Blurb
Arunika Senandika tidak sedang mencari cinta. Ia hanya ingin bertahan.
Di usia yang seharusnya membuat hidup terasa lebih mapan, Arunika justru terjebak dalam pernikahan yang melelahkan, keluarga suami yang terus menuntut, dan pekerjaan baru sebagai AR di CV Bina Mataram. Hari-harinya dipenuhi angka, tagihan, dokumen proyek, dan upaya kecil untuk tetap bernapas di tengah hidup yang terasa makin sempit.
Semuanya tidak lagi sama ketika proyek Kilometer 14 mempertemukannya dengan Hadiwan Bratadikara, seorang pria lapangan yang dingin, disiplin, dan terbiasa membuat orang gentar hanya dengan satu tatapan. Bagi Arunika, Hadiwan awalnya hanya nama di kolom persetujuan—seseorang yang bisa membuat tagihan cair atau tertahan.
Namun di antara debu proyek, hujan, dokumen yang bermasalah, dan percakapan yang lebih sering tertahan daripada terucap, keduanya mulai saling melihat terlalu dekat.
Arunika belajar bahwa tidak semua pertolongan terasa lembut. Hadiwan belajar bahwa tidak semua perempuan yang terlihat rapuh bisa dengan mudah dipatahkan.
Dan Kilometer 14 menjadi titik tempat hidup mereka mulai bergeser—pelan, berbahaya, dan tidak mungkin kembali seperti semula.