Kirana's Rooms: Jarak Diantara Kita

KiraNico
Chapter #2

Misteri Cokelat

🌛 Rumah - Malam Hari, 19.13

(Dua Minggu sejak 'Dua Serigala' duduk bersama)

~Lala la... Lala la...

Aku bersenandung kecil sambil merebahkan diri di sofa yang empuk. Sesekali kuangkat sebungkus cokelat ditanganku ke arah lampu, memperhatikan bungkusnya yang berkilau terkena cahaya. Cokelat ini adalah harta karun.

Mama yang sedang melipat baju di seberangku mendongak, mengangkat alis curiga. "Kirana, kamu sudah senyum-senyum sendiri selama tiga puluh menit. Haruskah Mama khawatir?"

"Mungkin hari ini, aku sedang gila, Mah. Lala la~" Aku kembali bersenandung, mengabaikan godaan Mama.

Suara pintu terbuka, diikuti derap langkah kaki yang berat. "Ada laporan apa hari ini sampai gadis kecil Papa tersenyum lebar?"

Papa pulang. Ia terlihat lelah, namun raut wajahnya langsung melunak begitu melihatku. Ia mulai meletakkan atribut polisinya di meja. Aku bangkit dan duduk tegak, memeluk bantal sofa dengan gemas.

"Pah, Mah... tadi di sekolah ada kompetisi antarkelas. Lari estafet, tarik tambang, futsal, basket, sampai voli. Kelas kami menang telak di dua cabang olahraga: basket dan voli. Dan ini?" Aku mengangkat cokelat itu tinggi-tinggi ke arah lampu, seolah memamerkan piala suci. "Jeng-jeng... hadiahnya!"

"Pantas saja kamu senyum dari tadi," ucap Mama.

"Putri kecil Papa ternyata punya skill atletik. Kamu ikut kompetisi apa? Basket? Voli?" tanya Papa bangga sambil melonggarkan kerah seragamnya. Mama juga ikut tersenyum lebar, bersiap memberikan selamat.

Aku tersenyum canggung. "Duh, kalian salah sangka. Kompetisinya cuma untuk anak cowok. Kami yang cewek cuma jadi cheerleader di pinggir lapangan."

"Loh, kamu tak ikut main?" ucap Mama sedikit kecewa.

Aku menggeleng. Papa terkekeh, lalu menepuk pundakku pelan. "Ya tidak apa-apa. Tetap saja hebat kelasmu bisa menang. Berarti skill mereka bagus."

Aku menghela napas panjang. "Sebenarnya... tim kelas Kirana itu payah, Pah. Benar-benar payah dibandingkan kelas lain. Tapi, ternyata Victor itu atlet basket dan Nico atlet voli. Skor kelas kami langsung melesat naik karena mereka berdua. Di akhir, mereka dapat camilan se-kardus besar sebagai hadiah, terus dibagikan ke anak-anak kelas."

Aku kembali menunduk, menatap cokelat di tanganku. Senyumku yang tadinya lebar kini berubah jadi senyum tipis yang malu-malu.

"Dan cokelat ini? Ini pemberian Nico. Lucu ya, Mah... orang-orang cuma dapat biskuit, keripik, atau paling beruntung dapat minuman bersoda. Tapi saat Nico lewat di depanku..." Aku menjeda, mengingat kembali tatapan sekilas cowok itu.

"'Ambil.' ucapnya pendek. Dia menyelipkan ini ke tanganku, lalu pergi begitu saja. Ini satu-satunya, lho. Tidak ada yang dapat cokelat selain aku."

Mama menghentikan kegiatan melipat bajunya, menutup mulut dengan tangan, matanya berbinar. "Aw... jadi itu 'cokelat pernyataan cinta' dari Nico? Cute sekali!"

"P-pernyataan cinta? J-jangan ngawur!" Protesku.

Lihat selengkapnya