-Gilang-
"Apa yang kalian lakukan sama istri saya?"
Suara berat itu membuat kami menoleh bersamaan. Selain karena kaget, kami juga tidak asing dengan suaranya. Pak Wajik dengan pentungannya. Di tangan kanannya dia membawa balok kayu. Tampak cukup untuk menghilangkan ingatanku.
"Persekongkolan macam apa, ini?" Aji memulai peperangan yang telah terjadi.
Willi siap siaga untuk menghajar orang. Anak itu tomboi, tidak heran jika jago bertarung. Di sekolah saja dia ikut ekskul karate. Di rumah? Entahlah, bapaknya yang polisi itu pasti melatihnya juga.
"Nak, Bapak sudah tidak tahan. Siapa dari kalian yang melecehkan anak Bapak?" Pak Wajik dengan tenang meloloskan kata-katanya.
"Mereka ada dua?" sahut istri Pak Wajik kaget, "kok Bapak nggak bilang?"
Iya, saat mereka meninggalkanku, aku memutuskan untuk nyemil makanan ringan yang kubawa. Pak Wajik kutawari, tapi tidak mau. Saat rasa kenyang menghampiri perutku yang rata, aku mengantuk, dan memutuskan untuk tidur di tenda perempuan.
Aku tidak nyaman tidur bersama orang lain, kecuali Galang. Sebenarnya sampai sebesar ini kami masih tidur di kamar yang sama, tentu saja dengan ranjang berbeda. Rumah kami kan luas, satu kamar bisa menampung dua sampai tiga ranjang.