Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

KIDUNG TAWADHU'

Kidung Tawadhu' di Gerbang Mataraman

Setting: Teras Depan Ndalem Pesantren Darul Ikhsan, Mataraman. Waktu: Tiga Tahun Kemudian — Senja Menjelang Maghrib.

Epilog: Menatap Generasi Baru yang Tumbuh di Atas Tanah Ketawadhuan

-----------

Rujukan Spiritual:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu." (QS. Asy-Syu'ara: 215)

----------------------------------------------------


--- Bagian I: Lembayung Emas di Langit Mataraman ---

Ketika Waktu Membasuh Luka dan Mendamaikan Gejolak Masa Silam

━━ 🕌 ━━

Matahari beringsut perlahan ke balik punggung perbukitan Mataraman, menumpahkan segenap sisa keemasannya ke bentangan langit barat yang kian menjingga. Semburat lembayung itu merambat halus, menyapu pucuk-pucuk pohon sawo kecik yang telah berdiri kukuh selama berdekade di pelataran Pesantren Darul Ikhsan. Di bawah naungan daun-daun rimbun yang berdesir pelan diterpa angin petang, aroma tanah basah sehabis gerimis remang bercampur dengan wangi bunga kenanga yang mekar di pagar samping ndalem. Ada keheningan yang agung dalam peralihan waktu itu—sebuah jeda sakral di mana alam semesta bersiap melantunkan puji-pujian sebelum tabir malam terbentang sempurna.

Tiga tahun telah berlalu semenjak badai itu mereda. Waktu, dengan jemarinya yang gaib namun penuh pengampunan, telah membasuh setiap jengkal luka, prasangka, dan kepedihan yang pernah merajam bilik-bilik batin. Tempat ini, yang dahulu menjadi saksi sengitnya pergulatan antara gengsi keturunan dan ketulusan nurani, kini bermandikan ketenteraman yang sukar diuraikan dengan aksara lumrah. Rumput gajah mini di halaman tampak hijau segar, jalan setapak berbatu kali tersusun rapi tanpa sisa debu kemarau, dan tiang-tiang kayu jati ndalem yang terpahat sulur ukiran kuno berdiri tegak laksana saksi bisu tentang sebuah kemenangan besar: kemenangan menaklukkan keangkuhan diri.

Gus Qoifun Habibillah berdiri bersandar pada pilar serambi depan ndalem. Sorban kashmir putih gading tersampir santun di bahu kanannya, berpadu dengan baju koko katun sederhana berwarna broken white dan sarung tenun sutra motif gerimis gelap. Tiada lagi raut tegang, tiada lagi tatapan tajam berbalut kegelisahan yang dahulu kerap menghantui kelopak matanya ketika memikirkan nama besar trah kiai dan tuntutan martabat darah biru pesantren. Wajah itu kini bening, seumpama telaga pegunungan yang tidak terusik riak gelombang. Guratan kedewasaan terukir halus di sudut pelipisnya, membingkai senyum tipis yang senantiasa meneduhkan siapa pun yang memandang.

Di dalam dekapannya yang kokoh namun sarat kelembutan, bersandar seorang anak laki-laki kecil berusia dua tahun lebih. Muhammad Hilman Al-Fatih, darah daging yang dihadiahkan Sang Pencipta sebagai penyejuk mata dan penyempurna ibadah. Pipinya yang ranum kemerahan tampak bercahaya diterpa bias temaram senja. Jemari mungil bocah itu tak henti-hentinya memilin ujung tasbih kayu kaukah bermata sembilan puluh sembilan yang tergantung di leher abahnya, sesekali tertawa kecil tanpa suara ketika butiran kayu hitam yang mengilap itu beradu menimbulkan bunyi ketukan lirih.

"Lihat ke atas, Hilman..." bisik Gus Qoifun dengan suara bariton yang lembut dan menggetarkan sanubari. Telunjuk tangannya mengarah pada serombongan burung walet yang terbang meliuk rendah melintasi kubah masjid. "Burung-burung itu pulang tanpa membawa bekal apa pun di pagi hari, namun kembali ke sarang dengan perut kenyang dan hati yang bertasbih. Mereka tidak pernah menanyakan dari ranting mana sarang mereka dibangun, atau seberapa mulia bulu yang menutupi sayap mereka. Mereka hanya tunduk pada takdir angin dan rezeki yang dihamparkan Sang Maha Pengasih."

Bocah kecil itu menoleh, menatap mata abahnya dengan manik mata hitam bundar yang memantulkan semburat jingga langit. Bibir mungilnya menggumamkan kata-kata patah yang belum sempurna, "A-bah... bu-wung...", lalu menyandarkan kembali kepalanya yang mengenakan peci rajut putih ke dada bidang Qoifun. Qoifun memejamkan mata sesaat, menghirup aroma minyak telon dan bedak bayi yang menguar dari ubun-ubun putranya. Di dalam detak jantung anak itu, Qoifun merasakan aliran darah yang sama, namun ia bersumpah di hadapan langit Mataraman bahwa darah itu tidak akan pernah dibiarkan membeku menjadi berhala kesombongan keturunan.

----------------------------------------------------


--- Bagian II: Secangkir Melati dan Cangkir Lurik KenangaN ---

Keanggunan yang Menyatu dalam Kehangatan Tradisi Ndalem

━━ 🕌 ━━

Suara gemercik air yang dituang ke dalam teko tanah liat memecah lamunan syahdu di teras serambi. Dari balik pintu kayu jati berukir kaligrafi ayat kursi, melangkah keluar sesosok perempuan dengan keanggunan yang bersahaja. Ning Ghoniyah Shobiyah melangkah tanpa alas kaki di atas tegel abu-abu bermotif terakota yang dingin. Gamis abu-abu lembut berbahan linen berpadu serasi dengan jilbab bergo panjang warna pastel yang membingkai paras ayunya. Wajahnya polos tanpa riasan berlebih, namun memancarkan nur ketenangan yang hanya bisa dipetik dari sujud-sujud panjang di sepertiga malam terakhir.

Di atas nampan kayu trembesi beralas sulaman tangan, Ghoniyah membawa sepasang cangkir porselen seng motif lurik hijau-putih—cangkir legendaris yang selalu menjadi teman setia para sesepuh dan santri ndalem sejak zaman pendiri pertama Darul Ikhsan. Uap hangat mengepul tipis dari bibir cangkir, membawa serta semerbak aroma teh tubruk melati nasgitel—panas, legi, kenthel—yang diseduh bersama gula batu karang. Di samping cangkir, tersaji sepiring ketela pohon kukus tabur kelapa muda parut yang masih mengepulkan uap wangi.

"Sampun dangu nenggo, Mas?" sapa Ghoniyah dengan intonasi bahasa Jawa krama inggil yang lembut mengalun, laksana gemericik pancuran air di kolam wudhu. Senyumnya terkembang tulus, menampakkan lesung pipi samar yang senantiasa meluruhkan segala kepenatan dunia dari pundak suaminya.

Gus Qoifun menoleh, dan tatapan matanya seketika melembut dengan binar yang tak pernah pudar sejak malam pertama akad nikah mereka diikrarkan di hadapan para saksi dan malaikat langit. "Mboten, Ghoniyah. Menikmati lukisan Gusti Allah di ufuk kulon kaliyan ngajak Hilman nyawang langite Mataraman. Mumpung hawanipun sae sanget sore niki."

Ghoniyah meletakkan nampan di atas meja bundar berkaki tiga yang terbuat dari kayu sonokeling tua. Tangannya yang ramping dan halus dengan cekatan menggeser salah satu cangkir lurik mendekati sisi suaminya, lalu menuangkan sedikit teh hangat ke dalam tatakan porselen agar suhunya lebih cepat ramah di lidah. Setiap gerak-geriknya adalah perwujudan dari khidmah yang lahir dari ketulusan mahabbah, bukan karena paksaan adat feodalistis pesantren, melainkan buah manis dari keikhlasan seorang istri shalihah yang memuliakan imamnya.

"Hilman mboten rewel to, Mas?" tanya Ghoniyah seraya merentangkan tangannya perlahan. Bocah kecil itu langsung menggeliat gembira melihat bundanya, mengulurkan tangan mungilnya minta digendong.

"Mboten babar blas," jawab Qoifun tersenyum hangat seraya menyerahkan buah hati mereka ke pelukan Ghoniyah. "Malah wau anteng sanget mirengaken swara manuk walet. Kadosipun lare niki gadhah ati ingkang gampil trenyuh kaliyan kaendahan alam, sami kados ibunipun."

Ghoniyah tertawa renyah, tawa kecil yang santun dan terjaga. Ia mencium kedua pipi Hilman bertubi-tubi hingga bocah itu tergelak geli dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ibunya. "Mugi-mugi boten namung trenyuh kaliyan kaendahan alam, nanging ugi remen sujud lan welas asih dhateng sesami, nggih le... Dados lare ingkang tansah andhap asor, mboten remen gumunggung."

Kata-kata Ghoniyah meluncur wajar tanpa pretensi menggurui, namun getarannya menghujam tepat ke jantung kesadaran Qoifun. Kalimat sederhana itu adalah kompas kehidupan yang selama tiga tahun pernikahan telah menjadi pelindung bahtera rumah tangga mereka dari karang kepongahan.

----------------------------------------------------


--- Bagian III: Denyut Jiwa Sang Buah Hati ---

Benih Ketawadhuan yang Ditanam di Rahim Keikhlasan

━━ 🕌 ━━

Lihat selengkapnya