🌤 Rumah - Pukul 12:19
(Sehari setelah Gerry mendapat nomor Nico).
"Aku pulaaaang!"
Suara riangku memecah keheningan ruang keluarga. Hal pertama yang tertangkap mataku adalah sosok Gerry. Ia masih memakai seragam SMA-nya yang agak berantakan, duduk bersila di depan TV sambil memencet stik PlayStation.
Tanpa aba-aba, kuayunkan ranselku ke arahnya. "Gerry, tangkap!"
Buk!
Dengan refleksnya, Gerry menangkap ranselku ke dadanya, meski rautnya jelas kaget. Aku hanya tersenyum lebar, mengabaikan tatapan herannya yang mengikuti langkahku menuju dapur.
Kutemukan Mama sedang memasak sup, aroma gurih kaldunya langsung menyambutku.
"Mama..." sapaku, "Kirana bantu potong sayurannya, ya?" Mama menoleh heran, "Wah tumben. Boleh sekali, sayang."
Tek! Tek! Tek!
Kuambil pisau dan seikat sayuran segar. Potongan wortel berlompatan di atas talenan kayu itu. Gerry menoleh pada Mama dengan kebingungan, "Dia kenapa, Mah? Hari ini ceria sekali."
Mama hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala, memberikan tatapan 'biarkan-saja-selagi-dia-mau-membantu'.
Aku tidak peduli dengan bisikan mereka. Pikiranku justru melayang kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu di sekolah.
[Flashback dipikiran Kirana]
TAMAN SEKOLAH, 09:37
Jam istirahat adalah milikku sepenuhnya. Aku duduk menyendiri di bangku taman dinaungi pucuk-pucuk pohon. Buku Fisika terbuka lebar di pangkuanku. Semilir angin pagi membuatku cepat menyerap materi pelajaran. Damai sekali...
Tiba-tiba, beban berat menekan kursi di sampingku. Nico! Dia duduk di sampingku dengan santai. Tanpa permisi, tanpa bicara.
Uh, situasinya jadi awkward. Seperti dua orang asing yang duduk bersebelahan di kereta. Lewat sudut mata, aku memberi tatapan protes: sedang apa kamu di situ?!
Bukannya pergi, Nico justru memamerkan senyum miring yang menyebalkan itu. Aku langsung curiga setengah mati. Gerry! Si kakak nista itu pasti membocorkan sesuatu yang memalukan tentangku. Kalau begini, mau kutaruh mukaku di mana?!
Aku buru-buru mengalihkan perhatian, kembali menatap buku Fisika seolah-olah cowok di sampingku hanya halusinasi di siang bolong. Namun, ketenangan itu hanya bertahan tiga detik.
"Cewek bawel," suaranya agak berat dan santai. "Nyanyi, dong."
Aku menoleh sekilas dengan dahi berkerut. "Untukmu? Tidak, ah."
Tiba-tiba, dia mencondongkan tubuhnya. Dekat sekali sampai aku bisa mencium aroma tipis parfumnya yang maskulin.
"Sudah kuduga. Suaramu jelek, ya?" bisiknya.
Aku menatap matanya dengan harga diri terluka. Maaf? Aku ini anak paduan suara. Dia kemarin melihatku tampil di sekolah. Dia hanya ingin mengganggu! Jadi, aku permainkan saja.
"Iya jelek. Jeleeek banget!" ucapku mendramatisir.
Nico terdiam sejenak, lalu senyumnya melunak, "Tak apa. Aku suka kok suara yang jelek."
Alisku terangkat sebelah, "Su... suka?"
"Iya," ia terkekeh kecil, "Suka pengen ngetawain. Pfftt, hahahaha!"
Kugigit bibirku, berusaha menahan tawa yang meronta-ronta. Namun, melihat bahunya berguncang dan tertawa lepas, sial. "Aha... Ahahaha!" Tawaku akhirnya pecah juga, tertawa bersama dia.