dadanya. Di pondok pesantren ayahnya yang masyhur di pesisir, statusnya sebagai ning kinasih membuatnya selalu dilayani. Belasan santriwati ndalem selalu berebut mencucikan piringnya, merapikan selimutnya, bahkan menyiapkan hidangan makan malamnya di atas nampan tembaga berukir. Selama dua puluh empat tahun usianya, tangannya lebih akrab dengan pena kaligrafi, lembaran naskah fikih, dan sampul kulit tebal kitab kuning daripada jelaga pawon.

Nyai Ghalia memandangi menantunya dengan binar mata yang penuh rasa maklum. Beliau bangkit perlahan dari dingklik kayu, berjalan ke sudut meja panjang beralas seng, lalu membawakan sebuah baskom seng blirik hijau putih yang berukuran cukup besar. Di dalam baskom itu tergeletak dua butir buah kluwih utuh yang kulit luarnya berduri-duri lunak mirip nangka muda, namun bentuknya lebih membulat dan warnanya hijau kelabu kusam.

"Kebetulan sekali kalau kamu mau menemani Umi, Nduk. Pagi ini Abahmu berpesan ingin sarapan lodeh kluwih. Sayur orang dusun, tapi ini masakan kesukaan Abah sejak beliau masih mondok tirakat di Sarang dan Kediri puluhan tahun silam," kata Nyai Ghalia seraya menyodorkan sebilah pisau dapur bergagang kayu asam yang bilah bajanya tampak tipis namun sangat tajam terasah.

Ghoniyah menerima pisau itu. Jantungnya berdegup sedikit kencang. Ia belum pernah sekalipun mengolah buah kluwih. Namun, tepat ketika ujung mata pisau hendak ia tempelkan pada pangkal tangkai buah yang keras itu, telapak tangan Nyai Ghalia yang hangat dan kokoh menahan pergelangan tangannya.

"Sik, Nduk... mandek dhisik. Jangan buru-buru menorehkan pisau. Tanganmu yang halus nanti kotor semua kena getahnya," cegah sang mertua dengan kelembutan yang menenteramkan.

Nyai Ghalia mengambil sebuah mangkuk tembikar kecil berisi cairan minyak kelapa bening kekuningan—minyak klentik tradisional hasil olahan parutan kelapa sendiri yang beraroma harum legit. Beliau mencelupkan jemarinya, menuangkan beberapa tetes ke telapak tangannya sendiri, lalu menggosokkannya dengan saksama ke seluruh sela jari, punggung tangan, hingga celah di balik kuku-kukunya. Selesai melumasi tangannya, beliau menuangkan minyak hangat itu ke kedua belah tangan Ghoniyah.

"Ratakan, Nduk. Lumasi seluruh jari-jarimu, jangan sampai ada yang terlewat, terutama di bawah kuku. Kluwih ini bukan sekadar nangka sayur biasa. Getahnya liat luar biasa, lengket seperti lem damar. Kalau kamu membelahnya dengan tangan yang kering tanpa minyak, air sebanyak apa pun di kulah masjid tidak akan sanggup melunturkan getahnya. Dia akan berubah menjadi noda hitam yang menempel berhari-hari. Dan kalau kamu mencoba menggosoknya paksa dengan sabun abu atau sabun colek, kulit tanganmu yang akan lecet terkelupas berdarah-darah."

Ghoniyah menuruti petunjuk itu dengan saksama. Wangi kelapa panggang yang gurih menyeruap saat kedua tangannya saling bergesekan. Kilau minyak kini melapisi kulitnya yang mulus. Ia mengamati gerak tangan Nyai Ghalia yang mulai membelah buah kluwih menjadi dua, lalu menjadi empat bagian melintang di atas talenan kayu jati tebal.

Crassh... cesss...

Suara serat kluwih yang terbelah terdengar renyah. Seketika itu juga, butir-butir cairan putih kental seperti susu getah memancar keluar dari pori-pori daging buahnya. Cairan putih pekat itu meleleh deras melumuri bilah pisau dan jemari Nyai Ghalia. Akan tetapi, karena kulit tangan beliau telah terlindung oleh lapisan minyak klentik, cairan getah yang membandel itu sama sekali tidak menempel. Getah itu meluncur licin tergelincir, jatuh ke atas lembaran daun pisang di bawahnya tanpa meninggalkan bercak kotor pada kulit tangan sang Nyai sepuh.

"Perhatikan baik-baik ini, Nduk Ghoniyah," bisik Nyai Ghalia, seraya menatap butiran getah yang menggumpal di tepi talenan. Suaranya terdengar seperti bisikan rahasia ilahi yang sedang diturunkan dari langit-langit pawon.

"Menikah dan hidup mendampingi seorang laki-laki yang memangku amanah umat itu persis seperti mengupas buah kluwih ini. Di dalamnya, kluwih ini penuh serat yang mengenyangkan, bijinya empuk gurih, dan bila diolah dengan bumbu yang tepat, ia mampu menjadi hidangan yang menyehatkan banyak orang. Begitulah dakwah suamimu. Penuh kemuliaan dan pahala yang agung. Tetapi di sekelilingnya, ada getah pekat yang bernama gesekan tabiat, keletihan fisik, kekurangan manusiawi, dan kerepotan khidmah yang tiada hentinya."

Nyai Ghalia mengangkat wajahnya, menatap Ghoniyah lekat-lekat. Tatapan mata itu laksana telaga zamzam yang tenang dan dalam.

"Kalau kamu memasuki gerbang rumah tangga ini dengan hati yang kering—hati yang merasa pongah karena nasab bangsawannya, hati yang menuntut hak untuk terus dimanjakan, hati yang merasa pintar karena tumpukan gelar dan hafalan—maka getah watak suamimu akan langsung melekat di dinding hatimu menjadi noda dendam yang menghitam. Setiap kata yang terlontar saat suamimu lelah akan membuatmu tersinggung. Setiap kekurangan kecil dalam nafkah akan membuatmu merasa terhina. Dan bila kamu memaksakan diri melawan getah itu dengan amarah serta ego, jiwamu sendiri yang akan terluka parah dan berdarah-darah."

Beliau menghela napas panjang, lalu tersenyum lembut.

"Tetapi, bila sebelum menyentuh rumah tanggamu, hatimu telah kau lumasi terlebih dahulu dengan minyak ketawadhuan, minyak istighfar, dan niat khidmah tulus lillahi ta'ala... maka getah watak apa pun yang memercik tidak akan pernah sanggup menempel di sanubarimu. Dia akan luruh seketika, mengalir jatuh ke bumi tanpa pernah merusak keindahan budi pekertimu."

Tenggorokan Ghoniyah tercekat. Matanya menghangat. Sentuhan kebenaran itu merobek selaput kesombongan tersembunyi yang selama ini tidak pernah ia sadari bersemayam di dalam hatinya.

Hikmah Bagian: Hati manusia laksana buah kluwih: bila tak dibaluri minyak kerendahan hati dan istighfar, getah keangkuhan akan melekat abadi dan melukai hubungan.

----------------------------------------------------


--- Bagian III: Melumatkan Rasa di Atas Cobek Batu ---

Lihat selengkapnya