KINDRA

krkawuryan
Chapter #16

Kutu Loncat

Hidup harus tentang kiri atau kanan, hitam atau putih. Tak ada ruang untuk abu-abu, tak ada tempat untuk jalur tengah. Kalah atau menang, itulah definisi hidup sesungguhnya.

Malik merasa harus mengambil sikap. Proyek sebesar Kindra tidak mungkin dijalankan dengan dua kaki selamanya. Proyek itu boleh tetap hidup, uangnya boleh terus mengalir, jaringan dan orang-orangnya boleh tetap bekerja seperti mesin yang tak pernah tidur, namun tangan yang mengendalikan mesin itu bisa berganti. Jika tangan tersebut ternyata bukan lagi tangan Pras, Malik harus memastikan tangannya sendiri tidak ikut terpotong.

Kesalahan memilih kubu dalam politik bukan sekadar kehilangan jabatan, bisa berarti kehilangan semuanya, karena politik tidak mengenal kesetiaan, yang ada hanya kepentingan yang bertahan selama masih menguntungkan.

Ketika keuntungan berpindah, kesetiaan pun ikut berpindah.

Sejak mendengar Setyo nekat mendatangi Falah dan memberinya ancaman, Malik sudah mengambil kesimpulan sendiri. Falah akan hilang. Mungkin bukan malam itu, mungkin bukan besok. Tetapi cepat atau lambat, namanya akan lenyap dari papan permainan, dan hanya menyisakan Pras dan Setyo.

Pras memang sudah memperoleh setengah kemenangan. Undang-undang tiga periode telah diketuk. Jalan untuk kembali menjadi presiden terbuka lagi. Namun itu bukan jaminan ia akan menang. Justru sebaliknya. Jika sistem pemilihan berubah seperti yang sedang dirancang Setyo, Pras harus bertarung melawan orang yang menguasai rumah tempat pertarungan itu berlangsung.

Parlemen.

Pras akan kesulitan. Sangat kesulitan. Tidak ada orang yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengetahui seluruh isi rumahnya sendiri.

Maka Malik memutuskan, Ia akan menjadi kutu loncat.

Malam sudah jauh ketika Setyo kembali ke ruangannya setelah sidang berakhir. Pintu baru saja tertutup ketika ia melihat Malik sudah berselonjor santai di sofa, seolah-olah ruangan itu miliknya.

Setyo berhenti.

“Mau apa kamu di sini?”

Malik mengangkat wajah.

“Kenapa tidak bersama Pras? Bukankah malam ini kalian semua sedang nonton bareng di istana?”

Setyo melepas jasnya.

“Ya, mereka semua di sana.”

Kata mereka membuat tangan Setyo berhenti sesaat. Ia tahu siapa yang dimaksud. Orang-orang inti Kindra. Mereka yang selama ini berdiri di belakang Pras, menikmati kekuasaan sekaligus uang yang mengalir dari proyek itu.

Setyo menatap Malik.

“Kamu tidak diundang?”

“Tentu saja diundang.”

Jawabannya terlalu cepat.

“Tapi saya tidak tertarik.”

Setyo tidak langsung menjawab.

Namun dalam hitungan detik, ia sudah memahami maksudnya. Malik sedang berpindah kapal.

“Kamu kenal Pras,” kata Setyo. “Kalau dia tahu kamu melakukan ini, dia akan menyingkirkanmu.”

Malik tersenyum tipis.

“Dia akan baik-baik saja.”

Lihat selengkapnya