Matahari Surakarta di pertengahan Oktober memang kurang ajar. Aspal di depan CV Bina Mataram seperti direbus pelan-pelan, membuat udara di atasnya bergetar. Kampas rem berdecit, mesin matic tua menggerung pendek. Arunika menurunkan kedua kaki, menahan motor yang hampir oleng, dan debu merah langsung naik dari bawah ban, hinggap di kemejanya yang sejak pagi sudah tidak rapi. Arunika mematikan mesin. Tangan kanannya masih gemetar sedikit—sisa satu jam mencengkeram stang motor yang getarnya naik sampai siku. Ia meraba kait helm di bawah dagu, melepasnya pelan. Kaca helm itu sudah buram oleh goresan, dan begitu terangkat, panas langsung menampar wajahnya. Tengkuknya basah. Rambut-rambut pendek menempel di kulit, bikin ia mengusapnya dengan punggung tangan, kesal tapi terlalu lelah untuk mengeluh.
“Mbak kantoran anyar, to? Pinarak, Mbak. Sumuk banget lho di luar,” sapa sebuah suara serak yang ramah. Dari balik etalase kaca kusam bertuliskan Warkop Bude Surti, seorang wanita paruh baya sedang mengaduk sesuatu di dalam gelas kaca. Denting sendok logam yang berbenturan dengan kaca terdengar nyaring, seolah memanggil Arunika untuk segera berteduh.
“Nggih, Bude,” jawab Arunika dengan suara seraknya sendiri. Ia beranjak dari duduknya dengan menggendong rasel hitam. Ransel itu begitu berat—berisi laptop kantor yang tebal dan dua bandel map faktur piutang—hingga bahu kurusnya otomatis merosot turun saat tali tebal itu bertumpu di sana. Arunika melangkah masuk ke bawah atap asbes warkop. Udaranya tetap pengap, didominasi bau minyak goreng bekas dan seduhan kopi saset, namun setidaknya terik matahari tak lagi menyengat kulitnya. Ia menjatuhkan diri di kursi kayu panjang yang permukaannya sudah licin mengkilap karena terlalu sering diduduki. Terdengar hela napas panjang meluncur dari bibir pucatnya saat beban di punggung ia pindahkan ke atas meja.
“Es teh kampul, gulanya sedikit, nggih, Bude,” pesan Arunika pelan, menggeser bingkai tipis kacamatanya yang sedikit merosot ke batang hidung.
“Siap. Lha wong ayu-ayu kok lemes temen. Capek di jalan ya, Mbak?” sahut Pakde Darmo, suami Bude Surti, yang sedang menata gorengan hangat di atas piring seng. Sebelum Arunika sempat menjawab, sebuah tangan menepuk meja di depannya, membuat piring seng berisi mendoan itu bergetar.
“Baru seminggu jadi AR sudah loyo begini, Mbak? Belum juga ngerasain dikejar-kejar supplier paku,” Gilang, rekan kerja sekaligus juniornya dulu di kampus, menarik kursi plastik di sebelah Arunika. Pemuda berjaket jeans belel itu langsung mencomot satu mendoan yang masih panas. “Lagian, kamu tuh mbok ya minta dianterin suamimu to. Jalan dari kontrakanmu ke sini kan lumayan bikin boyok remuk.”
Arunika meraih gelas es teh kampul yang baru saja diletakkan Bude Surti di depannya. Bulir-bulir embun di dinding gelas kaca itu membasahi telapak tangannya, memberikan sensasi kejut yang nyaman. Ia menyesapnya pelan, menahannya di dalam mulut untuk merasakan dingin es batu. Sepet khas teh seduh, dan jejak manis yang samar langsung membasahi kerongkongannya yang kering kerontang.
“Mas Bram tadi pagi berangkat ke Surabaya, katanya ada klien yang mau Mas Bram stand by di lokasi, Lang. Jadilah aku bawa motor sendiri,” jawab Arunika tenang.
“Halah, emang kalau pas dia di rumah, apa juga nganterin kamu? Lak yo ora?” Gilang mengangkat alis tinggi-tinggi. Arunika tersenyum, “Enggak juga, sih,”
Suaranya datar, menyembunyikan realita bahwa kepalanya berdenyut nyeri. Bukan hanya karena macet di ring road, melainkan karena rentetan omelan Rengganis tadi pagi yang masih terngiang di telinganya. Kakak iparnya itu mengeluh soal uang belanja Bu Sum yang kurang, menuntut pertanggungjawaban dari gaji Arunika yang bahkan belum genap tiga bulan ia kerjakan di CV ini. Gilang mengunyah mendoannya dengan santai.
“Kok bisa yo, kamu dulu nyantol sama Bramantyo,” celetuknya. Mendengar celetukan polos Gilang, pergerakan sendok di gelas es teh kampul Arunika terhenti. Wanita itu tersenyum tipis.
“Lha ya gitu takdirnya,” pandangannya menerawang ke arah jalanan berdebu di depan warkop. “Masa mau diralat?” Arunika kembali mengaduk es teh kampulnya yang mulai mencair, menertawakan kebodohan logikanya sendiri di masa lalu.
“Duh, sepurane ya, Mbak. Mulutku ini emang kadang nge-blong wae,” rutuk Gilang meringis canggung. Ia menyenggol lengan Arunika pelan, berusaha mencairkan suasana dengan cengiran andalannya. “Tapi wes, diambil hikmahnya aja. Mumpung Mas Bram lagi di Surabaya, seenggaknya beberapa hari ini Mbak Nika bisa napas lega dikit di rumah. Anggap aja kontrakannya lagi di-fogging, hamanya minggat bentar.”
Mendengar perumpamaan konyol itu, Arunika menarik sudut bibirnya. Tawa kecil keluar—renyah, pendek, cukup.
“Bisa aja kamu, Lang,” balas Arunika pelan.
Beberapa detik setelah itu, suasana warkop tidak benar-benar sunyi, tetapi ritmenya bergeser seperti orang-orang yang tanpa sadar menurunkan volume. Ada bunyi mesin yang masuk ke ruang dengar mereka—halus, stabil, terlalu rapi untuk jalanan yang biasanya diisi knalpot motor matic dan deru truk. Kerikil di halaman berderak pelan, lalu berhenti, dan beberapa kepala menoleh hampir bersamaan, bukan karena ingin kepo, melainkan karena insting membaca sesuatu yang tidak biasa.
Sebuah Suzuki Jimny klasik berwarna hijau tua menepi di depan warkop. Mobil itu tetap mencolok, tapi bukan karena tampil seperti barang pameran; justru karena terlihat dirawat dengan telaten, namun menyimpan jejak kerja yang tidak bisa disamarkan. Di lengkung spakbor ada debu tanah merah yang mengering tipis, bumper depannya memiliki gores halus seperti bekas goresan batu atau ranting, dan ban yang membawa serpihan kerikil yang belum sempat lepas. Catnya memang mengkilap saat menangkap matahari, tetapi kilap itu bukan angkuh.
Pintu pengemudi terbuka dengan bunyi yang padat, lalu sepatu kulit cokelat gelap menapak tanah. Pria yang turun darinya menjulang tinggi, tubuhnya padat, jemari tangannya besar, tulang-tulangnya tegas, tetapi di ruas jarinya ada bekas lecet tipis. Ia masuk tanpa buru-buru. Rahangnya keras, matanya cekung sedikit, seperti orang yang kurang tidur tapi tidak punya waktu untuk terlihat lelah.
“Pakde Darmo,” suara bariton itu mengalun rendah, sedikit serak seperti orang yang terlalu banyak kafein dan terlalu sedikit istirahat. “Masih ingat saya?”
Mata Pakde Darmo membulat sempurna. Ia buru-buru menyeka kedua tangannya ke kaosnya sendiri dan menunduk dalam-dalam. “Gusti Allah… Pak Hadiwan! Pangapunten, Pak, kok jenengan sampai kersa mampir ke warung reyot begini? Ada proyek lagi di Solo, Pak?”
Hadiwan melonggarkan rahangnya. Untuk sepersekian detik, ekspresinya berhenti di antara ramah atau ingin cepat selesai. Seperti orang yang tidak terlalu pandai bersosialisasi di ruang santai, tetapi tetap berusaha menjaga etika.
“Pertengahan bulan ini ada proyek pelebaran jalan tidak jauh dari sini,” katanya datar. Ia mengedarkan pandangan sebentar ke luar, seolah memastikan sesuatu—barangkali jadwal di kepalanya—lalu kembali menatap Pakde. “Saya kebetulan melintas sehabis survey… dan saya kehabisan rokok. Rokok kretek merah satu, Pakde.”
“Wah, nggih, nggih, Pak. Sebentar saya ambilkan!” Pakde Darmo tergopoh menuju etalase.
Hadiwan berdiri di depan meja menunggu, tubuhnya tenang namun tidak sepenuhnya rileks. Ia merogoh saku celana seperti mencari sesuatu, lalu menemukan ponselnya, layar menyala sebentar sebelum ia mematikannya kembali tanpa membaca lama-lama. Gerakan itu kecil, cepat, tapi cukup untuk memberi kesan bahwa ada hal lain di luar ruangan ini yang menekan.
Ketika ia mengangkat pandangan, sorotnya berhenti sebentar di setiap sudut ruangan—meja, tangan-tangan, lantai—sebelum akhirnya berhenti juga di ujung meja panjang. Pada seorang wanita berkacamata yang duduk dengan kemeja batik pudar, keringat menempel di pelipis, dan lelah kronis yang tidak lagi berusaha disembunyikan. Biasanya, orang akan menunduk saat ditatap seperti itu. Namun, Arunika balas menatap. Arunika tidak menunduk.
Bude Surti meletakkan sebungkus rokok di meja. “Ini, Pak. Pas sembilan ribu.”
Arunika akhirnya memalingkan wajah, memaksa fokus pada sedotan di dalam gelas es teh kampulnya agar napasnya tidak terdengar tertahan. Hadiwan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan meletakkannya di dekat rokok. “Ambil saja kembaliannya, Bude,” ucapnya datar. “Untuk pesanan Mbak itu.”
Ia mengambil rokoknya, lalu berbalik. Langkahnya tetap tegas, tetapi kini Arunika menangkap satu hal lain: pria itu bukan patung yang kebal—ia hanya orang yang sangat terlatih menyembunyikan segala sesuatu yang tidak ingin dilihat orang. Dan ketika pintu warkop terbuka, lalu tertutup lagi, aroma sandalwood itu ikut terseret keluar, menyisakan udara pengap yang terasa sedikit lebih berat karena barusan sempat ada jeda.
Suara mesin Jimny itu meredup pelan, tertelan bising jalanan yang segera kembali berani. Klakson truk menyalak, motor-motor menderu melewati warkop seperti tidak pernah ada jeda, dan debu halus yang tadi terangkat dari ban kembali turun perlahan, mengendap di tepi meja dan piring seng tanpa permisi. Di dalam warkop, percakapan yang sempat merunduk kini tegak lagi; tawa dari meja belakang meletup, sendok beradu dengan gelas, dan kipas angin tua kembali menggeretakkan ritme seraknya.
Namun bagi Arunika, udara belum sepenuhnya kembali seperti semula.
Ia masih memegang gelas es teh kampulnya, merasakan dinding kaca yang lembap menempel licin di telapak. Dingin yang tadi terasa menenangkan sekarang berubah menjadi semacam pengingat—bukan karena dinginnya bertambah, melainkan karena jari-jarinya seperti lupa kapan harus melepas. Ia mengangkat gelas itu, menyesap pelan, lalu menelan tanpa benar-benar menangkap rasa; yang tertinggal di lidahnya hanya sisa sepet tipis, dan sesuatu yang kering di pangkal tenggorokan yang tidak hilang meski ia sudah telan. Gilang baru menemukan suaranya beberapa detik kemudian, seolah kata-kata tadi sempat tersangkut di tenggorokan.
“Mbak,” ucapnya, tidak sedang bercanda, “itu, kok bisa banget, ya. Dia tadi kayak nggak lihat aku. Aku kayak setan,” Arunika tidak menjawab. Ia memutar sedotan di dalam gelas pelan, membuat es batu beradu, bunyinya kecil dan berulang, cukup untuk mengisi jeda tanpa harus ia isi dengan kalimat yang tidak ia butuhkan.
Pakde Darmo menyelipkan rokok ke kantong plastik kecil, lalu menutup laci uang dengan gerakan yang lebih hati-hati dari biasanya. Ia melirik ke arah pintu sejenak, memastikan orang itu benar-benar sudah pergi, baru kemudian berkata, pelan, “Pak Hadiwan Bratadikara.”
Nama itu jatuh di atas meja seperti koin—kecil, tapi berat. Arunika merasakan ada sesuatu di dadanya yang menegang tipis, seperti otot yang otomatis bersiap menahan beban. Tangannya yang memegang gelas bergeser sedikit, jari-jarinya mengencang, lalu longgar lagi, seolah tubuhnya sedang mencoba mencari posisi aman.
“Pakde kenal dari mana?” tanya Gilang cepat, suaranya berubah jadi lebih serius. Pakde Darmo mengangkat bahu, tapi ada kebanggaan samar di matanya, kebanggaan orang kecil yang pernah bersinggungan dengan orang besar dan masih bisa menceritakannya.
“Dulu, sebelum warung ini beneran jadi warung, Pakde pernah ikut kerja kasar di proyek apartemen Solo Baru—nggali, ngangkut, apa saja yang disuruh,” katanya, tangannya kembali sibuk mengelap meja yang bersih. “Beliau itu bukan yang duduk di kantor. Beliau ikut turun. Beliau selalu lihat. Beliau marah kalau ada yang asal-asalan. Kadang marahnya bikin orang gemetar, tapi… ya begitu. Standarnya tinggi.”
Bude Surti, yang sejak tadi mendengarkan sambil menyusun piring, menyambung tanpa menoleh, seolah kalimat itu sudah sering ia simpan di lidah. “Capek, Pak. Orang kayak gitu capek. Kerjanya ketat, pikirannya ketat. Tapi kalau ada orang jatuh di lapangan, yang pertama ngomel bukan soal waktu yang hilang… tapi soal kenapa bisa sampai jatuh.” Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian besar. Lebih seperti potongan ingatan yang tidak sengaja keluar.
Arunika menatap permukaan meja yang lengket, melihat pantulan lembut dari gelasnya yang basah. Ada sesaat ia teringat ruas jari yang lecet tipis, kerah kemeja yang terbuka satu kancing, dan jeda kecil di langkah pria itu. Ia menahan lidahnya untuk tidak bertanya macam-macam. Arunika merogoh dompet, mengeluarkan uang receh dan lembaran kecil, meletakkannya di meja dengan telapak yang sedikit kaku. Ia tidak melihat ke siapa pun ketika melakukannya. Gerakannya rapi. Kaku sedikit, tapi rapi.
“Lha tadi, kan, sudah sama Pak Hadiwan—”
“Pakai ini saja, Bude,” potong Arunika.
“Kepiye tho, Mbak. Ditraktir kok ndak mau. Nyelengi kalau gitu. Besok ndak usah bayar, yo.” omel Budhe Surti diikuti senyum kecil dari Arunika. Gilang memperhatikan sebentar, lalu pura-pura mengalihkan perhatian pada mendoannya. “Mbak,” katanya akhirnya, “kalau dia orang proyek pelebaran jalan… berarti… jangan-jangan KM-14 itu…”
Arunika mengangkat pandangan. Tidak ada jawaban yang keluar, tapi cara matanya berhenti sebentar di arah jalanan sudah cukup. Mereka berangkat hampir bersamaan setelah itu, seperti orang-orang yang baru saja melewati sesuatu yang tidak ingin terlalu lama dibicarakan. Arunika mengenakan helm dan menarik napas yang terasa lebih pendek dari biasanya. Saat ia menyalakan mesin dan keluar dari pelataran warkop, panas jalanan kembali menempel di kulit. Hanya berjarak lima puluh meter dari warkop, Arunika kembali memarkirkan motor matic-nya. Gilang sudah lebih dulu kembali dan menunggu Arunika selesai.