Belum lama senja runtuh ke pelukan malam ketika Istana kembali bernapas dengan ritme yang tegang. Lampu-lampu kristal memantulkan warna emas pucat di ruang rapat utama, menerangi wajah-wajah menteri yang duduk rapi seperti murid menunggu hukuman. Bukan rapat kabinet. Bukan pula sidang strategis negara. Ini ritual lama yang nyaris menjadi tradisi: presiden memarahi para pembantunya sendiri.
Pras berdiri di ujung meja panjang, kedua tangannya bertumpu ringan pada permukaan kayu hitam mengilap. Sorot matanya menyapu satu per satu wajah di hadapannya, tajam, dingin, seolah mampu menguliti isi kepala siapa pun.
“Sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara,” katanya pelan namun menggigit, “saya minta kalian fokus pada pekerjaan masing-masing. Jangan sibuk mengomentari tugas orang lain. Itu bagian saya. Bukan kalian.”
Kalimat itu jatuh seperti palu terakhir hakim. Tak perlu nada tinggi. Pras tahu, sindiran yang tenang jauh lebih memalukan daripada kemarahan yang meledak-ledak. Belakangan para menterinya terlalu gemar bermain panggung, saling mengkritik demi sorot kamera dan tepuk tangan publik. Semua berlomba menjadi yang paling setia di depan rakyat, sambil diam-diam menusuk satu sama lain di belakang meja kabinet.
“Hadirin dimohon berdiri.”
Suara pembawa acara mengalun rendah ketika Pras dan wakil presidennya melangkah keluar ruangan. Kursi-kursi bergeser serempak. Aroma kopi dingin, parfum mahal, dan kecemasan yang tertinggal bercampur di udara.
Seorang perwira militer bergerak sigap membereskan dokumen di meja Pras. Dua pria bersafari mengikuti di belakang seperti bayangan yang tak pernah benar-benar memiliki suara sendiri.
Di lorong luar, Harto berusaha mendekat. Namun di saat bersamaan Rindra sang kepala kepolisian negara, lebih dulu menghampiri sambil membawa map cokelat tersegel. Pras memberi isyarat kecil kepada Harto untuk menunggu.
“Hanya ini?” tanya Pras setelah membuka isinya sekilas.
Rindra menjawab dengan anggukan pendek. Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak diperlukan.
Beberapa detik kemudian perhatian Pras sudah beralih pada Harto. Menteri tua itu tampak seperti seseorang yang terlalu lama berdiri di bawah matahari, wajahnya pucat, pelipisnya mengilap oleh keringat.
“Saya sudah membaca naskah rancangan undang-undang yang Abang buat,” ujar Pras santai. “Siapa saja yang memberi masukan?”
“Beberapa guru besar… pengamat politik juga,” jawab Harto cepat. Terlalu cepat.
“Anggota parlemen ikut terlibat?”
Pertanyaan itu menusuk lurus ke tengah dadanya.
“Saya belum berdiskusi dengan mereka.”
Kebohongan yang buruk. Dan Pras membencinya ketika seseorang berbohong dengan buruk.
“Saya akan beri surat pengantar supaya segera masuk pembicaraan tahap satu,” kata Pras sambil menutup map itu kembali. “Tapi jangan sampai naskah ini bocor ke publik. Bisa ricuh.”
Harto mengangkat wajahnya, nyaris tak percaya. “Jadi… menurutmu ini sudah sesuai?”
Pras menatapnya beberapa saat. Tatapan seorang lelaki yang terbiasa melihat isi kepala orang lain sebelum mereka sendiri menyadarinya.
“Belum sepenuhnya. Ada beberapa bagian yang harus diselaraskan dengan program nasional, supervisi daerah, penelitian, pengembangan. Revisi sedikit saja. Setelah itu langsung masuk program legislasi.”
Napas Harto lolos panjang. Lega. Terlalu lega.
Pras memperhatikannya dengan samar-samar geli.
“Bang Harto kelihatan sakit.”
“Ah… tidak. Cuma lelah. Faktor umur.”
“Ambil cuti. Istirahat dengan keluarga.”
Pras menepuk bahunya ringan sebelum berlalu. Santai. Hampir ramah. Namun justru keramahan itulah yang membuat lutut Harto terasa lemas.
Kalau sampai ketahuan, habis sudah semuanya.
Jabatan, kekuasaan, seluruh aset yang tersebar di berbagai kota dan berbagai nama. Dunia yang selama ini memberinya makan bisa berubah menjadi mulut raksasa yang menelannya hidup-hidup.
Dan Harto belum siap miskin.
Sementara sang menteri masih tenggelam dalam ketakutannya sendiri, Pras sudah memerintahkan ajudan mencari Malik, Rayhan, dan Johar, tiga orang yang paling ia percaya untuk urusan-urusan yang tak pernah tercatat dalam notulensi negara.
Ia mencium sesuatu yang busuk dari naskah itu. Samar. Namun justru hal-hal samar biasanya paling berbahaya.
“Terlalu amatir…” gumamnya.