KINDRA

krkawuryan
Chapter #2

Muktamar

Waduk itu muncul dan lenyap seperti napas yang ditahan, kadang terlihat utuh, kadang hanya sisa kilau air di antara lekuk jalan yang naik-turun. Jalur itu sepi dengan cara yang tidak wajar. Entah telah resmi ditutup, atau ada tangan tak kasatmata yang menebar kabut, meniadakan lalu-lalang, membuat jalan umum ini seolah tercabut dari peta dunia.

Di sebuah vila yang bersembunyi dari kebetulan, empat orang berkumpul di ruang tengah. Setelan jas mereka rapi, sepatu oxford mengilap. Seperti fragmen metropolis yang tersesat di hutan. Wajah-wajah tegang mengisi ruangan, kecuali satu yang tampak seperti jeda yang salah tempat. Lebih tepatnya, terlihat agak bodoh sedikit.

“Kita butuh lebih banyak waktu,” ucap Vidya, satu-satunya perempuan di pertemuan yang tak pernah tercatat ini. Kacamata berbingkai hitam pearl membingkai matanya yang tajam. Suaranya lembut, tapi berdiri tegak seperti garis keputusan yang tak bisa ditawar.

“Hanya beberapa ratus kilometer lagi untuk tersambung. Pertahankan itu,” lanjutnya.

Malik mendengus pelan, suaranya mengeras seperti logam yang dipukul. “Setahun lalu kamu bilang hal yang sama. Nyatanya, setelah tersambung, kalian justru menambah pipa baru. Mau dibawa ke mana lagi semuanya?”

“Kenapa kamu peduli?” potong Julian cepat. Asap rokoknya menggantung tebal, mengubah udara menjadi sesuatu yang bisa diiris. Wajahnya kotak, garis-garisnya keras, seperti seseorang yang selalu siap meledak. “Pras yang menentukan. Bukan kamu.”

“Sudahlah, Malik,” sela Vidya, nada suaranya kembali menenangkan permukaan yang mulai beriak. “Kita semua menikmati ini. Jangan pura-pura suci. Ini bisnis.”

Vidya dan Julian adalah pemburu proyek, jenis manusia yang hidup dari celah-celah kekuasaan. Di bawah kendali Vidya, yang lihai merangkai kata menjadi kunci, mereka menembus pintu-pintu negosiasi tertinggi negeri ini. Ketika meminta, kata-kata mereka manis seperti madu. Ketika mendapat, lidah mereka berubah getir seperti obat yang tak ingin ditelan.

“Kita tidak akan bertahan lama. Pras akan pensiun,” ujar Malik akhirnya, nada suaranya melunak bukan karena setuju, tapi karena lelah. Ia tahu, melawan dua orang ini seperti mencoba melawan arus.

Di sudut ruangan, satu-satunya sekutu yang ia harapkan justru tenggelam di sofa, tubuhnya malas, matanya setengah tertutup seperti penonton yang tak peduli akhir cerita.

Dasar sapi, batin Malik.

“Kukira Prasasti ingin lanjut jadi Presiden,” Julian menimpali.

“Sudah dua periode. Mengubah undang-undang itu tidak sederhana. Butuh amandemen, butuh kejadian besar. Dan kalaupun bisa, lawannya terlalu kuat.”

“Kuat??? Kamu lupa siapa yang menggerakkan kita?” Julian membalas, kali ini lebih tajam.

Lihat selengkapnya