Kirana's Rooms: Jarak Diantara Kita

KiraNico
Chapter #4

Dia Luluh?

🌥 Rumah - Sore Hari, 15:33

(Seminggu setelah piket berdua)

Aku mendorong pintu dengan punggungku. Begitu daun pintu terbuka, aku melangkah masuk dengan perasaan ringan.

Ada senyum yang sejak tadi enggan lepas dari wajahku, membuat pipiku sedikit pegal, tapi aku tidak peduli. Hari ini benar-benar... sempurna.

Aku berjalan dengan langkah berirama, hampir seperti sedang menari kecil.

"Nico lagi, ya?" suara Mama memecah keheningan dari balik pintu kulkas.

Aku tersenyum, langkahku terkunci di atas ubin dapur yang dingin. "K-kok Mama tahu? Aku kan belum cerita apa-apa."

Mama menutup pintu kulkas dengan pundaknya, menatapku dengan terkekeh. "Wajahmu itu seperti buku yang terbuka, Kirana. Isinya nama Nico semua."

Aku menarik kursi makan dan duduk perlahan. Rasanya dadaku penuh dengan rasa senang yang ingin segera kutumpahkan.

"Iya, Mah. Hari ini... aku piket bareng Nico lagi." Aku tertawa kecil, membiarkan bayangan di sekolah tadi berputar ulang di kepalaku.

"Saat jam istirahat, aku dan Nico mendapat tugas mengembalikan buku paket ke perpustakaan. Bayangkan, Mah, aku membawa tumpukan setinggi dagu sampai harus berjalan jinjit supaya bisa melihat jalan di depan. Beratnya luar biasa, sampai lenganku rasanya mau copot." Aku memeragakan posisi tangan yang kaku karena beban berat.

"Nico berjalan di sampingku. Dia membawa tumpukan yang juga tinggi, tapi dia membawanya santai saja. Dan saat kami menyusuri koridor yang panjang itu, mataku menangkap sesuatu yang sangat langka."

"Sesuatu yang langka?" tanya Mama. Tangannya menuangkan es cokelat ke dalam gelas. Bunyi es batu yang beradu, berdenting dengan gelas kaca yang membuatku teralihkan sejenak.

"Rambutnya, Mah! Biasanya kan rambut depan dia itu berantakan menutupi kening sampai hampir kena mata, tapi hari ini... rambut itu disisir rapi dan pakai gel."

"Wah, akhirnya ada keajaiban," canda Mama santai sembari menyodorkan gelas es cokelat itu ke hadapanku.

Aku menoleh kearahnya,"Terima kasih, Mah." ucapku, "Aku sampai hampir menabrak pot bunga karena fokus mengamati rambutnya. Langsung saja aku menggodanya, 'Wah, lihat rambutmu! Sekarang kamu sisir.'"

Aku tersenyum gemas mengingat raut wajah malu-malu dan gengsinya saat itu. "Dia memalingkan muka dan bilang pelan, 'Iya. Ada cewek bawel yang memintaku melakukannya.'

Aku mengigit bibir menahan tawa depan dia, cewek bawel yang dia maksud itu... ya aku."

Aku meneguk es cokelat, membiarkan dinginnya menutupi pipiku yang mulai memanas. "Anehnya, aku tidak tersinggung sama sekali. Aku malah merasa ada kembang api kecil yang meledak di dadaku. Ternyata dia mendengarkan ucapanku. Itu artinya... dia peduli, kan, Mah?"

Tepat saat aku sedang asyik melayang di awang-awang, sebuah suara berat muncul tiba-tiba dari balik sandaran sofa ruang keluarga. "Nico? Cowok yang kemarin memenangkan voli antar kelas?"

"Uhuk!"

Aku tersedak sampai es cokelat hampir keluar dari hidung. Aku menyeka mulutku dengan tisu lalu menoleh ke sumber suara.

"K-kamu kenal dia? Dan..." Aku menatap sesosok wajah yang muncul dari balik sofa, lengkap dengan cengiran tanpa dosa. Ya, si makhluk menyebalkan satu itu, kakakku.

"Sejak kapan kamu di situ, Gerry?"



Lihat selengkapnya