Seminggu setelah ketuk palu, saat ormas-ormas sedang rajin-rajinnya turun ke jalan dan saat kaum intelek tak henti-henti meneriaki amandemen dan undang-undang baru, masyarakat gempar dengan beredarnya kasus suap yang terjadi tiga belas tahun yang lalu.
Iya, tiga belas tahun yang lalu.
Betapa mengerikannya dunia politik ini, demi kekuasaan yang tidak sampai 3/4 umurnya, mereka sampai punya waktu untuk mengais aib belasan tahun lalu lawan politiknya, sampai lupa kalau kematian itu bukan menjauh, tapi semakin dekat, sampai lupa begitu jantung berhenti berdetak, saat itu pula segala kekuasaan di dunia berhenti total. Total!
Sebuah dokumen korupsi dan sebuah foto tersebar di dunia maya. Media mewartakannya tanpa henti setiap hari demi bisa membangkitkan rasa benci publik. Linimasa penuh dengan beritanya, ada yang berita utuh, ada yang setengah, kebanyakan dilebih-lebihkan.
Sebenarnya nilai korupsi yang dilakukan tidaklah sebesar dengan korupsi-korupsi yang terungkap belakangan ini. Masalahnya adalah aktor yang melakukannya, seorang bakal calon presiden, Falah Malomo.
Ia menjadi tokoh utama di semua media. Orang-orang mengutuknya bergantian, karena menurut mereka seorang calon presiden seharusnya tanpa cela, sempurna bagai malaikat.
Namun demikian, tetap masih ada yang membelanya. Tapi tak terlihat karena hanya segelintir rakyat kecil yang kerap disantap hoax.
Tak henti di situ, setelah dokumen korupsi, beredar pula foto Falah yang sedang menempel mesra kepada salah satu artis yang kabarnya kecantikannya membahana sampai kahyangan, di dalam sebuah jet pribadi.
Jadilah ia bulan-bulanan lawan politiknya. Popularitasnya meroket ke dasar jurang dalam hitungan hari, ia bahkan tak diberi kesempatan untuk membela diri.
Setyo benar-benar menepati janjinya untuk menghancurkan karir Falah. Tidak lupa bonusnya, rumah tangga Falah yang juga berantakan.
Di sudut ruangan sebuah rumah yang rencanya dijadikan markas tim sukses itu, Falah bersandar pucat seperti kelinci terkunci elang. Ia tak menyangka secepat ini ia jatuh. Usaha dan lobi-lobi yang sudah dilakukan bertahun-tahun menguap begitu saja akibat ulah satu orang.
Selembar kertas dengan logo kepolisian tergeletak di atas meja di hadapannya. Unit anti korupsi bergerak cepat menyelidiki dugaan korupsinya Falah. Menangkap seseorang yang dielu-elukan menjadi presiden akan sangat bagus untuk publisitas, dan baik untuk car muka ke presiden. Cair nih!
Falah mengutuk Setyo berkali-kali hingga dering telepon menyadarkannya kembali, nama Jafar tertera di dalamnya.
“Ya,” sapa Falah dengan suara seperti orang sekarat dan siap dicabut.
“Kamu baik-baik saja?” Jafar bertanya cemas.
“Menurutmu?”
“Mungkin sebaiknya kamu menghubungi Setyo.”
“Untuk apa lagi, isu sudah tersiar, istri saya bahkan tak ingin bicara lagi dengan saya semenjak melihat foto itu.”
Jafar seperti kehilangan temannya yang dulu bersemangat dan penuh ide liar untuk negara ini. Ambisinya sudah tidak terasa lagi.. “Kamu tidak berhubungan dengan The Fourth, kan?” tanyanya ragu.
“Saya bertemu dengan mereka seminggu yang lalu.”
"Bukankah sudah saya bilang untuk tidak menghubungi mereka!”
“Kamu berlebihan, tidak ada urusannya dengan kamu.”
“Tidak ada katamu! Mereka akan memburumu, Falah! Kamu sudah tak bertaji, taring, tak ada kekuatan, tak punya kesempatan. Singkatnya kamu sudah tidak ada gunanya lagi bagi mereka.”
“Ucapanmu sama dengan mereka kemarin, tapi mereka tidak akan meninggalkan saya. Saya mengancam mereka dengan ....”
“Astaga, ternyata kamu sebodoh ini! Mereka akan membunuhmu sebelum kamu menyerahkan buku hitam itu ke polisi. Mereka mafia, Falah. Ingat itu!”
Jafar semakin histeris, bukan tanpa alasan, karena ia juga mengetahui tentang buku hitam itu.
“Saya tahu, saya sudah memiliki escape plan jika hal ini terjadi,” Falah berkata pelan.
“Saya tidak bodoh, Jafar. Ada alasan mengapa saya memberitahukanmu tentang rahasia mereka.”
Jafar terdiam, ia tiba-tiba merasa menjadi orang terbodoh di dunia.
“Kamu menjadikan saya escape plan-mu?” histerisnya berubah lirih.
“The Fourth tahu kalau kamu juga mengetahui rahasia ini. Artinya, kalau saya mati, kamu juga akan mati,” balas Falah.
Pria tua di seberang telepon itu mematung. Jadi selama ini ia tidak lebih dari keledai dungu yang dengan setianya menemani majikannya ke mana pun dia pergi, termasuk ke akhirat.
“Ini politik Jafar. Kamu kira kamu bisa meninggalkan saya seenak jidatmu. Sekarang, tugasmu untuk meyakinkan The Fourth agar tidak meninggalkan saya, apalagi membunuh saya.”
“Tidak akan bisa, sudah saya bilang mereka mafia, kamu tidak lagi menguntungkan, mereka akan memburumu.” Nada Jafar berubah pelan.
Hidupnya berubah drastis dalam lima menit. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjadi keledai dungu saat memutuskan untuk menelepon Falah saat ini. Ia tulus ingin memastikan kawan baiknya tersebut tidak tenggelam dalam depresi. Tapi lihat yang ia dapat, alih-alih dapat menenangkan sahabatnya, ia justru terancam nyawa.
Saat itu Jafar hanya terpikir satu nama yang bisa membantunya saat ini
"Kamu pergi temui Pras, dia tahu apa yang harus dilakukan."
……….
Dua jam setelah telepon dari Jafar berakhir, Falah akhirnya menyerah. Ia menghabiskan sisa waktunya dengan memasukkan dokumen, berkas, dan barang-barang pribadi ke dalam sebuah koper besar. Satu demi satu. Tanpa banyak berpikir.
Setelah penuh, koper itu ditutupnya rapat. Barangkali untuk terakhir kalinya. Ia tidak berniat membukanya lagi.