Nama Green Forest Huis menyala temaram di gerbang kawasan elit itu—huruf-huruf logam yang dipahat pada dinding batu hitam, dipeluk semburat lampu kuning dan desir air mancur yang jatuh tanpa suara. Sebuah kompleks kecil berisi lima belas rumah, tertutup rapat dari dunia luar seperti rahasia yang tak boleh bocor ke mana pun.
Rumah milik Setyo berdiri paling ujung. Paling luas, paling megah, dan paling sunyi.
Tak ada suara anak-anak. Tak ada tawa keluarga. Hanya halaman luas yang terlalu rapi, seolah kehidupan itu sendiri enggan tinggal terlalu lama di sana.
Dua sedan mewah berpelat dinas yang telah dihitamkan parkir di depan rumah. Sedikit lebih jauh, dua SUV gelap berjaga dengan mesin masih menyala. Di balik kaca hitamnya, lelaki-lelaki bersenjata duduk diam seperti patung. Mata mereka menyisir setiap sudut malam, memastikan tak ada wartawan, penyadap, atau telinga asing yang cukup nekat mendekat.
“Terus terang saja, Setyo. Apa yang sebenarnya mau kau bicarakan?”
Suara Harto berat dan kasar, seperti amplas yang digesekkan ke kayu tua. Aroma rokok menempel pada napasnya. Wajahnya tampak lelah, keriput yang tak lagi bisa disembunyikan oleh jabatan atau jas mahal. Ia satu-satunya lelaki sepuh yang masih dipertahankan dalam lingkar kekuasaan presiden.
“Biasa,” jawab Setyo ringan. “Membicarakan rancangan undang-undang.”
Harto mendecih pelan.
“Kalau hanya soal undang-undang, tak perlu Lintong mengantar undangan langsung ke rumahku. Tak perlu juga kita bertemu di rumahmu begini.”
Setyo tersenyum tipis.
“Sekalian menyambung tali persaudaraan, Bang.”
Jawaban yang terlalu rapi untuk dipercaya. Harto langsung tahu ada bangkai tersembunyi di balik makan malam ini.
“Waktu itu mahal,” katanya dingin. “Dan dinding punya telinga. Langsung saja ke intinya sebelum ada wartawan iseng menyadap.”
Setyo berdiri santai, berjalan menuju dapur seolah percakapan mereka tak lebih penting dari memilih minuman. Ia kembali membawa sebotol Gin Mare dan sebuah map hitam tipis.
“Ketidakharmonisan kita tak perlu dibawa ke meja makan,” katanya sambil menuang gin ke gelas kristal. “Namanya juga politik.”
“Tidak ada makan malam yang tulus di dunia politik.”
Setyo mengangkat gelasnya mengajak bersulang. Harto menerimanya.
Sesama pemabuk memang punya bahasa persaudaraan sendiri.
Namun malam itu, gin tak cukup kuat melunakkan firasat buruk.
Setyo membuka map tersebut dan menyerahkannya perlahan. Di dalamnya ada deretan nama-nama pejabat, nama anggota parlemen dan nama-nama menteri.
Dan angka-angka. Terlalu besar untuk disebut uang biasa.
Jantung Harto serasa tersentak saat melihat namanya sendiri berada di sana.
“Ini apa?” tanyanya pelan.
“Jumlah setoran dari Pras kepada kita semua,” jawab Setyo.
Harto membetulkan kacamatanya, memastikan matanya tidak sedang mabuk. Angka-angka itu nyaris absurd.
“Ada proyek besar,” lanjut Setyo tenang. “Sudah dikuasai Pras sejak ia masih wakil presiden. Kita semua hidup dari sana.”
“Lalu?”
Setyo menyesap gin sebelum menjawab.
“Saya ingin mengambil alih proyek itu.”
Kalimatnya meluncur begitu saja. Datar. Bersih. Tanpa rasa bersalah.
Mata Harto terangkat perlahan.
“Urusannya denganku?”
“Pras harus dijatuhkan.”
Untuk sesaat, udara seperti berhenti bergerak.
Harto menatap lelaki di depannya seolah baru menyadari bahwa manusia bisa terdengar lebih mengerikan saat berbicara dengan nada tenang.