-Willi-
Aku cukup pendiam di sini. Bukan, aku malas bicara. Energiku akan terkuras habis jika aku banyak bicara seperti teman sekelasku, Gilang.
Aku terpaksa ikut mereka ke tempat yang tidak aman ini. Mau bagaimana lagi, jika aku menolak, siapa yang akan berteman denganku? Mungkin Aji, tapi bisa jadi dia akan dipengaruhi oleh si bos besar, Galang.
Entah dari mana, seorang perempuan feminim duduk di kursi mobil bagian belakang saat Gilang dan Galang menjemputku. Dia tersenyum padaku ramah. Namun, dia sedikit menggerutu waktu aku mengabaikannya dan memilih duduk di kursi depan. Gilang juga ikut mengomel. Jadi, aku diusir Galang ke belakang, sebelum kami semua masuk.
Perempuan itu tidak membawa ponsel atau tas ransel seperti kami. Kosongan. "Temanmu?" Kucolek bahu Gilang. Dia mengangguk.
Kutatap intens dirinya. Namun, balasannya hanya lirikan tak suka. Kemudian kujatuhkan ponselku, aku ingin melihat apa responnya. Ternyata dia mengambilnya untukku.
Tahu, apa yang kulihat? Koreng. Eh? Entahlah. Semacam ... mungkin tanda lahir di kepalanya. Bulat seperti bulan purnama, tetapi ... tidak. Benda itu memantulkan cahaya. Bisa kutebak semacam paku payung mini. Kalau bapakmu kuli, mungkin pernah lihat.
Apa dia kuntilanak? Benar-benar ada kah, mitos seperti ini? Bagaimana bisa Gilang berteman dengan orang seperti itu?
***