Buah Cinta di Sepertiga Malam
Kamar Ndalem Pengantin. Kabar gembira anugerah keturunan pertama dan sujud syukur dua hamba
---------------------------------------------------
--- Bagian I: Gema Tadarus dan Keheningan Ndalem ---
Sayup tilawah para santri melintasi pekarangan pesantren di malam ganjil. Waktu: Pukul 02.15 WIB — Sepertiga Akhir Malam ke-27 Ramadhan
━━ 🕌 ━━
Malam merambat pelan di atas bubungan genting-genting tua Pesantren Darul Hikmah. Di sepertiga akhir malam ke-27 Ramadhan itu, langit seakan melipat kegelapannya sendiri, membentangkan keheningan yang teramat lembut dan hening—sebuah ketenangan kosmis yang tak sanggup dilukiskan kata, seolah jutaan malaikat tengah turun berduyun-duyun menyapu bumi dengan sayap-sayap cahaya mereka. Hawa sejuk sisa gerimis selepas tarawih masih mengendap di pucuk-pucuk dedaunan pohon sawo kecik di pelataran ndalem, menetes satu demi satu ke hamparan kerikil basah, menciptakan ketukan ritmis yang menyatu dengan dengung tadarus para santri dari serambi masjid agung.
Suara tilawah itu terdengar sayup, bergelombang seperti desau ombak di samudera tak bertepi. Para santri yang berjaga di serambi melantunkan ayat-ayat suci bergantian tanpa jeda, mengalirkan getaran sakinah ke setiap jengkal tanah pesantren yang telah berumur lebih dari satu abad tersebut. Dengung mereka menembus dinding-dinding papan jati tebal Kamar Ndalem Pengantin, menyusup lewat kisi-kisi jendela berukir motif sulur melati yang telah dipernis ulang saat perhelatan akad nikah tiga bulan berselang.
Di dalam bilik pengantin itu, sebuah pelita tembaga dengan api berkedip lembut di sudut meja kayu menemaninya sebatang dupa bukhur gaharu yang masih mengepulkan aroma manis, hangat, dan berwibawa. Wangi dupa itu berbaur dengan semerbak minyak atar mawar yang biasa dioleskan di ujung sorban. Jam dinding pendulum antik buatan Jerman peninggalan kakek buyut berdetik teratur: tik, tak, tik, tak—tiap detiknya menandai detik-detik sakral tatkala rahmat Ilahi dihamparkan tanpa hisab bagi hamba-hamba-Nya yang bersimpuh dalam lapar, dahaga, dan munajat.
Sajadah beludru tebal berwarna hijau lumut—sajadah pusaka yang dahulu selalu dipakai oleh almarhum pendiri pondok—terbentang lurus menghadap kiblat. Di atasnya, dua sosok manusia tengah menyelesaikan rakaat-rakaat panjang yang penuh kekhusyukan. Tak ada suara di bilik itu selain gesekan lembut kain mukena katun putih dengan serat permadani, serta helaan napas yang berusaha menahan isak tangis di hadapan Dzat Yang Maha Menatap.
Bagi Gus Qoifun Habibillah, malam-malam ganjil di penghujung bulan puasa selalu memiliki aroma ruhani yang membakar kerinduan batin. Sejak kanak-kanak, almarhum Abah Rifki selalu membangunkannya tatkala jarum jam baru menyentuh angka satu malam. 'Qoifun, Nak,' bisik sang ayah kala itu seraya mengusap ubun-ubunnya dengan tangan yang kasar oleh doa dan pengabdian, 'malam ini pintu langit dibuka seluas-luasnya oleh Ar-Rahman. Jangan biarkan dirimu terlelap tatkala Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang ingin diampuni. Ketuklah pintu itu dengan air matamu, bukan dengan kepintaran lisanmu.'
Kini, Abah Rifki telah berpulang ke haribaan-Nya, namun gema suaranya tak pernah surut sedetik pun dalam sanubari Qoifun. Terlebih kini, saat ia telah diserahi amanah sebagai nakhoda ndalem dan pendamping bagi seorang perempuan mulia yang duduk tepat di belakang saf shalatnya.
Ning Ghoniyah Shobiyah duduk bersimpuh dengan kepatuhan dan keanggunan yang bersahaja. Di balik mukena putih bersih dengan sulaman renda teratai kecil di lingkar wajahnya, matanya terpejam rapat. Jemarinya yang lentik menggenggam butir-butir tasbih kayu kokka yang telah licin oleh sentuhan zikir berpuluh tahun warisan ibundanya. Tiap hela napas Ghoniyah adalah syukur, tiap desahnya adalah kepasrahan yang tertahan di balik dada yang malam itu berdegup jauh lebih kencang daripada malam-malam biasanya.
Ada sebuah rahasia suci yang telah ia dekap erat sejak selepas shalat Ashar sore tadi—sebuah rahasia yang ia bungkus rapat dalam doa, menunggu saat yang paling makbul di hadapan Dzat Yang Menggenggam seluruh perbendaharaan alam semesta. Hatinya laksana perahu kecil yang terapung di tengah lautan haru, bersiap menyongsong takdir agung yang sebentar lagi akan dihaturkan kepada suaminya tercinta.
---------------------------------------------------
--- Bagian II: Salam Terakhir Shalat Witir ---
Runtuhnya keheningan dalam doa bersama dua jiwa yang bertaut takwa. Waktu: Pukul 02.40 WIB — Munajat Setelah Salam
━━ 🕌 ━━
Qoifun mengangkat kedua tangannya saat memasuki rakaat terakhir shalat witir tiga rakaat. Suaranya yang serak-serak basah melafalkan doa qunut, mengalun lembut membelah kesenyapan kamar ndalem. Lafal-lafal doa berbahasa Arab itu bukan sekadar bacaan hafalan lisan belaka, melainkan ratapan kalbu seorang hamba yang menyadari betapa kerdil, fakir, dan tak berdayanya ia di hadapan Singgasana 'Arsy Ilahi. Ghoniyah yang mengamini di belakangnya merasakan bulu kuduknya meremang; setiap kali kata 'Allahumma ihdina fiman hadait... wa 'afina fiman 'afait...' meluncur dari bibir suaminya, hatinya tergetar oleh getaran keikhlasan yang jernih laksana mata air pegunungan.
Ketika ruku' dan sujud terakhir dirampungkan, keheningan bilik seakan mencapai titik nadir yang paling sakral. Kening mereka berdua menyentuh bumi, tempat terendah dari seorang makhluk yang mengaku tak memiliki daya selain dari kekuatan Rabb-nya. Dalam sujud itu, Qoifun memanjangkan ratapannya, membasahi serat sajadah dengan butir-butir air mata yang menetes tanpa suara. Di sanalah tempat seorang hamba menumpahkan seluruh kebanggaan duniawi hingga rata dengan debu tanah.
'Assalamu'alaikum warahmatullah... Assalamu'alaikum warahmatullah...'
Salam terucap ke kanan dan ke kiri. Dua malaikat pencatat amal seolah tersenyum menyaksikan dua hamba yang bersanding dalam naungan mahabbah suci dan ikatan mitsaqan ghalidha. Qoifun meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu memutar tubuhnya perlahan menghadap ke belakang, ke arah istrinya yang masih tertunduk khusyuk merapikan ujung kain mukenanya.
Ghoniyah mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya yang bening beradu dengan tatapan teduh nan penuh kasih dari suaminya. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang agak pucat oleh dinginnya sepertiga malam. Tanpa sepatah kata pun terucap, ia menggeser lututnya mendekat, meraih tangan kanan suaminya yang masih melingkar untaian tasbih, lalu menundukkan kepala sedalam-dalamnya untuk mencium punggung tangan itu dengan penuh takzim dan ketundukan adab.
Hangatnya napas Ghoniyah menyapu kulit tangan Qoifun, dan di saat yang sama, tangan kiri Qoifun terangkat perlahan, mengelus puncak kepala istrinya yang tertutup mukena seraya membisikkan doa keberkahan yang tak pernah putus sejak malam pertama mereka disatukan dalam ijab kabul:
'Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair... Ya Allah, berkahilah istriku ini, jadikanlah ia lentera penenang dalam setiap badai kehidupanku.'
'Alhamdulillah, Mas... shalat kita malam ini terasa begitu lapang dan hening,' bisik Ghoniyah dengan suara bergetar lembut. Bulu matanya yang lentik masih basah oleh sisa lelehan air mata munajat witir.
Qoifun tersenyum hangat. Garis-garis keletihan di wajah pria muda yang memikul beban mengajar puluhan jilid kitab kuning, mengurus santri, dan melayani keluh kesah masyarakat desa itu mendadak luruh seketika. 'Semoga Allah berkenan menerima sedikit amal kita yang penuh cela dan kekurangan ini, Ghon. Di malam-malam mulia seperti ini, aku selalu dicekam rasa takut... takut kalau-kalau ibadah yang kita lakukan hanya sebatas gerak lahiriah yang kering dari ruh keikhlasan hakiki.'
'Insya Allah tidak, Mas. Keikhlasan itu memancar dari caramu memperlakukanku dengan kasih sayang, dan caramu menjaga para santri dengan ketundukan jiwa,' tutur Ghoniyah lembut. Namun di balik kata-katanya, jemari tangannya yang berada di pangkuan meremas sesuatu di balik lipatan kain mukena. Sebuah benda tipis, bersahaja, namun memuat takdir yang akan mengubah seluruh lembaran perjalanan hidup mereka berdua selamanya.
---------------------------------------------------
--- Bagian III: Amplop Putih di Ujung Sajadah ---
Sepucuk kertas yang mengubah detak jantung sang pewaris pesantren. Waktu: Pukul 02.50 WIB — Rahasia yang Diserahkan