KINDRA

krkawuryan
Chapter #1

Prasasti

Ketika seseorang menobatkan ideologi sebagai poros semestanya, garis antara benar dan salah tak lagi tegas. Ia larut, mencair, menjadi kabut yang mudah dibentuk. Kebenaran bukan lagi ruang dialog, melainkan takhta tunggal yang ia duduki sendiri. Dan ketika kuasa menyatu dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, kehancuran bukan lagi kemungkinan, melainkan mutlak. Sebuah negeri dapat dilelehkan seperti lilin, dihapus bentuk lamanya, lalu dicetak ulang sesuai cetak biru dalam benaknya.

Di sebuah negeri yang berlimpah sumber daya dan dijejali manusia, seorang presiden duduk bersila dalam ruang kerjanya. Ia tidak sekadar diam, ia berbicara dengan sesuatu yang tak kasatmata, mungkin dengan semesta, bisa jadi dengan dirinya sendiri. Ia merajut pembenaran, benang demi benang, hingga tindakannya tampak seperti keniscayaan. Seuatu yang harus ia lakukan.

Alunan Symphony of the Forest mengisi ruang, menyatu dengan aroma lavender yang mengendap di tiap sudut. Dalam hening yang dibuat-buat itu, ia melihat bayangan, manusia-manusia yang kehausan, kelaparan, kota-kota yang dilalap api, kerusuhan yang mengunyah peradaban. Lalu, di kejauhan, di batas negeri yang nyaris tak terjangkau, muncul seberkas cahaya. Tipis, tapi menjanjikan. Masa depan yang lebih keras, lebih siap, lebih kejam dalam bertahan hidup.

“Tuan Presiden.”

Suara itu memecah ruang batin seperti batu yang dilempar ke permukaan danau. Seorang pria dengan topi tinggi ala koki muncul dari balik pintu utama. Topinya lebih dulu hadir sebelum wajahnya menyusul.

“Waktu makan siang telah tiba,” ujarnya dengan diksi aristokrat yang terasa seperti serpihan masa Renaissance. Jejak tahun-tahun yang ia habiskan di Florence.

“Nasi putih, sambal, dan ayam goreng, Tuan Presiden?” tanyanya, nyaris seperti ritual.

Hening sejenak menggantung.

“Es tehnya jangan lupa.”

Senyum tipis terukir. “Perfetto.”

Ia mundur perlahan, seolah ruang itu terlalu sakral untuk ditinggalkan secara tergesa.

Belum sempat keheningan kembali utuh, pintu itu kembali terbuka. Kali ini sosok jangkung dengan kacamata dan langkah tergesa masuk, membawa selembar kertas yang tampak lebih berat dari wujudnya.

Presiden melirik sekilas, cukup untuk menyimpulkan: gangguan.

“Pak, ini apa? Kenapa menerima media tanpa sepengetahuan saya?” Suaranya tegang, menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar protes.

Lihat selengkapnya