Kilometer 14

pqrsbdwt99
Chapter #3

BAB 3

Jalan raya Kerten menuju CV Bina Mataram tidak terlalu ramai ketika mobil pick up berwarna putih melaju pelan di ruas jalan kiri. Gilang duduk di belakang kemudi, sedangkan Mbak Tari di tengah dan Arunika di tepi. Tidak ada percakapan diantaranya. Angin panas berhembus mengenai pipi Arunika.Tadi kenapa aku nggak disalamin sendiri, ya? Dia menumpukan dagu dengan tangan kirinya pada jendela yang terbuka. Beberapa kali terdengar klakson dari arah belakang. Beberapa kali mobil melewati perempatan dan pertigaan.

Oh, mungkin buru-buru angkat telepon. Tatapan Arunika berhenti pada seorang remaja yang kebetulan di depan mobil ketika lampu merah. Pulang shalat Jum’at mungkin. Sarungnya diangkat sampai setengah betis. Tapi angkat telepon pakai tangan kiri. Arunika bisa mencium aroma shampoo yang cukup pekat. Rasa hangat di paha kanannya meresap. Sebuah kantong plastik berisi tengkleng punya Sekar dan Mas Bowo. Arunika mengangkatnya sedikit.

“Selamat siang, Bapak. Makan siang di sini juga?” ucap Gilang ketika di warung tadi. Hadiwan yang Arunika lihat sedang berada di depan kasir sudah berdiri tepat di samping meja mereka bertiga. Langkah Hadiwan berhenti. Tidak menunggu jawaban, Gilang berdiri dan menyambut tangan yang tidak terulur dari Hadiwan. Mbak Tari ikut berdiri, terlihat ragu, tapi tetap melangkah mengikuti Gilang.

“Bina Mataram?” bukan jawaban yang keluar dari mulut Hadiwan. Gilang terkekeh dan mengangguk. Hadiwan menatap Gilang, kemudian menerima jabat tangan dari Mbak Tari, dan terakhir Arunika. Ia masih berdiri di tempat sebelum Mbak Tari memberi kode dengan satu gerakan memiringkan kepalanya ke arah Hadiwan. Sedikit basa-basi dari Gilang sebelum Arunika berdiri paling akhir. Tangannya sudah siap menggantung di udara.

Selamat siang, Bap—”

Ya. Lima belas menit lagi bisa mbok ambil ke sini. Berdua saja. Saya ke Jogja dulu,” Hadiwan menerima telepon dengan tangan kirinya, berlalu tanpa bicara sepatah kata pada mereka. Uluran tangan Arunika disambut angin. Gilang dengan sigap menggenggam tangannya. Tentu saja dengan cepat Arunika menarik tangannya kembali.

 “Nik!” suara Mbak Tari menarik Arunika kembali ke detik sekarang. Mobil sudah berhenti di halaman depan CV Bina Mataram. Gilang bahkan sudah mematikan mesin dan Mbak Tari masih menunggu Arunika untuk keluar lebih dulu. “Kamu mau keluar, enggak?”

“Oh, iya, Mbak, maaf,” Arunika segera meraih handle pintu dan melompat keluar disusul Mbak Tari yang kemudian berlalu ke pintu samping. Arunika menggenggam tali selempang tasnya, berjalan ke pintu depan. Dahinya kembali berkerut. Apa mungkin tersinggung sama sesuatu pas ketemu kemarin? Sosok kaki panjang yang lagi-lagi masuk ke pelupuk mata. Bagaimana ia berdiri tanpa mengetuk ujung sepatunya. Jawaban pasti dan tidak bertele terngiang di telinga Arunika. Tegas. Sekarang dia sudah duduk di kubikelnya, sejenak membiarkan kedua lengannya di atas meja. Jemarinya saling meremas. Tapi aku ngapain? Arunika melepas tas selempang dan menaruh sembarangan. Detak jantungnya seirama dengan deru mesin Jimny hijau tua yang ia sadari sebelum memastikan kemunculannya tadi siang.

“Aku masih bertanya-tanya, lho,” Gilang lagi-lagi tanpa izin menyusup ke kubikel Arunika, ndlosor di samping kursinya. Arunika menekan tombol power pada komputernya. Layar menyala. Beberapa saat sebelum masuk pada desktop.

“Mbak,” Gilang sekarang menatap Arunika. Terlihat perempuan itu sedang memikirkan sesuatu. Gilang melihat alis Arunika yang bertaut. Aku salah apa, ya? Arunika mendengus. Jemari kanannya meremas ujung kemeja.

“Mbak Nika!” Gilang mendorong kursi. Arunika terkesiap, spontan menoleh ke arah laki-laki jangkung itu. Mengangkat alis seolah bertanya, denger nggak?

“Bertanya-tanya soal apa, Lang?” jawab Arunika setelah beberapa saat mengingat pernyataan Gilang. Alisnya lurus kembali. Akhirnya Gilang menghela nafas, kembali merebahkan punggungnya pada dinding kubikel. Sempat mengira rekan lamanya ini terbang ke bulan dan enggan kembali.

“Tumben Pak Danang traktirannya oke banget. Aku curiga,” Gilang menggosok dagunya dengan sela-sela ibu jari dan telunjuk. Sebentar. Benar juga. Biasanya kalau ada yang berlebihan seperti ini, ada ‘ekor’ yang mengikuti. Semacam jamuan terakhir sebelum prajurit berperang. Pak Danang terlihat merapikan tumpukan kertas dengan menyentakkannya di atas meja. Beberapa kali. Beberapa sentakan. Dahinya berkerut tajam. Tidak bersuara, tapi terlihat jelas dari arah Arunika dan Gilang. Lalu laki-laki yang mendekati kepala empat itu berjalan ke arah pintu, langkahnya cepat menghampiri kubikel bawahannya.  

“Bener, kan?” Gilang bangkit sambil menyeringai. Dia kemudian berjalan ke arah kubikelnya sendiri, tepat di samping Arunika. Ia menghela nafas. Bertepatan Mbak Tari yang baru saja datang dari loket Sekar. Ia berjalan terburu melihat atasannya.

“Bagaimana makan siang hari ini? Kenyang? Enak?” Arunika sedikit menyipitkan kedua matanya ketika atasannya melempar pertanyaan itu. Pak Danang tersenyum. Bukan ramah. Tapi bukan pula seringai. Tangan kanan Arunika bersiap dengan menggenggam sebuah pena kecil dan siaga di atas kertas kosong. Kalau-kalau ada yang perlu dicatat lebih dari kapasitas otaknya.

“Jadi, sudah siap?” sekali lagi Pak Danang memastikan. Arunika bisa dengan jelas menangkap sudut bibir laki-laki itu bergetar. Kalimat pertama meluncur. Arahan teknis seperti biasa. Perhatikan angka, hitungan, stockpile, quarry, stok gudang, sampai ke cashflow kecil. Suara derit kecil terdengar ketika Gilang berputar dari kanan ke kiri dengan kursinya, bertumpu pada kaki menghilangkan jenuh yang ia kira akan datang. Mbak Tari tidak bergeming, tatapannya tajam dengan dahi berkerut.

Dengung pendingin ruangan mengiringi kalimat-kalimat dari mulut Pak Danang. Jarum pendek menunjuk angka dua sedangkan jarum panjang pada angka tiga pada jam dinding atas cermin. Lima. Enam. Tujuh. Urat tipis sedikit menonjol di dahi Mbak Tari. Kerutan di dahinya semakin jelas. Gilang tidak lagi memainkan kursinya. Bahkan dia sekarang duduk tegak sambil tangannya memainkan pena. Arunika sendiri sekarang tegak dengan menggigit kecil ujung kuku jari telunjuknya.

Lihat selengkapnya