Santri yang Berbalik Takzim
Rumah Sakit Daerah Malang & Bilik Asrama Senior. Kang Marzuki tertimpa musibah dan kebaikan rahasia Gus Qoifun yang meluluhkan dengki
-------------
Rujukan Spiritual:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya : "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fuṣṣilat [41]: 34)
--------------------------------------------------
--- Bagian 01: Kabar Menggelegar dari Seberang Selat ---
Ketika malam gerimis di Malang mengantarkan jerit keputusasaan dari tanah kapur Sampang
━━ 🕌 ━━
Hawa dingin Kota Malang malam itu menusuk tulang sumsum laksana mata sembilu. Kabut tebal merangkak turun dari lereng Gunung Arjuno, membebat genting-genting tua Pondok Pesantren Al-Fattah dengan tirai kelabu yang lembap. Gerimis rintik-rintik mengetuk daun jendela kayu bilik Asrama Al-Ghazali—asrama santri senior yang selama ini menjadi pusat pergulatan wacana, halaqah malam, sekaligus sarang bisik-bisik yang tidak selalu steril dari dengki.
Di sudut kamar nomor sembilan, Kang Marzuki duduk bersila di atas kasur kapuk yang telah menipis. Sorot matanya yang biasanya tajam, keras, dan penuh selidik, mendadak redup laksana pelita kehabisan minyak kelapa. Di genggaman tangannya yang gemetar dingin, sebuah telepon genggam tua berlayar monokrom berpendar redup. Sambungan telepon dari pelosok Robatal, Kabupaten Sampang, Madura, baru saja terputus menyisakan nada dengung panjang yang menyiksa batin.
Kabar itu datang laksana petir di siang bolong, menghantam ubun-ubunnya tanpa ampun. Ibunda tercintanya, Mak Rumilah—satu-satunya pelindung hidupnya sejak sang ayah berpulang ke haribaan Ilahi dua belas tahun silam—mendadak jatuh tersungkur di pelataran dapur tanah liat saat menimba air wudhu menjelang Maghrib. Mulut wanita tua itu terkunci rapat, tubuh ringkihnya kaku, dan dari hidungnya merembes darah segar kehitaman. Mantri desa yang dipanggil terburu-buru mengangkat tangan; vonisnya kejam dan ringkas: pendarahan hebat di selaput otak dalam. Mak Rumilah dilarikan dalam keadaan koma melintasi jembatan Suramadu dengan mobil ambulans desa, hingga akhirnya dirujuk darurat ke Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar di Malang karena peralatan bedah saraf di rumah sakit daerah asal penuh sesak.
Namun yang membuat lutut Marzuki seolah copot dari persendiannya bukanlah semata-mata jarak tempuh ambulans itu, melainkan angka yang dibisikkan paman kandungnya dengan suara bergetar di ujung telepon: empat puluh lima hingga lima puluh juta rupiah. Uang jaminan tunai untuk operasi trepanasi dan pemasangan kateter dekompresi harus tersedia sebelum fajar menyingsing, atau nyawa wanita yang telah mengandung dan membesarkannya dengan cucuran air mata itu akan melayang di ruang ICU.
"Ya Allah... Gusti Pangeran... dari mana hamba mencari uang sebanyak itu dalam semalam?" bisik Marzuki tercekat. Tenggorokannya terasa tersumbat gumpalan pasir panas. Matanya nanar menatap langit-langit bilik yang bernoda jelaga. Sebagai santri senior yang mengandalkan kiriman seadanya dari hasil memintal daun siwalan dan upah mengajar ngaji anak-anak kampung sekitar pesantren, tabungannya di bawah lipatan sarung tidak lebih dari delapan ratus ribu rupiah.
Dada Marzuki bergemuruh hebat. Ketakutan paling purba mencengkeram sukmanya: bayangan kain kafan putih membungkus tubuh ibunya tanpa ia sempat memohon ampun atas dosa-dosanya selama merantau. Rasa panik yang liar membakar habis sisa-sisa wibawa dan gengsi yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan angkuh di hadapan para santri muda.
---------------------------------------------------
--- Bagian 02: Runtuhnya Lingkaran Hasad di Bilik Belakang ---
Ketika kawan-kawan yang biasa merajut gunjingan mendadak menutup pintu dan memadamkan lentera
━━ 🕌 ━━
Langkah kaki Kang Marzuki berderak tergesa di atas lantai semen selasar asrama yang licin tersiram tampias air hujan. Sarung kelabu yang dikenakannya tersangkut-sangkut di jempol kaki, namun ia tak peduli. Pikirannya kalap. Pintu pertama yang ia tuju adalah bilik nomor lima, tempat tinggal Kang Bahrul dan Kang Romli—dua santri senior yang selama ini menjadi kawan karibnya dalam kelompok 'lingkaran kritik'. Mereka adalah orang-orang yang hampir setiap malam selepas jam wajib muthola'ah berkumpul di emperan dapur pesantren, menyeduh kopi pekat sembari melontarkan sindiran sinis terhadap keluarga ndalem, terutama kepada Gus Qoifun Habibillah.
Marzuki mengetuk pintu kayu itu bertalu-talu dengan kepalan tangan yang basah oleh keringat dingin. "Kang Bahrul! Romli! Buka, Kang! Demi Allah, tolong saya!" serunya dengan nada memelas yang tak pernah sekalipun terdengar dari bibirnya yang pongah.
Pintu terbuka berderit pelan. Wajah Bahrul menyembul dengan mata menyipit, mengamati Marzuki yang berdiri menggigil. Namun begitu Marzuki menumpahkan duduk perkaranya dengan derai air mata—menceritakan musibah ibunya dan memohon pinjaman uang berapa pun yang mereka miliki—sorot mata Bahrul seketika berubah dingin dan berjarak.
"Aduh, Marzuki... sampeyan tahu sendiri kondisi santri akhir bulan begini," ujar Bahrul dengan nada datar seraya menyilangkan tangan di dada. "Tabunganku cuma cukup buat beli beras patungan minggu depan. Romli juga baru saja bayar tunggakan kitab Fathul Mu'in. Kalau cuma lima puluh ribu sih ada, tapi kalau puluhan juta... ya mustahil, Kang. Cari pinjaman ke tempat lain saja."
Belum sempat Marzuki menyambung kalimatnya dengan ratapan kedua, pintu kayu itu telah ditutup kembali perlahan dari dalam, disusul bunyi gerendel besi yang disorongkan. Suara bisik-bisik di balik dinding tipis itu lamat-lamat terdengar: peringatan agar tidak ikut terseret dalam beban utang orang lain.
Marzuki terpaku laksana patung batu di bawah guyuran tampias hujan. Rasa malu, terhina, dan putus asa menyengat ulu hatinya bagai disengat kalajengking. Orang-orang yang selama berbulan-bulan mengelu-elukannya sebagai 'santri pemberani' karena berani menentang kebijakan pesantren, kini berpaling muka dalam hitungan detik. Semua retorika perkawanan dan kebersamaan mereka yang berbusa-busa di warung kopi menguap tanpa sisa di hadapan krisis yang nyata.
Ia mencoba mengetuk dua bilik lainnya di Asrama Barat. Hasilnya sama saja: penolakan halus, alasan kiriman belum datang, atau tatapan curiga yang seolah takut hartanya akan lenyap tak kembali. Di bilik ketiga, seorang santri hanya memberinya selembar uang seratus ribu rupiah lusuh dari celengan kalengnya, lalu pamit hendak tidur karena mengantuk berat.
Marzuki ambruk di lantai selasar musala pondok yang temaram. Ia memukuli dadanya sendiri dengan kepalan tangan, menangis sejadi-jadinya tanpa suara agar tidak membangunkan santri-santri yang sedang terlelap. Betapa rapuhnya persekutuan yang didirikan di atas fondasi dengki dan kebencian. Ketika badai menerpa, bangunan semu itu runtuh berkeping-keping, meninggalkan dirinya terdampar sendirian di jurang kehancuran.
Ia menatap langit malam yang kelam pekat tanpa satu pun bintang. Jeritan batinnya bergema: "Ibu... maafkan anakmu yang durhaka ini... maafkan aku..."
---------------------------------------------------
--- Bagian 03: Pengorbanan Sunyi Sang Pewaris ---
Merelakan pusaka klangenan Mbah Kiai demi menyelamatkan jiwa yang dirundung derita
━━ 🕌 ━━
Di balik jerjak jendela kamar ndalem yang berjarak sekitar tiga puluh meter dari musala, sepasang mata teduh mengamati bayangan Marzuki yang tersungkur di lantai semen. Gus Qoifun Habibillah berdiri bersedekap, mengenakan baju takwa putih bersih dan sarung tenun hijau zamrud yang telah pudar warnanya. Sorban putih dengan sobekan kecil di ujung lipatannya tersampir rapi di bahu kanannya.
Di belakangnya, Gus Rafan Nashif meletakkan cangkir teh hangat ke atas meja kayu jati. Rafan telah mengamati gelagat Marzuki sejak panggilan telepon pertama mengguncang asrama. Kabar mengenai kondisi kritis Mak Rumilah di ruang gawat darurat RSUD Saiful Anwar telah sampai pula ke telinga mereka melalui jaringan alumni santri yang bertugas di bagian paramedis rumah sakit.
"Fun," bisik Gus Rafan pelan, suaranya sarat kehati-hatian. "Marzuki sudah putus asa. Seluruh bilik senior menolaknya. Uang empat puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah itu batas waktunya jam empat pagi ini, sebelum dokter bedah saraf mengalihkan ruang operasi ke pasien rujukan lain. Kalau tidak ditangani, pendarahan otaknya akan permanen dan merenggut nyawa ibunya."