🌥 Rumah - Sore Hari, 15:45
(Keesokan setelah pemberian cokelat).
Brak!
Aku masuk ke rumah dengan langkah kasar, lalu melempar ransel ke sofa sekuat tenaga.
"ARGH! MENYEBALKAN!" teriakku frustrasi.
Mama yang sedang menikmati teh dan Papa yang tengah fokus membaca laporan di ruang keluarga sampai tersentak. Papa refleks menurunkan kacamata ke ujung hidung, mengintip dibaliknya dengan alis bertaut. Sementara Mama meletakkan cangkirnya dengan denting pelan.
"Ya ampun, Kirana. Ada apa?" tanya Mama, matanya mencoba membaca raut wajahku.
"E-eh..." Aku mendadak kikuk, baru menyadari keberadaan mereka. "Cowok itu, Mah... Nico. Dia benar-benar menyebalkan." ucapku pelan sembari menjatuhkan diri ke sofa di samping Mama.
Mama mengangkat alis, melirik Papa sekilas dengan senyum penuh arti. "Drama baru apalagi ini? Bukannya kemarin kamu berbunga-bunga menceritakan dia?"
"Mama tidak akan percaya. Tadi aku... aku..." Aku menghentikan kalimatku, nyaris saja mengungkap kebodohanku di sekolah. "T-tidak jadi, Mah."
Mama duduk menyamping menghadapku, menyunggingkan senyum usil lalu mencubit pelan lenganku. "Tadi apa? Nico kenapa? Ayo cerita. Papa juga mau dengar, kan, Pah?"
Papa berdeham, melipat laporan di tangannya dengan rapi. "Tentu. Sepertinya ini jauh lebih menarik daripada laporan kantor Papa."
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang masih berpacu. "Tadi... aku mencoba mendekati Nico," ucapku nyaris berbisik.
Mama menahan tawa, menutup mulut dengan tangannya. "Kamu apa, Kirana?" godanya sambil mengedip nakal pada Papa.
"AKU COBA MENDEKATI NICO!" seruku tak tahan lagi. Wajahku terasa panas hingga ke ujung telinga. Papa malah ikutan menahan tawa.
"Awalnya, aku pikir setelah memberiku cokelat kemarin, dia akan mengajak mengobrol atau setidaknya menyapa. Tapi ternyata tidak! Tadi saja saat melewati mejaku, di lewat begitu saja. Akhirnya aku pikir, kenapa tidak aku duluan saja yang memulai."
"Jadi aku menyusun strategi," lanjutku sambil jari menopang dagu. "Dan aku menemukan satu celah untuk berinteraksi: menegur penampilannya!"
Papa mengerutkan kening, tampak bingung dengan logika remaja perempuannya.
"Iya! Seragamnya tidak dimasukkan, gaya rambutnya acak-acakan. Tapi bukan bad boy urakan seperti di kelompok chaos, dia lebih seperti... model di cover majalah, berantakan yang artistik. Tapi tetap saja itu melanggar aturan. Dan... ahem, sebagai petugas ketertiban, bukankah itu tugasku?"