Kidung Tawadhu' di Bawah Langit Mataraman

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

LENTERA DI SERAMBI DARUL IKHSAN

Lentera di Serambi Darul Ikhsan

Puncak Khidmah dan Menara Keilmuan

------------


--- Bagian I: Gemuruh Fajar di Lembah Darul Ikhsan ---

━━ 🕌 ━━

Kabut tipis berarak turun perlahan dari punggung bukit Kendeng, membelai lembut pucuk-pucuk pohon cemara gunung dan menara kembar Masjid Baitul Ikhsan yang berkubah perunggu kehijauan. Hawa dingin lereng pegunungan selalu datang tepat waktu menyapa lembah ini, meniupkan aroma tanah basah sehabis hujan rintik semalam dan menyisakan butiran embun yang bergelantungan di ujung daun-daun mangga pelataran serambi. Namun, di dalam kawasan Pondok Pesantren Darul Ikhsan, hawa dingin tak pernah sanggup membekukan denyut kehidupan yang telah menyala jauh sebelum fajar meletupkan warna jingganya di ufuk timur.

Gema lantunan nadhom Alfiyah Ibnu Malik bersahut-sahutan dengan kemerduan bait-bait Imrithi dari sayap asrama putra sebelah barat. Ratusan suara santri muda mengalun dengan irama khas, memantul di dinding-dinding bata ekspos yang kokoh:

"Qāla Muhammadun huwabnu Māliki... Ahmadurabbī Allāha khaira Māliki... Mushalliyan 'alan-Nabiyyil Musthafā... Wa ālihil mustakmilīnas-syarafā..."

Lantunan bait tata bahasa Arab itu berpadu secara syahdu dengan derap wirid al-Ma'tsurat dan tartil juz-juz Al-Qur'an yang dilagukan penuh kelembutan oleh ribuan santriwati dari balik jendela berkaca hijau Asrama Putri Khadijah di sayap timur. Suara gemercik air pancuran padasan tempat wudhu yang tak pernah berhenti mengalir menimpali irama pagi dengan nada alamiah yang menyejukkan sanubari. Ratusan anak tangga batu andesit yang menghubungkan kompleks asrama santri dengan masjid utama tampak basah oleh ceceran air wudhu. Ribuan langkah kaki telanjang para penuntut ilmu bergegas dengan adab yang terjaga rapi: menundukkan pandangan, menyingsingkan sarung sebatas mata kaki, dan memeluk kitab-kitab kuning berjilid tebal tepat di depan dada mereka seolah menjaga permata yang paling berharga di muka bumi.

Dari jendela lantai dua ndalem kasepuhan, seorang pria muda bersahaja berdiri dalam hening yang khidmat. Gus Qoifun Habibillah memandang panorama pesantren yang kini membentang luas di hadapannya. Ia mengenakan baju koko putih bersih berkerah shanghai tanpa saku dada, sarung tenun sutra motif samarinda bernuansa hijau lumut tua, dan peci hitam beludru yang terpasang tegak presisi di kepalanya. Jemari tangannya yang ramping dan bersih menggeser butiran tasbih kayu cendana cokelat tua—warisan peninggalan almarhum sang ayah, Romo KH. Nawawi Ikhsan.

Sepuluh tahun silam, di titik tanah tempat sepasang kakinya kini berpijak, lembah ini tak lebih dari sepetak surau kayu lapuk berdinding bambu petung dengan atap rumbia yang bocor dan meneteskan air liat setiap kali hujan lebat mengguyur. Kala itu, santri mukim hanya berjumlah tiga puluh tujuh anak belia, kerap kali harus menanak nasi liwet bercampur ketela pohon karena kiriman wesel bekal dari kampung halaman yang tersendat berbulan-bulan. Ketika Abah Nawawi wafat secara mendadak dalam sujud tahajudnya sepuluh tahun silam, badai keraguan dan bisik-bisik pesimis sempat menghantam dinding hati masyarakat sekitar. Banyak kalangan luar yang berbisik dengan nada menyangsikan: mampukah anak muda yang kala itu belum genap berusia tiga puluh tahun memegang kendali amanah sebesar ini? Mampukah ia merawat lentera pesantren di tengah gempuran zaman modern yang serbapraktis dan individualistis?

Kini, jawaban dari langit terhampar megah di depan matanya. Darul Ikhsan bukan hanya berhasil melewati badai pergantian zaman, melainkan telah melesat menjadi mercusuar peradaban Islam yang disegani di seantero negeri. Tiga ribu lima ratus santri dari pelosok nusantara—mulai dari Tanah Rencong Aceh, lembah Minangkabau, pesisir Banjar, hingga pedalaman pegunungan Papua—bermukim menuntut ilmu di sini. Kompleks pesantren tertata dengan harmoni zonasi arsitektur hijau yang menawan: asrama santri putra berkonsep paviliun tropis, kawasan asrama putri yang megah dan sangat terjaga kehormatannya, laboratorium bahasa multibahasa, perpustakaan digital Maktabah Turats yang menyimpan ratusan naskah kuno berharga, serta gedung Ma'had Aly fiqh wa ushuluhu yang baru saja meraih pengakuan tertinggi dari kementerian keagamaan.

Sebuah ketukan halus pada kusen pintu kayu jati membuyarkan untaian tasyakur di benak sang kiai muda. Suara salam yang amat ia kenal mengalir seperti tetesan embun yang seketika membasuh seluruh letih di dada.

"Assalamu'alaikum warahmatullah, Mas Gus..." Ning Ghonia Rafifah melangkah masuk ke ruangan seraya tersenyum teduh. Di kedua tangannya, ia membawa baki kayu berisi secangkir wedang jahe sereh panas beraroma gula aren dan setumpuk berkas catatan evaluasi dars subuh santriwati.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Ning," sambut Gus Qoifun seraya membalikkan badan, membalas senyuman sang istri dengan binar kehangatan yang tak pernah memudar. Bagi Gus Qoifun, perempuan anggun di hadapannya bukan hanya sekadar pendamping hidup di bilik keluarga, melainkan benteng ruhaniyah dan arsitek utama yang telah membawa ribuan santriwati Darul Ikhsan menemukan martabat keilmuan mereka.

-------------------------------------------------

--- Bagian II: Nahkoda Muda dan Arsitektur Kemandirian ---

━━ 🕌 ━━

Kesuksesan kepemimpinan Gus Qoifun Habibillah dalam mengemudikan bahtera Darul Ikhsan kerap menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan para masyayikh dan pemerhati pesantren di tanah Jawa. Beliau dianggap berhasil mewujudkan sebuah tesis besar yang jarang mampu diselesaikan banyak lembaga tradisional: menjaga kemurnian doktrin salafiyah klasik seraya mengadopsi ketangkasan tata kelola manajerial modern tanpa sedikit pun kehilangan ruh keikhlasan.

Bagi Gus Qoifun, tradisi intelektual pesantren bukanlah fosil mati yang sekadar dipajang untuk bernostalgia, melainkan pohon rindang berakar tunjang menghujam bumi yang dahan-dahannya harus terus menghasilkan buah manis bagi peradaban. Metode pengajian bandongan dan sorogan tetap menjadi jantung denyut pesantren. Di serambi masjid agung setiap malam ba'da shalat Isya, Gus Qoifun membacakan kitab-kitab induk berbobot berat: Ihya 'Ulumiddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, Fathul Wahhab karya Syekh Zakariya Al-Anshari, serta Jam'ul Jawami' dalam bidang ushul fiqh. Ribuan santri menyimak dengan khusyuk di atas dampar kayu, menuliskan makna gandul berbahasa Jawa pegon di sela-sela baris huruf Arab gundul menggunakan tinta hitam basah.

Namun, di balik keheningan dars kitab kuning tersebut, Gus Qoifun meletakkan fondasi arsitektur kemandirian ekonomi pesantren yang revolusioner. Sejak awal memegang tampuk kepemimpinan ndalem, Gus Qoifun memegang teguh sebuah prinsip:

"Pesantren tidak boleh hidup dari belas kasihan proposal atau menggadaikan marwah demi uluran tangan kekuasaan politik sesaat. Kiai dan santri harus mandiri, tangannya harus berada di atas, sebab tangan yang memberi jauh lebih mulia daripada tangan yang menengadah."

Maka, dengan menggandeng para santri senior yang memiliki keahlian teknik pertanian dan ekonomi syariah, Gus Qoifun merintis Koperasi Agrobisnis Santri Berkah Ikhsan. Beliau membebaskan lahan kritis seluas dua puluh lima hektare di lembah selatan yang sebelumnya hanya ditumbuhi ilalang tandus. Dalam tempo lima tahun, lahan tidur itu disulap menjadi sentra agrowisata melon hidroponik berstandar ekspor, peternakan terpadu sapi perah dan kambing etawa, serta pabrik pengolahan air minum mata air pegunungan berjenama 'Ikhsan Spring'.

Pagi itu, seusai merampungkan pembacaan matan kitab Shahih Bukhari di hadapan ribuan santri putra yang bersila rapi, Gus Qoifun turun dari mimbar kayu jati berukir dedaunan kaligrafi. Santri-santri berbaris panjang dengan tertib, menundukkan tubuh dan mencium punggung tangan sang kiai seraya memohon barakah doa. Tidak tampak sedikit pun raut pongah atau angkuh pada diri Gus Qoifun. Senyumnya yang ramah dan tatapan matanya yang teduh menyapa hangat setiap santri, bahkan santri cilik yang masih ingusan.

Lihat selengkapnya