Kilometer 14

pqrsbdwt99
Chapter #2

BAB 2

Embun masih menjaga diri sebelum hangat datang seiring matahari menunjukkan pendarnya. Gang masuk gapura dari jalan raya masih lengang, hanya ada beberapa orang paruh baya yang pulang dari masjid, mengikuti kajian shubuh yang tidak menarik bagi kawula muda. Masuk lebih dalam, bangunan semakin padat. Beberapa belokan dan perempatan, sebuah rumah tipe 21 yang disewa Arunika dari pemilik lama yang sudah punya rumah lebih besar. Hanya satu kamar mandi, dua kamar tidur dengan satu ruangan kosong. Dapur, tempat makan, dan ruang tamu gabung menjadi satu. Lagipula selama Arunika tinggal di sini, tidak pernah ada tamu yang benar-benar berkunjung. Ia baru saja selesai mengikat rambut pendeknya dan memasukkan kotak bekal berisi nasi putih ke dalam ransel ketika ketukan keras terburu, tak sabar, berulang di pintu depan.

“Nik! Arunika! Buka pintunya!” seru suara dari balik pintu. Arunika memejamkan mata sejenak. Tangannya berhenti di resleting tas. Ia sudah tahu suara itu. Dengan langkah gontai, Arunika membuka pintu.

Rengganis berdiri di ambang dengan wajah yang sudah ditekuk. Tanpa menunggu dipersilahkan, perempuan itu melangkah masuk dan berjalan lurus ke arah kulkas satu pintu yang tingginya tidak sampai dagu orang dewasa.

“Mbak minta ayam sama telurmu, ya,” katanya cepat, sambil kedua tangan yang tidak menunggu jawaban sudah mengisi kantong plastik dengan enam butir telur.

“Ibu lagi pengen sop. Semalam tensinya naik gara-gara suamimu nggak juga kirim-kirim uang! Jare ke Surabaya cari uang, kok nggak ada kiriman sama sekali. Opo dikirim ke kamu semua-ne?” celoteh Rengganis masih sibuk dengan telur serta seplastik daging ayam. Tidak ketinggalan dia juga mengemas beberapa wortel dan seledri. Dada Arunika mengencang. Ia menarik napas cepat, tapi enggan menghembuskannya. Ia menatap plastik-plastik di atas meja. Rengganis tidak akan pernah tahu—dan pasti tidak mau tahu—bahwa semua itu sudah dihitung. Bisa berapa kali makan. Berapa hari sebelum gaji turun lagi.

“Enggak, Mbak. Mas Bram belum ngirim uang sama sekali. Lagipula baru sehari, kan,” Arunika masih menatap kantong plastik yang sekarang ada di genggaman Rengganis.

Yo paling ora, kemarin pas berangkat ngasih sangu ke Ibu,” dengus Rengganis. Arunika tidak menjawab.

Wis aku balik dulu,” Rengganis berlalu tanpa terimakasih. Begitu punggung Rengganis menghilang, Arunika berjalan ke arah kulkas dan membukanya. Masih ada dua butir telur, satu wortel, dan untungnya Rengganis tidak menyentuh terong dan sawi di laci bagian bawah. Tiga detik dan Arunika menutup pintu kulkasnya kembali. Matanya melirik ke arah jam dinding di atas televisi, pukul 06.13. Sedikit lagi dan dia akan terlambat masuk kerja.

Perjalanan dari kontrakan ke CV Bina Mataram penuh lawan untuk mengalahkan siapa yang masuk jalan raya duluan. Kalau tidak pandai menjejalkan motor matic-nya, mungkin Arunika baru sampai hampir pukul delapan. Jemari Arunika sudah terlatih untuk siaga di depan tuas rem kalau sewaktu-waktu kendaraan di depannya berhenti mendadak atau ada yang nyelonong masuk ke antrian. Benar saja, sebuah Jimny hijau tua di depannya mendadak berhenti. Tunggu sebentar, Arunika mengenali mobil ini. Hijau tua mengkilap, terawat. Perutnya mengeras. Ah, memangnya hanya ada satu mobil seperti ini di luasnya Surakarta?

“…tongkrongan kami, bukan tongkrongan pecundang-pecundang…” suara cempreng dua pengamen membuat Arunika sedikit melirik lagi ke arah Jimny hijau tua yang kini berhenti di sebelah kirinya. Kepalanya enggan menatap penuh dan memastikan siapa penghuni di balik kemudi. Hanya sudut matanya yang bisa menangkap pergelangan tangan besar yang melingkar dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk kemudi, seolah ritme di balik kaca jendela itu lebih lambat dari hiruk-pikuk jalan raya. Arunika menangkap goresan di ruas jari pengemudi itu. Ah, sekali lagi, memangnya hanya ada satu jari tergores diantara ribuan manusia di Surakarta?

Hijau menyala. Arunika segera memutar gas setelah mesinnya otomatis mati. Motor matic-nya lebih dulu melaju. Ia menjauh dan untungnya semakin tidak terlihat di kaca spion, perutnya kembali berfungsi dengan normal.

Musik pop akustik mengalun pelan dari speaker kecil di meja Gilang dan pemuda itu bahkan mengetuk lantai dengan ujung sepatunya, mengikuti ritme lagu. Ia menghentikan kegiatannya dan memberi hormat ketika Arunika masuk. Beranjak dari kursinya untuk mengambil plastik berisi jajanan pasar di kubikel Mbak Tari tanpa izin.

“Selamat pagi, Wanda Maximoff-ku! Ini sajen hari ini dari anggota sekte,” Gilang meletakkan jajanan pasar kepunyaan Mbak Tari di depan Arunika. Ada risol, lemper, dan klepon kesukaannya.

Maem aja, Nik. Kleponnya tadi aku beli empat,” kursi Mbak Tari ditarik mundur dari kubikel.

Matursuwun, Mbak. Aku tadi nggak sempat sarapan,” suaranya turun satu tingkat ketika ingat sisa isi kulkasnya pagi ini. Gilang membuka kantong plastik dan mengambil satu lemper.

“Kenapa, Mbak? Kebiasaan, deh. Pagi-pagi mukamu nggak ada cahaya,” Gilang menyandarkan punggungnya di dinding kubikel, kakinya ditekuk hingga lututnya hampir menyentuh dada. Arunika memberi ruang pada Gilang, ia menggeser kursi dengan rodanya yang seret. Mbak Tari ikut menggeser kursinya sehingga mereka saling berhadapan. Arunika melirik Gilang.

“Enggak,”

“Beneran?” Gilang melahap lagi satu lemper meski mulutnya masih penuh. Arunika tidak langsung menjawab. Ia meraih plastik dan mengeluarkan satu mika kecil berisi empat buah klepon. Ia menyuapkan satu. Lidahnya menekan klepon itu dengan lembut ke langit-langit mulut, meremas bola ketan yang kenyal hingga kulitnya agak pecah. Cairan gula merah dingin menyembur pelan, manis yang kental dan sedikit caramel itu membanjiri seluruh rongga mulut, sementara parutan kelapa yang lembut meninggalkan rasa gurih yang manja. Bahkan setelah ditelan, mulutnya masih terasa lengket oleh sisa gula merah yang manis pekat, dengan butiran kelapa halus yang menempel di langit-langit dan di balik gigi seperti kenangan yang enggan lenyap.

“Tadi pagi, Mbak Ganis ke kontrakan,” akhirnya Arunika bercerita. Gilang mendengus. Nama itu sudah tidak asing baginya setelah Arunika menikah dengan Bram. Hampir setiap hari nama yang disebut Arunika kalau tidak Bram, ya Rengganis.

“Ngerampok atau mbacot?

Belum sempat Arunika menjawab, Pak Danang keluar dari ruangannya. Ruang kerja pria itu hanya dipisahkan oleh dinding kaca tebal dari tempat mereka duduk, sehingga gerak-gerik di dalamnya terlihat jelas. Kecuali suara, tentu saja. Kali ini Pak Danang tidak membawa aura merah maupun oranye yang biasa menyala saat amarahnya mendidik atau ada kebingungan dan keraguan dalam benaknya. Ia terlihat tenang, dengan napas yang pelan dan nyaman.

“Arunika, Gilang, Tari. Siang ini makan siang di luar, ya. Kalian boleh pilih tempatnya, nanti saya yang bayar. Tapi saya ndak bisa ikut, ada meeting sampai sore,” katanya sambil bersandar partisi antara kubikel Gilang dan Arunika. Mbak Tari mengangkat alisnya sambil memberikan tatapan berbinar pada Arunika.

“Makan bergizi gratis,” celetuk Gilang. Masih dengan mulutnya yang penuh lemper.

“Iya, seneng toh kamu, Lang,” Pak Danang menepuk kepala Gilang dengan map yang sedang dibawanya. Gilang terkekeh. Kemudian Pak Danang memberi kode kepada Mbak Tari untuk mengikutinya kembali ke ruangan kaca. Mungkin melakukan transaksi serah terima amplop. Arunika menyuapkan butir klepon yang kedua. Letupan gula merah di dalam rongga mulutnya dingin memenuhi rongga mulut layaknya kalimat Pak Danang pagi ini. Ia menggoyangkan kakinya tipis.

“Jadinya, kita kemana?” Mbak Tari menghampiri Gilang dan Arunika dengan langkah sumringah. Di tangannya ada amplop kecil berwarna putih. Gilang bangun dari duduknya. Beberapa kali menepuk celananya, memastikan tidak ada remah lengket tertinggal. Gesekan tangan dan serat kain membuat Arunika menoleh ke arahnya. Gilang melipat daun pisang bekas bungkus lemper. Kemudian meletakkannya di atas meja Arunika sehingga satu tendangan kecil mendarat di belakang lututnya. Ia meringis kecil dan tersenyum usil ke arah Arunika.

“Kalau makan bergizi ya minimal duwaging,” jawab Gilang sambil masih mencoba menanam daun pisang bekas di atas meja Arunika. Sekali tangkapan agak keras, Arunika membuang sampah Gilang ke tempat sampah kecil di bawah mejanya. Gilang tersenyum tanda kemenangan. Mbak Tari beberapa kali scrolling di layar handphone-nya.

“Tengkleng Mbak Diah, gimana? Review-nya bagus nih di Google,”

Lihat selengkapnya