Perempuan itu kini mulai bergerak. Tangannya memegang kepala. Mungkin masih terasa pusing. "Eh, udah bangun." Tessa pun menyadarinya.
Kenapa Willi menyorot kamera? Anak ini terlalu bersemangat. "Hati-hati," ucapnya.
"Kenapa, Will?" tanyaku.
"Kau dengar? Kayak kunti."
Apa sih? Willi sering sekali mengatakan hal itu. Apa dia mempunyai kelebihan dalam matanya itu? Akan tetapi aku heran, jika iya, seharusnya dia mengatakannya sedari tadi, bukan malah berbicara tidak jelas, 'kayak kunti, kayak kunti'.
Tidak ada yang mendengarkan Willi, para lelaki itu sibuk mengurusi orang sakit yang ditemukan. "Will, cari Gilang," bisikku padanya. Padahal ramai begini, berisik, kenapa Gilang juga tidak keluar dari tenda?
"Oke."
Willi kembali, dia membisikkan sesuatu padaku. "Gak ada. Dia kayak kunti." Willi menunjuk jarinya ke arah Tessa. "Aku liat sesuatu," katanya, "hati-hati."
Baru kali ini aku mendengar Willi mengucapkan kata-kata sepanjang itu, dan untuk pertama kalinya aku tidak menyangkal kata-katanya. Tessa melirik ke arah kami curiga. "Kenapa kalian diam di situ? Di sini ada yang sakit," ucapnya membuat kami terlonjak.