Kirana's Rooms: Jarak Diantara Kita

KiraNico
Chapter #1

Dua Serigala

"Nico, kepergianmu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Karena berkat jarak ini, akhirnya aku tahu betapa luar biasanya aku tanpamu. Namun dengan kesadaran itulah, aku memilih untuk tetap bersamamu." — Kirana Meliora

(Kirana Meliora)

***


⛅ Rumah - Siang Hari, 12:33

Bruk!

Tubuhku ambruk di atas sofa empuk ruang keluarga. Rasanya seluruh energiku terkuras habis, menyisakan pegal di pundak yang terasa kaku.

"Kamu sudah pulang, Kirana? Bagaimana hari pertamamu di SMA?" tanya Mama. Suara denting spatula yang beradu dengan wajan terdengar dari dapur. Mama sedang menyiapkan makan siang.

Aku menghela napas panjang sembari menatap langit-langit rumah yang putih bersih. "Huft. Berantakan dan ... aneh, Mah."

"Aneh?" Mama menoleh sebentar, lalu menyalakan timer microwave. Tak lama, aroma gurih daging panggang mulai memenuhi ruangan, memicu rasa lapar yang dari tadi kutahan.

"Hari pertama sekolah," ucapku, "kami langsung menyusun sistem kelas. Ketua, bendahara, sekretaris, semuanya. Tujuannya tentu untuk menciptakan ketertiban.

Aku mendukungnya, Mah, karena aku benci sesuatu yang kacau. Kalau kacau, pasti ada yang dirugikan. Makanya, aku mengajukan diri jadi sekretaris sekaligus petugas ketertiban."

Mama berjalan mendekat, mengelap tangannya yang basah pada celemek bunga-bunganya. "Itu sangat Kirana sekali."

"Yap, sebagian besar berjalan lancar, kecuali untuk MEREKA."

"Mereka?" ucap Mama sembari menaikkan sebelah alisnya.

"Iya. Kelompok chaos. Mama tahu, kan? Tipe murid paling liar dan suka membuat keributan. Yang memandang kami sebagai si kaku yang sok tertib. Namun... masalah utamanya bukan mereka, melainkan VICTOR."

Aku memejamkan mata sebentar, membayangkan sosoknya. "Orangnya tinggi, atletis, dan karismatik. Saat dia menatap, lutut langsung gemetar karena ketakutan."

(Victor)

"Oh... kejahatan apa yang sudah dia lakukan?" tanya Mama, kini mulai menata piring di meja makan.

"Sejujurnya, dia tidak bertingkah sama sekali. Dia hanya diam mengamati. Tapi justru itu, niatnya yang tak terbaca membuatnya menakutkan. Tak satu pun dari kami berani mendekat. Kami hanya... menerima kalau sebagian kelas tetap kacau dikuasai kelompok itu."

Mama terdiam sejenak, memperhatikan raut wajahku. "Lalu?" Mama mengibaskan jarinya karena terkena makanan panas.

"Tentu aku tidak bisa menerima begitu saja! 'Siapa sih petugas keamanan di sini? Kenapa dia tidak bertindak?' tanyaku pada ketua kelas,"

Lihat selengkapnya