Malam turun seperti tirai beludru hitam ketika tiga BMW berwarna legam terparkir rapi di halaman Green Forest Huis. Ketiganya berbeda tipe, namun memancarkan aura serupa, mahal, dingin, dan menyimpan orang-orang yang terlalu terbiasa membeli dunia dengan angka.
Di tempat seperti ini, kesepakatan tidak pernah lahir di ruang terang, Ia tumbuh dalam cahaya temaram, di antara gelas kristal, asap cerutu tipis, dan senyum orang-orang yang tahu hukum hanyalah benda lentur.
Setyo sudah menunggu di ruang utama ketika Vidya dan Julian masuk. Tidak ada politisi, tidak ada anggota partai, tidak ada perwakilan Pras.
Hanya mereka bertiga. Dan justru itulah yang membuat pertemuan malam itu terasa jauh lebih berbahaya.
“Kamu meminta pertemuan pribadi tanpa orangnya Pras.” Vidya membuka percakapan sambil melepas sarung tangannya perlahan. “Menarik. Sekarang katakan, permainan apa lagi yang sedang kamu susun?”
Setyo tersenyum kecil. Senyum seseorang yang terlalu percaya diri untuk disebut waras.
“Masih ingat ucapan saya soal menyingkirkan Falah?”
Vidya mengangguk pelan.
Tanpa banyak penjelasan, Setyo mengambil sebuah amplop putih tersegel dari meja kerjanya lalu menyerahkannya pada Vidya.
“Berikan ini pada Alice.”
Vidya menerimanya sambil mengernyit tipis. “Cuma ini?”
“Tidak.” Setyo menyandarkan tubuhnya santai. “Saya juga butuh modal.”
“Untuk apa?” Vidya tertawa kecil. “Dana Kindra sudah dipegang Pras semua.”
“Tujuh ratus ribu dolar.”
Julian langsung tergelak keras. Tawa refleks seorang bawahan yang merasa mendengar lelucon murahan.
Setiap tahun, ratusan juta dolar mengalir ke rekening proyek Kindra tanpa banyak pertanyaan, dan sekarang Setyo duduk meminta angka yang bahkan tak seberapa.
Namun sebelum tawanya selesai, Setyo menambahkan dengan nada datar:
“Dikalikan dua ratus dua puluh orang.”
Tawa itu mati seketika. Ruangan mendadak sunyi.
Julian menatapnya dengan mulut sedikit terbuka, seolah baru sadar lelaki di depannya mungkin jauh lebih gila daripada yang ia bayangkan.
“Kamu mau jadi sinterklas untuk seluruh parlemen?” seru Vidya, nyaris tak percaya.
“Setengah parlemen saja,” jawab Setyo ringan.
Tetap saja sinting. Vidya merasa logikanya seperti dihantam sesuatu.
Selama ini permainan mereka selalu bergerak di lorong gelap, membeli satu kepala proyek, membungkam satu pejabat, mengikat satu hakim. Semua dilakukan diam-diam. Berbisik. Tak meninggalkan jejak.
Namun Setyo berbeda.