TONGKAT ESTAFET KHIDMAH
Pendopo Ageng Pertemuan Ulama. Amanah Baru Menyatukan Kurikulum Madrasah Terpadu Mataraman - Malang
-------------
Rujukan Spiritual: QS. Al-Qashash: 26
Surah Al-Qashash ayat 26 adalah ayat yang sangat masyhur mengenai kriteria utama dalam memilih pekerja, pemimpin, atau mencari calon pasangan hidup. Ayat ini mengisahkan tentang salah seorang putri Nabi Syuaib A.S. yang mengusulkan kepada ayahnya untuk mempekerjakan Nabi Musa A.S. karena melihat kepribadiannya yang luar biasa.
Teks Arab:
قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
Transliterasi:
Qālat iḥdāhumā yā abatis-ta'jirh(u), inna khaira manis-ta'jartal-qawiyul-amīn(u).
Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku, jadikanlah ia sebagai pekerja (kita) karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau jadikan sebagai pekerja adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya (al-qawiyul-amīn).”
---------------------------------------------------
--- BAGIAN I: WANGI DUPA GAHARU DI BAWAH TIANG SOKO GURU ---
Atmosfer Majelis Akbar dan Gemuruh Sunyi di Pendopo Ageng
━━ 🕌 ━━
Asap gaharu Kalimantan meliuk-liuk anggun dari sebuah mabkhara perunggu kuno di sudut Pendopo Ageng. Asap tipis itu merambati ukiran tumpangsari bertingkat sembilan yang menopang atap tajug jati berumur ratusan tahun, membaurkan wangi manis rempah dengan udara malam pegunungan yang menusuk pori-pori kulit. Ratusan pasang mata tertunduk dalam takzim yang terukur. Tidak terdengar bunyi gemerisik berlebih; hanya detak jam dinding kuno berbandul tembaga dan tarikan napas tertahan dari lebih dari tiga ratus kiai, nyai, sesepuh pondok pesantren, asatidz, serta para mahasantri senior yang duduk bersila di atas gelaran tikar pandan rajut halus berlapis karpet marun tebal.
Di barisan paling depan, empat saka guru—tiang penyangga utama berdiameter depaan orang dewasa—berdiri kokoh tanpa paku besi, merepresentasikan pilar keteguhan iman yang telah melintasi masa penjajahan, huru-hara revolusi, hingga pergantian zaman. Di sanalah, dua kutub peradaban pesantren Jawa Timur malam ini bersua dalam takdir yang telah dipintal rapi oleh para leluhur: tradisi Mataraman dengan kehalusan tata krama dan samudra rasa tasawufnya, serta tradisi Malang dengan ketajaman dialektika fikih, keketatan nalar nahu-sharaf, dan ghirah pembaharuannya.
Gus Qoifun duduk beralaskan sajadah tenun lurik di sisi barat mihrab darurat pendopo. Tubuhnya mengenakan jas abu arang berpotongan sederhana di atas sarung sutra sengkang bermotif parang rusak lereng kecil yang telah memudar warnanya—sarung warisan kakek buyutnya yang sengaja ia kenakan bukan untuk dipamerkan, melainkan sebagai peringatan bahwa manusia hanyalah peminjam kain kafan sebelum ajal tiba. Sorban putih di pundaknya terjuntai rapi, membingkai wajahnya yang tenang namun menyimpan denyut kegelisahan yang amat manusiawi. Jemarinya yang biasanya tangkas menyelisik lembaran kitab gundul kini bertaut erat di atas pangkuan, menahan degup jantung yang berdebar laksana genderang perang.
Tepat dua depa di samping kanannya, tersekat tirai tipis kain sutra putih berlubang renda Jepara yang anggun namun tetap menampakkan siluet kehadiran, duduk Ning Ghoniyah. Wanita muda berdarah ulama Malang itu mengenakan abaya hijau sage bertabur sulaman benang perak lembut, lengkap dengan kerudung kashmir panjang yang disampirkan bersahaja. Di balik tirai transparan itu, sorot matanya yang jernih dan berbinar laksana elang malam menatap lurus ke arah mimbar kayu berukir kaligrafi ayat kursi. Ning Ghoniyah tidak sekadar menemaninya sebagai istri; ia hadir sebagai syarikul hayah—mitra sejati peradaban, akademisi turats yang sejak usia belia telah khatam belasan syarah Alfiyah Ibnu Malik dan kitab-kitab ushul fiqh pelik yang sering kali membuat para santri putra tertidur karena pusing.
Malam itu, di bawah temaram lampu gantung genta kuno buatan Belgia yang memendarkan cahaya keemasan lembut, udara terasa sarat dengan muatan spiritual yang menggetarkan. Semua yang hadir tahu bahwa malam ini bukanlah sekadar seremoni peringatan haul atau pertemuan rutin tahunan para ulama. Malam ini adalah titik balik sejarah. Sebuah tongkat estafet yang telah dipikul puluhan tahun oleh dua pundak sepuh akan dipindahkan ke atas dua pasang pundak belia.
----------------------------------------------------
--- BAGIAN II: TITIAN DUA SAMUDRA KEILMUAN ---
Mengawinkan Logika Fiqh Lughah Malang dan Kelembutan Tasawuf Mataraman
━━ 🕌 ━━
Selama berdekade-dekade, terdapat jurang tak kasatmata yang membedakan corak pengajaran agama di dua penjuru bumi Jawa Timur. Pesantren-pesantren di wilayah barat sungai Brantas—kawasan kultural Mataraman—selalu dikenal dengan pendekatan tasawuf akhlaki yang sangat mengedepankan unggah-ungguh, ketundukan batin, sanad adab, dan kelembutan dakwah kultural yang mengalir lentur seperti tembang dandanggula di malam hari. Di sana, santri dididik untuk merasakan getar batin sebelum berucap, menakar setiap langkah agar tidak melukai kerikil sekalipun, dan melihat setiap makhluk dengan pandangan kasih sayang ilahi (ainur rahmah).
Namun, kelembutan Mataraman itu sering kali menghadapi tantangan ketika dihadapkan pada derasnya arus modernitas, gelombang saintifikasi, dan kritik tekstual terhadap teks-teks klasik keagamaan. Di sinilah tradisi pesantren kawasan Malang dan pesisir timur hadir dengan daya gedor intelektual yang luar biasa. Ulama Malang ditempa oleh dialektika fiqh lughah—linguistik hukum Islam—yang amat presisi, tajam menguliti akar kata dari wazan sarap, membedah dalalah lafadz hingga ke tingkat mikro-semantik, serta berani mengkonfrontasikan teks fikih klasik dengan realitas sosiologis perkotaan dan industri.
“Ilmu tanpa ketajaman mantik dan lughah akan menjelma dongeng yang kehilangan pijakan hujjah,” bisik sebuah suara batin di benak Ning Ghoniyah saat ia mengingat kembali perdebatannya tiga tahun lalu di aula Ma'had Aly Malang. Kala itu, ia membela sebuah disertasi kritis mengenai rekontekstualisasi kitab Fathul Mu'in dalam tata niaga modern buruh pabrik apel dan tebu.
Namun ia pun menyadari betul kebenaran di balik kalimat yang pernah diucapkan sang suami, Gus Qoifun, di tepi kali brantas suatu senja: “Tetapi ketajaman nalar yang hampa dari tasawuf Mataraman hanya akan melahirkan pisau belati yang tega merobek dada orang miskin atas nama dalil. Kita tidak boleh mencetak santri yang pandai berdebat di atas mimbar namun buta melihat air mata janda tua yang menanak batu di samping pagar pesantren.”
Kini, dua kutub itu tidak lagi berdiri saling memandang dari kejauhan dengan prasangka keunggulan mazhab masing-masing. Kurikulum Madrasah Riset Turats Terpadu yang telah mereka susun berbulan-bulan di bawah bimbingan kedua kiai sepuh telah rampung. Itu adalah naskah setebal empat ratus halaman yang menggabungkan analisis filologi kritis dengan laku riyadhoh batin. Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha'illah tidak hanya dibaca sebagai wejangan penenang hati, melainkan dibedah struktur sintaksisnya guna menemukan epistemologi ketenteraman jiwa modern; sementara bab-bab muamalah dalam kitab Nihayatul Muhtaj dipelajari bersama metode penelitian lapangan sosiologi kemiskinan.
Perpaduan ini adalah mimpi besar yang berani, sebuah revolusi senyap di jantung dunia pesantren. Dan resiko kegagalannya bukanlah sekadar celaan akademis, melainkan keterpecahan harmoni umat yang telah dirawat berabad-abad.
----------------------------------------------------
--- BAGIAN III: AMANAH KIAI SEPUH DAN KALAM BULU PUSAKA ---
Ketika Dua Samudra Sanad Bertemu dalam Titian Pena Tua