"LEPASIN!!" teriak lelaki di dalam rumah gubuk tua berdinding anyaman bambu itu. Matanya ditutup dengan kain, dan tangan diikat di belakang kursi yang diduduki olehnya.
Perempuan sekitar empat puluh tahunan itu duduk diam di sampingnya mengamati. Gayanya bukan seperti orang kota. Rok polos selutut dengan blus motif bunga-bunga menempel pada tubuhnya. Rambutnya diikat rapi di belakang leher.
"Apa salahku?" tanya Gilang dalam kegelapan di matanya. "Kenapa kalian lakuin itu?"
"Apa yang kamu lakukan pada putriku itu lebih kejam daripada yang kulakukan padamu, anak muda." Perempuan itu tampak malas menjawab pertanyaan Gilang. "Kenapa kau pura-pura tidak tahu, seolah kau tidak melakukan kesalahan?"
"Memang aku nggak pernah bersalah. Aku baik sama semua orang," cerocos Gilang tak mau dituduh. "Aku nggak pernah berbuat kesalahan, apalagi sampai kriminal."
"Lalu kenapa putriku sampai meninggal?!" teriak perempuan yang menyandera Gilang, tak mau kalah dan menyerah. Ibu-ibu itu kemudian membuka kain yang menutupi mata Gilang. "Lihat wajahku!"
"Jelek." Satu kata lolos dari mulut ember Gilang. Melengos memalingkan muka dari ibu-ibu tersebut.