Sejumlah cenderamata dari negeri-negeri asing memenuhi dinding kantor wakil ketua parlemen itu. Topeng kayu dari utara, guci porselen berlapis emas, miniatur kapal perang yang dipajang di balik kaca. Namun tak ada satu pun yang mampu menandingi aura berantakan dari meja kerjanya sendiri. Dokumen-dokumen menumpuk seperti reruntuhan perang, dua layar komputer menyala dengan grafik dan laporan yang terus bergerak seperti denyut nadi negeri yang tak pernah tidur.
Di tengah semua itu, Setyo merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi. Jemarinya menekan titik di antara kedua alisnya, seolah mencoba meredam denyut migrain yang terasa seperti palu kecil menghantam isi kepalanya.
“Jadi… langkah berikutnya apa, Bang?”
Lintong berdiri di seberang meja dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Anak muda itu belum lama masuk lingkaran fraksi, tapi mulutnya melaju jauh lebih cepat daripada pengalamannya. Ambisinya bahkan terdengar saat ia bernapas.
Setyo tak segera menjawab. Kepalanya terlalu penuh untuk menanggapi suara lain.
“Pertemuan kemarin bagaimana?” Lintong kembali bertanya. “Proyek kita masih lanjut, kan?”
Ia mencondongkan tubuh, matanya membesar penuh gairah, seperti penjudi yang sedang menunggu kartu terakhir dibuka.
Setyo melirik tajam. Kalau bukan karena mereka berasal dari partai yang sama, lelaki seperti ini sudah lama ia lempar keluar dari orbit kekuasaan.
“Falah belum pasti,” katanya akhirnya, malas. “Belum banyak partai yang berani mengusung dia.”
Lintong terkekeh pendek. “Nanti juga mereka mendekat sendiri kalau tahu siapa yang ada di belakangnya.”
Setyo mengangkat wajah. “Siapa?”
“Kabar burung.” Lintong merendahkan suara, menikmati dramanya sendiri. “Katanya dia mulai didekati The Fourth.”
Migrain Setyo seperti mendadak lenyap.
“Oh ya?”
Tatapannya berubah hidup.
“Valid?”
“Gold sama Oil kemungkinan besar iya. Dua lainnya belum jelas. Tapi pemain seperti mereka biasanya tinggal tunggu satu bergerak, sisanya ikut masuk.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Setyo menopang dagu di atas jemarinya, berpikir cepat. Dalam politik, kabar burung sering kali lebih berbahaya daripada fakta. Fakta bisa dibantah. Desas-desus justru hidup dari ketakutan.
“Menurutmu kenapa The Fourth merapat ke Falah?” tanya Lintong lagi.
“Karena mereka lelah diperlakukan seperti anak tiri oleh presiden.”
Lintong menelan ludah.
“Kalau Falah maju, bisa habis proyek Kindra kita.”
“Tidak.” Setyo menggeleng pelan. “Kindra terlalu besar untuk dikalahkan industri recehan seperti itu.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan, “Yang berbahaya justru kalau Kindra ikut pindah mendukung Falah.”
Wajah Lintong seketika pucat. Lelaki itu memang lucu, mudah sekali berubah dari rakus menjadi ketakutan hanya dalam satu kalimat.
“Falah tanpa The Fourth saja sudah membuat Vidya buncah,” lanjut Setyo. “Kalau mereka benar-benar masuk, Kindra akan bermanuver. Mereka selalu berpihak pada masa depan.”
Lintong memaksakan tawa gugup. “Dampaknya buat kita apa? Penjara?”
“Istri-istrimu terlantar.”
Jawaban itu meluncur datar, nyaris tanpa emosi. Tapi justru karena itu terdengar mengerikan.
Sejak menerima aliran dana dari Kindra, hidup Lintong berubah seperti dongeng murahan orang kaya baru. Ia mulai mengoleksi perempuan, menikah satu demi satu, bahkan baru mencicil Lamborghini hanya demi memikat mahasiswi incarannya.
Tatapan Setyo melayang ke deretan keris yang berjajar di dinding. Benda-benda itu tampak diam, tetapi menyimpan sejarah darah.
Dunia politik selalu mengajarkan satu hal, jangan pernah menertawakan rumor. Karena sering kali, negeri runtuh bukan oleh kenyataan, melainkan karena abai terhadap kemungkinan.
“Undang Menteri Dalam Negeri makan malam,” ujar Setyo akhirnya. “Pakai jalur internal. Jangan ada fraksi lain yang tahu.”
Lintong mengangguk cepat.
Ia memang bukan pemimpin. Ia hanya ikan kecil yang terlalu sadar bahwa hidup lebih aman di bawah bayangan paus.
Sementara itu di ujung barat negeri, suasana sama sekali berbeda.
Kilatan kamera berpendar seperti hujan cahaya. Wartawan berebut posisi terbaik. Massa bersorak memanggil nama presiden mereka, sementara paspampres bergerak tegang menjaga lingkar pengamanan yang mulai kacau.
Di tengah riuh itu, Malik menyelip masuk.
“Tidak bisakah kamu menunggu?” hardik Pras tanpa menoleh. “Saya akan pidato sebentar lagi.”
“Ini penting.” Malik mendekat. “Kamu sulit sekali dihubungi sejak kemarin.”
“Tentu saja. Kamu pikir gampang menemui presiden?”